
Kan aku juga sudah bilang, sabar dululah Dek aku juga usaha, aku juga udah muter nyari kerja tapi emang belum dapat, kamu harusnya dukung bukan malah marah-marah gitu, mungkin memang belum rezeki kita."
"Ya gimana dong Mas, aku ini kan lagi hamil masak kita gak ada pegangan uang sama sekali besok kalo tiba-tiba lahiran gimana, iya kalo lahiran normal bisa pake jaminan lha kalo harus Cesar gimana Mas?"
"Ini juga masih nunggu uang pembayaran bonsai sama burung yang aku jual borongan itu, nanti uangnya bisa untuk jaga jaga lahiran insyaallah juga masih bisa banyak, dan satu lagi kamu harusnya mikir yang positif positif dek, lagian biar lahiran normal ya kamu beraktifitas lah dek jangan cuman tiduran terus, itu justru gak bagus buat perkembangan janin."
"Lagian lama banget sih Mas pembayarannya keburu aku bener bener gak ada uang nih, Mas itu gak ngerasain orang hamil itu gimana sih, ini juga bawaan bayi aja pengen dibawa rebahan terus."
"Ya mana mungkinlah Dek, aku ini kan laki-laki, tapi kan aku pernah dampingi orang hamil juga jadi sedikit tau gimana sebaiknya orang hamil itu, dulu waktu Asiyah hamil juga kami hidup serba pas-pasan, waktu itu dia juga bisa melewatinya gak pake manja-manja segala, makan juga lauk seadanya, gak ada ngidam yang aneh-aneh juga."
"Mas kok jadi banding bandingin aku sama Mbak Asiyah sih."
"Bukan maksudku bandingin Dek maksutku itu biar kamu ambil pelajaran gitu."
"Terserahlah Mas capek aku berdebat terus, istri lagi hamil bukanya dimanjain malah disuruh gigit jari boro-boro beliin makanan enak ini malah suruh berhemat."
Rumi berlalu begitu saja dari sampingku, selalu saja seperti ini, 2 hari dikontrakan Rumi dan aktifitasku hanya berdebat terus sepanjang hari. Aku rasa besok aku harus lebih giat mencari kerja lagi, kerja apapun yang terpenting paling tidak aku mendapat sedikit pemasukan.
Pening sekali kepalaku, ibu tadi juga baru telefon katanya uangnya habis dan minta kiriman, matilah aku mau dikirim uang darimana sedang untuk beli bensin saja aku tak punya, Rumi kemaren juga bilang kalo belum kirim uang untuk orang tuanya dikampung aku jawab libur dulu untuk bulan ini, lagian kan mereka tinggalnya dikampung yang biasanya sayuran tinggal metik dikebon jadi kalo kepepet gak tak kirim uang juga gak bakalan mati kelaparan kan?
Rasanya ingin kubenturkan saja kepalaku ke tembok. Sekilas terbayang betapa bahagianya kehidupanku dulu sebelum ini terjadi, mungkin ini memang karma untukku. Aku jadi teringat kata kata Asiyah kemaren, apakah dia benar benar ingin bercerai? Membayangkan saja sepertinya sudah tidak sanggup apalagi kalau benar benar kehilangan dia, entah seperti apa jadinya, semoga saja rumah tangga ini masih bisa dipertahankan.
Aku berniat untuk membuat kopi sendiri, meminta tolong Rumi akan lebih repot nanti, bukan kopi yang kudapat melainkan hanya berakhir dengan perdebatan.
__ADS_1
Ketika sampai di dapur aku mendengar Rumi seperti berbicara dengan seseorang, tapi dimana dia. Setelah kucari ternyata duduk dibelakang rumah suara yang awalnya samar samar kini sudah jelas.
"Iya iya aku janji kok."
. . . . .
"Kapan ya nanti aku kabari lagi jadwalnya."
. . . . .
"Hahahaha ya gak bakalan kamu kan juga tahu aku sayang kamu."
"Eh ada Mas Imam, sejak kapan mas disitu?" Rumi terlihat sedikit gelagapan, sepertinya dia kaget.
"Sejak tadi kamu bilang sayang sayang itu sama seseorang, ada suami bukannya ditemani malah ditinggal sayang sayangan sama orang lain."
"Itu barusan telfon adekku mas yang dikampung, dia pengen aku pulang makanya tadi aku bilang aku janji nanti kalo ada waktu aku atur jadwalnya, eh dia malah gak percaya katanya aku pasti bohong lagi kayak bulan kemaren gak pulang, ya aku yakin aja kalo aku sayang sama dia jadi gak mungkin bohong, udahlah mas, mas kok jadi curigaan gini,nihhh kalo gak percaya mau lihat gak?
"Iya iya aku percaya kok."
"Ya sudahlah mas sini tak buatkan kopi aja daripada ngelantur terus."
Aku sempat berpikiran yang tidak tidak tadi tapi ternyata hanya telfon adeknya syukurlah kalo begitu.
__ADS_1
Aku kembali duduk didepan tv karna kopi sudah dibuatkan oleh Rumi, malam ini rasanya gak pengen makan, entahlah malas sekali, aku lebih baik duduk sambil menyeruput kopi ku saja, beruntungnya aku bukan perokok coba saja kalau aku perokok pasti sudah bingung gak ada dana buat beli rokok.
Lagi asik asiknya santai didepan tv sambil minum kopi tiba tiba hpku berdering, kulihat dilayar nama istriku yang menelepon, tumben tumbenan ada apa Asiyah malam malam begini telfon pikirku.
"Halo Assalamu'alaikum ada apa Dek?"
. . . . .
"Astaghfirullohaladzim, kenapa dek memangnya"
. . . . .
"Ya ya Mas segera kesana tolong share lokasi rumah sakitnya ya dek.""
. . . .
"Iya wa'alaikumussalam."
"Dari Mbak Asiyah ya Mas? ada apa malam-malam gini telfon, kok kayaknya mas sampe kaget gitu."
"Ayesa masuk rumah sakit, aku harus kesana sekarang."
"Astaga kenapa memangnya Mas?"
__ADS_1
"Aku juga belum tau pastinya katanya disekolah tiba tiba pingsan, dek boleh pinjam uang dulu gak, 25ribu saja please buat ngojek."
"Ya elah mas gak modal banget deh ah, sebentar tak ambilkan tapi ingat ya diitung utang dan kalo bukan karna Ayesa yang lagi sakit juga aku gak bakalan kasih pinjam ini"