
Malam ini malam terakhir mas Imam ada dirumah wanita itu.
Malam ini aku memilih tidur dikamar Ayesa. Aku sudah sedikit terbiasa tanpa kehadiranya karna dulu mas Imam juga sering pergi, mencari bonsai kegunung gunung katanya.
Sekarang setelah semuanya terbongkar aku sering mencocok-cocokkan keadaan.
Aku ingat waktu itu ketika dia pamit pergi selama dua minggu aku sempat memberondongnya dengan beberapa pertanyaan, bagaimana tidak? mencari bonsai saja sampai harus menginap dua minggu padahal dulu sehari saja bisa dapat, tapi alasan yang kudapat cukup meyakinkan, tadinya kupikir dia benar\-benar pergi karna sebelum berangkat ada teman lelaki yang menghampiri, aku toh percaya saja kalau suamiku pergi bersama lelaki itu.
Malam harinya seperti biasa aku menemani Ayesa bermain sambil menonton televisi, biasanya dijam-jam itu Rumi sedang di kamarnya tapi malam itu dia ikut duduk bersamaku, tiba-tiba ada telefon dan dia terlihat kaget, Rumi cerita kalau ibunya tiba-tiba sakit parah dan pamit pulang malam itu juga.
Aku toh percaya saja kalau dia pamit pulang karna aku jelas menyaksikan dia sedang ditelefon seseorang, yang membuatku agak kebingungan dia bilang dia izin pulang satu bulan.
__ADS_1
Sekarang baru aku sadari rupa rupanya itu hanya persekongkolan mereka saja, karna setelah dua minggu pergi mas Imam memang pulang dan hanya sehari saja dirumah selanjutnya dia pamit pergi lagi, dia pulang dua hari sebelum Rumi kembali bekerja.
Aku sama sekali tidak curiga, bahkan waktu itu aku memberi uang saku lima juta untuk Rumi, kukatakan padanya untuk pengobatan ibunya, sakarang kusesali itu karna aku yakin mereka pasti hanya menggunakanya untuk bersenang-senang.
Dan satu hal yang membuatku sedikit bingung akhir-akhir inipun terjawab juga,pantas saja rasanya pengeluaran kami membengkak setahun belakangan, rupanya digunakan untuk memanjakan istri baru Mas Imam.
Ya dari dulu Mas Imam memang tak pandai mengatur keuangan, jika merasa ada sedikit saja uang pasti selalu menghabiskanya.
Saat susah dulu aku kadang sengaja menyimpang uang dibelakangnya, sebenarnya bukan maksutku untuk membohongi suamiku sendiri, hanya saja jika Mas Imam tau kalau aku memegang uang barang sepuluh ribupun dia akan meminta membeli ini dan itu.
Mati-matian aku berhemat tapi justru suamiku malah menghabiskan uangnya.
__ADS_1
Aku ingat betul waktu akhirnya aku memutuskan untuk mencoba berjualan donat keliling, waktu itu Ayesa masih kecil, kami baru pulang dari rumah ibuku, aku sengaja memilih main kesana daripada ibu yang datang karna aku yakin ibu tidak akan tahan melihat kehidupan kami, seperti biasa ibu memberi uang 20ribu pada genggaman tangan Ayesa dan ibu juga membawakanku beberapa bahan makanan pokok, aku benar-benar bersyukur karna itu sungguh sangat berarti untuk keluarga kecil kami.
Mas Imam awalnya ingin meminta separuh uang pemberian ibu untuk Ayesa tadi, tapi aku menjelaskan kalau aku ingin menggunakanya untuk usaha membuat donat, meski awalnya Mas Imam terlihat ragu namun akhirnya dia setuju uang 20ribu itu digunakan untuk modal.
Ah dasar Mas Imam saja yang tidak pandai mengatur keuangan, dia tidak tau kalau waktu itu aku mempunyai setumpuk receh berjumlah 10ribu, kukumpulkan receh demi receh untuk simpanan, beruntung Mas Imam tidak mengetahuinya kalau dia tau sudah pasti receh itu akan diambilnya, akhirnya recehan itu bisa kugunakan untuk tambahan modal. Beruntung ibu membawakanku minyak sekilo dan gula jadi lumayan tidak perlu membeli minyak lagi.
Akhirnya berbekal uang 30ribu aku belanja kewarung, kubelikan bahan membuat donat dan ternyata uangku masih kurang 2ribu, ibu toko meminta diganti donat saja katanya, aku senang sekali waktu itu karna tidak perlu berhutang dan hitung hitung donatku sudah laku 2biji.
Mas Imam selalu bangga katanya dengan modal 20ribu aku bisa membuat toko kue ini, dia bahkan mamajang uang 20rbuan diruang tamu sebagai kenangan, ahh dia tidak tahu saja kalau modal sebenarnya bukan segitu.
Kepada Ayesa kemaren kukatakan jujur bahwa aku memulai berusaha dengan modal 30ribu dan waktu itu kulihat Mas Imam sedikit kaget tapi tak berani menyangkal karena dia masih sangat bersalah waktu itu, dan yang tidak mereka tahu sebenarnya modal awalku 32ribu tapi 2ribu hasil barter dengan donat.
__ADS_1
Mengingat itu aku tersenyum-senyum sendiri, salah satu kenangan yang selalu bisa membuatku tersenyum saat aku mengingatnya.
Dulu awalnya aku menjajakan keliling donat donat itu. Aku berkeliling sambil menggendong Ayesa karna mas Imam masih sibuk mencari kerja meskipun tak kunjung diterima. Sampai akhirnya aku menitipkan daganganku ke berbagai toko dan mempunyai beberapa reseller.