
Ketika memasuki ruang obrolan, Feliks langsung melihat obrolan di dalam sedang heboh.
Deon Daniela: “Teman-teman, kami baru saja berhasil membunuh binatang buas Lv. 5 dan sedang dalam perjalanan membunuh yang ketiga. Kalau kalian menemukan binatang buas keempat, segera laporkan titik koordinatnya!”
Adam Caleb: “Titik koordinat 737.490. Ada seekor binatang buas Lv. 5 di sini. Kami 7-8 orang sedang berusaha menahannya!”
Fairuz Gauhar: “Titik koordinat 832.335, di sini juga ada seekor binatang buas Lv. 5!”
Santo Antonio: “Titik koordinat 927.282, di sini ada dua ekor binatang buas Lv. 5! Mengerikan sekali! Kami sedang bersembunyi di sekitar dan tidak berani sembarang bertindak!”
Sani Louis: “Bagus! Bagus! Binatang buas kali ini jauh lebih mudah ditemukan dari pada duel sebelumnya!”
Deon Daniela: “Tentu saja! Ini jelas karena sumber daya kita sudah berlipat ganda setelah memenangkan duel sebelumnya!”
Yoga Setiawan: “Haha! Sumber daya yang berlipat ganda, benar-benar luar biasa! Tanpa basa-basi lagi, kami akan segera meluncur!”
“Benar! Tiga kakak, cepat serbu ke sana! Cepat bunuh binatang-binatang buas Lv. 5 itu untuk membantu Kak Feliks!”
“Demi Kak Feliks, kami akan berjuang keras!”
“Tidak hanya demi Kak Feliks, tapi juga demi kita sendiri!”
“Yang di atas, kali ini selain memengaruhi nama baik desa kita, tapi juga memengaruhi martabat kita, orang Indonesia! Anjing-anjing di ruang obrolan regional itu masih menantikan pertunjukkan lucu untuk mengejek kita!”
“Benar sekali! Kita tidak boleh kalah dalam duel ini! Ayo berjuang bersama!”
“Haha!! Aku menemukan satu rumput Lv. 1!”
“Aku juga menemukan satu!”
“Di mana titik koordinatmu? Aku pergi cari kamu. Kita kumpulkan saja dulu. Setelah mencapai 3 pokok, baru kita serahkan kepada Kak Feliks.”
“Aku di area binatang buas Lv. 2, titik koordinat 321.478!”
“Oke! Aku segera ke sana!”
Membaca sampai sini, Feliks menjadi sangat bersemangat.
Orang Indonesia itu memang kompak!
Demi satu desa ini, demi martabat bangsa Indonesia, semuanya bahkan rela mengorbankan keuntungan pribadi tanpa pamrih!
Memikirkan ini, Feliks menjadi sangat terharu. Namun, pada saat yang sama, avatar Johan Rahmadi melompat.
Johan Rahmadi: “Waduh! Kalian semua berusaha sekali! Bagaimana kalau nanti tetap kalah, ya? Kalian harus tahu, loh~ Semakin besar harapan, semakin besar juga kekecewaan!"
__ADS_1
Yoga Setiawan: “Johan Rahmadi! Kau bisa diam saja tidak?! Kau tidak berbicara juga tidak akan dikira bisu!
Johan Rahmadi: “Haih! Aku hanya terus terang, loh! Lawan kita benar-benar terlalu kuat! Mereka juga lumayan kompak, bahkan ada banyak orang yang sedang bantu Amir cari binatang buas.”
Johan Rahmadi: “Kita di sini malah aneh. Feliks tidak meminta kita bantu cariin binatang buas, malah hanya meminta mayat dan tanaman. Permintaan ini benar-benar aneh! Menurutku…”
Yoga Setiawan marah: “Menurutmu, apa? Kau kira Feliks itu sama seperti kau? Sama sekali tidak ada rasa patriotisme?!”
Johan Rahmadi: “Eh… maksudku bukan begitu! Aku hanya bingung dengan permintaan anehnya Feliks. Kita hanya bisa naik level dengan membunuh binatang buas. Jadi, seharusnya kita mencari binatang buas yang hidup, ‘kan? Untuk apa dia mencari mayat?”
Johan Rahmadi: “Ada lagi yang lebih tidak masuk akal. Apa tujuan dia mencari tanaman dan rumput? Memangnya itu bisa bantu dia naik level?”
Begitu Johan Rahmadi mengatakannya, semua orang pun curiga. Namun, ada juga yang membalasnya dengan cepat.
Yoga Setiawan: “Johan Rahmadi, Kak Feliks mengatur seperti ini pasti ada alasannya. Dia ‘kan sudah bilang! Kondisi sekarang sangat darurat, duel ini berpacu dengan waktu. Dia tidak sempat untuk menjelaskannya! Kini yang harus kita lakukan itu bekerja sama dengannya!”
Adam Caleb: “Benar! Johan, kamu kalau tidak mau membantu, ya, diam saja! Jangan berkoak-koak di sini dan bikin orang kesal!”
Johan Rahmadi: “Apa! Aku hanya bingung dan mengungkapkan pendapat pribadiku! Eh! Gila! Aku menemukan satu rumput Lv. 1. Haha!”
Johan Rahmadi: “Orang yang tadi menemukan rumput Lv. 1, kalian di mana, ya? Ayo kumpulkan rumput kita dan tukarkan ini dengan Kak Feliks!”
Yoga Setiawan: “… Kau ini! Hanya mulut kau saja yang menyebalkan!”
Melihat sampai sini, Feliks hanya menggeleng dengan pelan.
“Haha!! Orang Indonesia lucu sekali! Mereka sekelompok orang terus berburu binatang buas Lv. 5, lalu menukarkannya kepada seseorang yang Bernama Feliks Jyan!”
“Ya ampun! Naik level bukannya harus bunuh binatang buas hidup? Untuk apa dia cari mayat? Orang Indonesia itu idiot, ya?”
“Haih! Orang Indonesia ‘kan selalu bodoh! Sama seperti di Bintang Biru, negara mereka bahkan 20 tahun di belakang kita.”
“Cuih! Orang Indonesia mana ada sesuatu yang bisa dibanding dengan kita? Benar-benar orang Indonesia yang menyedihkan!”
“Benar! Kita lah negara terkuat di Asia!”
Melihat ini, Feliks ingin tertawa. Benar-benar orang India yang percaya diri dengan misteri.
“Wah! Semuanya, coba tebak apa yang telah kutemukan? Aku menemukan seekor binatang buas sapi yang membuang segumpal besar kotoran. Kelihatannya sangat segar!”
“Astaga! Kotoran sapi! Ini hadiah dari Dewa Syiwa! Yang di lantai atas, kamu harus simpan kotoran sapi itu dengan baik. Itu bisa menyembuhkan segala penyakit!”
“Huhu! Aku iri sekali! Aku benar-benar iri! Kenapa aku tidak seberuntung itu? Kenapa aku tidak bertemu segumpal besar kotoran juga?”
Melihat sampai di sini, Feliks merasa sedikit jijik.
__ADS_1
Orang India ini sungguh geli!
Pada saat yang sama, avatar si Salman itu pun bergerak.
Salman: “Semuanya, aku ingin melaporkan progress terbaru Tuan Amir. Kini dia sudah mencapai Lv. 7 (1860/18000).”
Begitu kata-kata ini terkirim, seluruh ruang obrolan menggila.
“Astaga! Ini baru 2 jam, Tuan Amir sudah memiliki kemajuan sebesar itu!”
“Iya! Tuan Amir memang luar biasa!”
“Tuan Amir memang seorang biksu pertapa yang kuat!”
“Dia juga terlahir di keluarga Kshatriya yang mulia. Mustahil sekali bagi seorang paria untuk meraih pencapaian yang begitu besar. Dia benar-benar hebat!”
“Tuan Amir! Kami mengagumkanmu!”
“Oh, iya! Bagaimana dengan progress orang Indonesia di sana?”
“Tidak tahu juga! Mereka sepertinya menggantungkan seluruh harapan pada seseorang yang bernama Feliks Jyan!”
“Orang Indonesia tidak pernah meminum air suci sungai Gangga. Feliks itu jelas sekali tidak sebanding dengan Tuan Amir!”
“Setahuku, saat awal duel dimulai, Feliks itu baru mencapai Lv. 6, harusnya sekarang masih di Lv. 6!”
“Haha! Tuan Amir kita sudah mencapai Lv. 7 (1860/18000) sekarang! Dia sudah meninggalkan Feliks itu jauh di belakang.”
“Kurasa saat Tuan Amir meraih Lv. 8, Feliks itu juga belum tentu bisa mencapai Lv. 7!”
“Tentu saja!”
“Kali ini, kita pasti menang! Haha!”
Kini seluruh ruang obrolan sudah bersorak dengan gembira. Orang India terus tertawa dengan keras, seolah-olah mereka sudah pasti akan menang.
Feliks yang membacanya terus bergeleng. Dirinya benar-benar tidak mengerti dari mana kepercayaan diri orang India yang misteri ini berasal?
Progres dirinya sudah mencapai Lv. 7 (4980/18000), jelas jauh lebih cepat dari si Amir.
Orang-orang India yang sok hebat, sudah mau sekarat pun tidak tahu diri.
Memikirkan ini, Feliks pun keluar dari ruang obrolan.
Dirinya harus segera naik level dan memenangkan duel ini!
__ADS_1
Dirinya mau melihat orang India kalah dalam duel ini, lalu kehilangan atribut dan sumber daya.
Lihat saja, apa mereka masih bisa tertawa?!