
Daka menghembuskan nafasnya dengan perlahan kemudian menatap wajah cantik istrinya. Daka menjentikkan jarinya sebanyak dua kali kemudian tiba-tiba datang dua puluh anak buahnya dan berjalan ke arah Daka.
"Kosongkan ruangan ini," perintah Daka.
"Baik tuan," jawab para bodyguardnya.
Bodyguard tersebut memerintahkan semua penghuni lantai satu namun dilarang oleh Venisa.
"Jangan, mereka ingin berobat lebih baik kita bicara di tempat yang tidak di dengar orang lain," ucap Venisa.
"Baiklah, kalau begitu kita bicara di ruangan ku" ucap Daka.
"Ruangan kak Daka?" tanya ulang Venisa.
"Ya benar, rumah sakit ini milik ku," jawab Daka.
Venisa hanya menganggukkan kepalanya kemudian mereka berjalan ke ruangan Daka. Daka yang ingin memeluk istrinya hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan perlahan pasalnya Venisa tidak mau di peluk.
Kini mereka sudah sampai di ruangan Daka. Daka dan Venisa duduk saling berhadapan hanya di batasi oleh meja kemudian Daka mulai menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutup - tutupi dari awal dirinya meminta Veni untuk bertemu di hotel hingga dirinya tidur bersama Venisa termasuk Veni memberikan obat untuk Venisa.
Venisa yang mendengarnya hanya diam sambil menunggu Daka selesai bercerita namun air matanya mengalir karena dirinya tidak menyangka adik kembarnya sangat jahat padanya.
"Itulah yang terjadi," ucap Daka mengakhiri ceritanya.
"Kak Daka tahu, ketika kita melakukan hubungan suami pertama kali aku sangat sedih karena kak Daka bukan pria pertama yang menyentuh tubuhku dan aku selalu merasa tidak pantas mendapatkan pria sebaik dirimu," ucap Venisa.
__ADS_1
"Setiap malam aku menangis karena merasa diriku kotor tidur bersama pria asing dan suamiku yang sangat sempurna mau menerimaku wanita yang sudah kotor ini," sambung Venisa.
"Jika saja saat itu kak Daka bilang padaku aku tidak dihantui rasa bersalah karena tidak bisa menjaga kehormatan ku dan menganggap diriku wanita kotor," sambung Venisa lagi dengan air mata tidak berhenti keluar.
Daka berjalan ke arah Venisa kemudian berlutut sambil menggenggam tangan Venisa.
"Maafkan aku, saat itu aku ingin mengatakan padamu tapi aku takut kamu marah dan membenciku. Kita sama - sama korban dari adik kembar mu," ucap Daka.
"Aku ingin kak Daka jujur padaku, siapa yang kak Daka cintai aku atau adik kembar ku? Ingat aku tidak suka dibohongi lagi," ucap Venisa.
"Jujur aku ada perasaan dengan Veni sebelum kejadian tersebut namun setelah kejadian tersebut perasaanku langsung hilang ketika Veni membohongi diriku dan juta tega menjebak kita. Seiring berjalannya waktu aku mulai menyukaimu dan kamu sangat berbeda dengan Veni atau wanita lain," jawab Daka.
"Jika ada wanita yang sangat cantik, seksi dan lebih segalanya dariku kemungkin besar suamiku meninggalkan aku dan menikah dengan wanita lain," ucap Venisa.
"Itu tidak mungkin karena aku sangat mencintaimu dan di hatiku dipenuhi nama istri yang aku cintai jadi tidak ada tempat untuk wanita lain baik sekarang, besok, lusa atau pun yang akan datang," jawab Daka.
"Duduklah di sebelah ku," ucap Venisa sambil menarik tangan Daka.
Daka tersenyum kemudian berdiri lalu duduk di samping istrinya.
"Aku tidak membutuhkan itu semua karena yang aku butuhkan kak Daka setia padaku dan jangan pernah melukai hatiku karena jika itu terjadi aku akan pergi dari kehidupan kak Daka," ucap Venisa dengan tegas.
Grep
"Aku laki - laki bo doh jika melepaskan dirimu karena aku sangat mencintaimu,'' ucap Daka sambil memeluk istrinya.
__ADS_1
''Aku juga sangat mencintaimu tapi aku mohon jangan membohongi aku lagi karena aku tidak suka dibohongi,'' jawab Venisa sambil membalas pelukan Daka.
("Mengenai aku ketua mafia maaf saat ini aku belum bisa mengatakannya namun jika saatnya tepat aku pasti akan mengatakannya," ucap Daka dalam hati).
Setelah beberapa saat mereka melepaskan pelukannya kemudian Daka mengecup kening istrinya dengan lembut.
''Terima kasih kamu sudah hadir dalam kehidupan ku dan aku akan selalu menjagamu," ucap Daka.
"Aku juga terima kasih kak Daka hadir dalam kehidupanku," ucap Venisa.
"Kok masih kak Daka?" tanya Daka dengan wajah di tekuk.
"Maaf darling, kita ke ruangan dokter kandungan yuk," ajak Venisa sambil turun dari sofa.
"Ayo sayang," jawab Daka sambil ikut turun dari sofa.
Venisa berjalan sambil membalas pelukan suaminya membuat Daka tersenyum bahagia namun baru beberapa langkah kepala Venisa terasa pusing membuat Venisa menghentikan langkahnya.
"Darling kepalaku pusing," ucap Venisa sambil menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.
"Pusing kenapa sayang?" tanya Daka sambil menghentikan langkahnya dan memeluk istri mungilnya dari arah depan dengan wajah kuatir.
Bruk
"Tidak tahu kenapa kepalaku pusing seka ..." ucapan Venisa berhenti bersamaan Venisa tidak sadarkan diri.
__ADS_1
"Venisa!!" teriak Daka dengan wajah kuatir