
"Baik Bu," jawab Venisa.
Venisa meminum air mineral dengan menggunakan sedotan hingga menyisakan setengah gelas. Selesai meminum Ibunya Venisa meletakkan gelas tersebut ke atas meja.
"Maaf, aku dan istriku ingin berkunjung ke mansion Dennis," ucap Rey yang malas bertemu dengan sepasang suami istri yang tidak tahu malu.
"Ok, hati-hati di jalan," jawab Daddy David yang mengerti kalau sahabatnya tidak menyukai besannya.
Sandra cipika-cipiki dengan Mommy Karen kemudian berlanjut ke Daka dan Venisa mengecup punggung tangan Sandra secara bergantian sedangkan dengan ke dua orang tua Venisa hanya bersalaman. Untuk Rey, Rey hanya bersalaman dengan Mommy Karen, Daddy David dan Daka kemudian pergi meninggalkan ruangan tersebut tanpa berpamitan dengan Venisa dan orang tuanya.
("Kenapa Paman Rey, tidak berpamitan denganku? Apa aku melakukan kesalahan?" tanya Venisa dalam hati).
("Pria itu sombong banget, awas aja kalian akan aku buat kalian miskin dan berlutut di depanku," ucap ke dua orang tua Venisa dalam hati).
("Aku tahu Paman Rey sangat membenci ke dua orang yang tidak tahu malu itu. Venisa, aku memang mencintai dirimu tapi maaf jika kamu lebih memilih keluargamu maka kita berpisah dan untuk ke dua anak kita akan aku rawat seorang diri karena aku tidak akan menikah lagi karena aku trauma untuk mencintai seorang wanita lagi," ucap Daka dalam hati).
"Oh ya nak Daka, kami ingin melakukan kerjasama dengan nak Daka," ucap Ayahnya Venisa.
__ADS_1
"Kerja sama dalam bidang apa?" tanya Daka.
"Ekspor impor dalam bidang kosmetik," jawab Ayahnya Venisa.
"Berapa keuntungan yang aku dapat?" tanya Daka tanpa basa basi.
"Bagaimana kalau keuntungannya tiga puluh persen untuk nak Daka sedangkan Ayah mendapatkan keuntungan tujuh puluh persen," jawab Ayahnya Venisa tanpa punya rasa malu sedikitpun.
"Kerja sama itu membutuhkan uang yang sangat besar, berarti Ayah menanam modal tujuh puluh persen sedangkan aku tiga puluh persen. Benar begitu Ayah?" tanya Daka.
Daka sudah tahu apa jawaban Ayah mertuanya namun Daka ingin agar istrinya dapat mendengar dengan jelas akan sifat tamak ke dua orang tuanya. Daddy David hanya mendengarkan percakapan putranya dengan besannya tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.
"Lalu berapa persen aku harus menanam modal ku?" tanya Daka pura-pura tidak tahu.
"Seratus persen," jawab Ayahnya Venisa tanpa punya rasa malu terhadap ke dua besannya dan menantunya.
"Apa Ayah tidak salah?" tanya Venisa yang tadi diam mendengarkan suaminya dan Ayahnya mengobrol dengan wajah terkejut dengan ucapan Ayahnya.
__ADS_1
"Tidak, memangnya kenapa?" tanya Ayahnya tanpa dosa.
"Ayah, dimana-mana kalau ingin mendapatkan keuntungan tujuh puluh persen maka Ayah juga menanamkan modalnya tujuh puluh persen," jawab Venisa sambil bangun dari ranjangnya dan kemudian duduk dengan di bantu suaminya.
"Itu kalau orang luar sedangkan Ayah bukan orang luar," ucap Ayahnya sambil menahan kesal terhadap putrinya.
"Walau itu orang luar atau orang dalam tetap saja Ayah," ucap Venisa yang merasa tidak enak hati dengan suaminya dan ke dua mertuanya.
"Venisa, aku ini Ayahmu seharusnya kamu mendukung apa yang dilakukan oleh Ayahmu," ucap Ayahnya sambil menatap tajam ke arah Venisa.
"Venisa akan dukung apapun keinginan Ayah asalkan tidak merugikan ke dua belah pihak," jawab Venisa.
"Venisa, kamu itu putri kami seharusnya kamu itu menuruti permintaan ke dua orang tuamu." ucap Ibunya.
"Venisa akan turuti semua permintaan Ibu dan Ayah tapi dalam hal ini maaf Venisa tidak bisa," ucap Venisa dengan tegas.
"Ingat Venisa, kamu bisa menikah dengan Daka itu karena adikmu mau merelakan kekasihnya untuk menikah denganmu." ucap Ibunya.
__ADS_1
"Merelakan? Apa Ayah dan Ibu tahu kalau Veni dengan sengaja menjebak ku agar aku tidur dengan kak Daka. Kalau saja kak Daka tidak bertanggung jawab, kami tidak mungkin bisa menikah," jawab Venisa dengan tatapan amarah dan kecewa secara bersamaan karena ke dua orang tuanya selalu membela, suka membandingkan dan menyayangi Veni dari pada dirinya.
"Kami melakukan ini semua untuk biaya pengobatan adikmu yang lumpuh dan tidak bisa bicara," ucap Ibunya Venisa sambil melirik sinis ke arah Daddy David dan Daka.