
Daddy David dan Daka serempak memalingkan wajahnya ke arah samping sambil tersenyum.
"Daddy, bagaimana keadaan Mommy?" tanya Dave putra ke tiga pasangan dari Daddy David dan Mommy Karen sambil berjalan ke arah mereka.
"Belum tahu, kami masih menunggu," ucap Daddy David.
"Kalau kak Venisa?" tanya Dave sambil menatap kakak pertamanya.
"Sama, kami juga menunggu," jawab Daka.
Ke tiga pria tampan tersebut menghembuskan nafasnya dengan perlahan dan tidak berapa lama pintu ruang ugd terbuka membuat ke tiga pria tampan tersebut berjalan ke arah pintu yang terbuka dan tampak dua orang dokter sedang menunggu mereka.
"Bagaimana keadaan istriku Dok?" tanya Daddy David.
"Bagaimana keadaan Mommy dan istriku Dok?" tanya Daka bersamaan.
"Bagaimana keadaan Mommyku Dok?" tanya Dave yang juga bersamaan.
"Pertama untuk Nyonya David, Selamat tuan istri tuan hamil," jawab dokter pertama.
"Apa hamil?" tanya ke tiga pria tampan tersebut dengan wajah terkejut.
"Iya benar, untuk mengetahui usia kandungan bisa di periksa ke dokter kandungan," jawab dokter tersebut.
"Oh ya kenapa tadi istriku pingsan?" tanya Daddy David.
"Kemungkinan stres karena memikirkan yang berat jadi tolong diusahakan jangan memikirkan yang berat-berat." ucap dokter tersebut.
Daddy David hanya menganggukkan kepalanya dan dirinya mengerti karena dari semalam hingga pagi istrinya tidur hanya sebentar karena memikirkan Daka.
"Untuk istriku bagaimana?" tanya Daka.
"Untung tuan datang tepat patut jadi Ibu dan janinnya bisa diselamatkan," jawab dokter ke dua.
Daka hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti dalam hatinya sangat bersyukur karena dirinya cepat - cepat datang ke rumah sakit.
"Oh ya, ruang perawatan nya mau disatukan atau terpisah?" tanya dokter pertama sambil sekali - sekali melirik ke arah Dave karena dirinya tahu kalau Dave belum menikah tapi sayang wajah Dave datar dan tidak menatap dirinya sama sekali.
"Lebih baik satukan saja," ucap Daddy David.
"Baik, sebentar lagi akan dipindahkan ke ruang perawatan," ucap dokter tersebut.
"Kalau begitu kami pamit mau mengecek pasien lainnya," sambung dokter ke dua.
Ke tiga pria tampan hanya menganggukkan kepalanya dan ke dua dokter tersebut pergi meninggalkan ke tiga pria tampan tersebut.
"Dave, satu steel pakaian milikmu mana?" tanya Daddy David yang melihat putra ke tiga nya tidak membawa apa-apa.
"Astoge Dad, Dave lupa tadi Dave langsung ke rumah sakit dan tidak bawa pakaian," jawab Dave usil.
"Dave!!" teriak Daka dengan nada setengah oktaf.
"Hehehe ..." tawa Dave sambil menjentikkan jarinya.
Seorang bodyguard datang sambil membawa dua paper bag kemudian diberikan ke Daka setelah selesai bodyguard tersebut pamit kemudian pergi meninggalkan ke tiga pria tampan tersebut yang wajahnya sangat mirip.
"Lain kali akan aku balas," ucap Daka sambil menatap tajam ke arah adiknya dan menerima dua paper bag tersebut.
"Hehehe... Jangan donk kak, Dave kan hanya bercanda," ucap Dave.
"Bercandamu ngga lucu," jawab Daka yang masih menatap tajam ke arah adiknya.
"Sudah - sudah lebih baik kamu ganti pakaian, nanti adik kecilmu masuk angin karena ngga di kurung," ucap Daddy David sambil menahan tawa.
"Pfftttt hahahaha..." tawa pecah Daddy David dan Dave serempak kemudian saling tos.
"Aish Daddy dan Dave nyebelin," ucap Daka kesal sambil berjalan meninggalkan mereka berdua.
"Ada yang marah," ucap Dave.
"Dave," panggil Daka kesal sambil menghentikan langkahnya.
"Ada apa Kakak ku sayang?" tanya Dave.
"Lain kali kalau ada kesulitan di perusahaan Kakak tidak akan membantu," ucap Daka sambil melanjutkan langkahnya.
"Maaf kak, aku kan hanya bercanda," ucap Dave.
Daka tidak memperdulikannya, Daka tetap berjalan ke ruang perawatan dan banyak para gadis dan wanita menatap Daka dengan tatapan lapar mengingat tubuh atletis Daka terlihat dengan jelas membuat mereka mengkhayal jika mereka berada di ranjang.
Daka yang sangat mencintai istrinya tidak perduli tatapan para gadis dan wanita walau mereka berusaha untuk mencari perhatian.
"Daddy, masa Dave sudah besar seperti ini punya adik bayi," ucap Dave sambil berjalan ke arah ruang perawatan.
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Sambil menunggu up silahkan mampir ke karyaku dengan judul :
__ADS_1
" Si*l kenapa rencanaku tidak berhasil? Apa kelebihan wanita murahan itu sehingga ada orang yang membelanya." umpat wanita cantik itu sambil membanting semua barang.
" Apa - apaan ini?" teriak seorang pria tiba - tiba datang
Wanita itu menatap tajam ke arah pria yang sangat jelek wajahnya yang rusak akibat obat keras yang dilakukan oleh ibu tirinya waktu pemuda itu berumur dua belas tahun.
Plak Plak
" Sudah aku bilang jangan menatapku dengan tatapan yang menjijikkan itu." ucap pemuda itu kemudian menampar ke dua pipi wanita itu kanan dan kiri.
" Seharusnya kamu itu ngaca? wajahmu itu sangat menjijikkan siapapun yang menatapmu pasti merasa jijik." ucap wanita itu yang tidak takut sama sekali sambil mengusap ke dua sudut bibirnya yang mengeluarkan darah segar dengan menggunakan ibu jari dan jari telunjuk
Plak Plak
Bruk
Pemuda itupun menampar kembali pipi kanan dan kiri wanita itu hingga ke dua bibirnya pecah dengan keras hal itu membuat wanita itu langsung jatuh ke lantai. Tiba - tiba wanita itu merasakan sakit pada perutnya membuat wanita itu memeluk perutnya.
" Apa kamu lupa jangan pernah menghinaku ataupun mengeluarkan suara keras karena aku sangat membencinya," ucap pria itu dengan tatapan membunuh tanpa memperdulikan wanita itu merasakan sakit pada perutnya.
" Perutku sakit," rintih wanita itu dan tidak berapa lama keluar darah segar dari sela - sela pahanya
Bruk
Karena tidak bisa menahan rasa sakit wanita itupun ambruk dan tidak sadarkan diri membuat pemuda itu terkejut kemudian duduk berlutut sambil menepuk - nepuk pipi wanita itu.
" Valen... Valen..." panggil pemuda itu.
Pemuda itupun menggendong Valen kemudian meletakkannya di ranjang dengan perlahan kemudian pemuda itu menghubungi dokter pribadinya setelah selesai pemuda itu meletakkan ponselnya di meja dekat ranjangnya.
" Kenapa aku tidak bisa menahan emosiku?" tanya Reno pada dirinya sendiri.
" Aku mencintaimu tapi kamu selalu mengeluarkan kata - kata yang sangat menyakitkan hatiku sama seperti yang dikatakan oleh wanita ular itu," ucap pemuda tersebut.
Setelah lama menunggu selama lima belas menit pintu kamarnya di ketuk oleh seseorang dan pemuda itupun menyuruhnya untuk masuk ke dalam kamarnya.
ceklek
Dokter pribadinya membuka pintu dan berjalan ke arah pemuda tersebut kemudian memeriksa Valen, dokter itu menghembuskan nafasnya dengan perlahan kemudian menatap pemuda tersebut.
" Apa yang terjadi?" tanya pemuda itu.
" Maaf tuan Reno, nona ini sepertinya hamil tapi untuk memastikannya lagi bisa di bawa ke rumah sakit," ucap dokter tersebut.
" Apa hamil??" teriak Reno terkejut.
" Benar tuan," jawab dokter tersebut
" Apa tuan tidak memakai masker?" tanya dokter tersebut.
Reno baru teringat kalau wajahnya rusak membuat Reno mengambil masker yang di simpan di laci dekat ranjangnya kemudian mereka pergi meninggalkan tempat tersebut menuju ke rumah sakit. Di tempat yang berbeda Katarina berangkat lagi ke rumah sakit sambil membawa obat untuk tuan Albert agar racun di dalam tubuh tuan Albert benar - benar hilang.
Singkat cerita Katarina sudah sampai di rumah sakit dan berjalan dengan santai menuju ke ruang perawatan, Katarina membuka pintu dan melihat tuan Albert dan paman Rey sedang menatap dirinya.
" Kenapa tidak istirahat di mansion?" tanya tuan Albert.
" Katarina ingin menemani daddy, paman Rey pulanglah biar Katarina menemani daddy," ucap Katarina.
" Tapi nona..." ucapan Rey terpotong oleh Katarina
" Tidak menerima penolakan, paman pulanglah biar Katarina menemani daddy," ucap Katarina mengulangi perkataannya.
" Apa yang dikatakan putriku benar, lebih baik kamu pulang dan istirahat," ucap tuan Albert.
" Baik tuan," jawab Rey patuh.
" Oh ya nona, bagaimana ke dua orang itu? Apakah sudah ketemu siapa pelakunya?" tanya Rey penasaran
" Sudah paman," jawab Katarina
" Siapa?" tanya tuan Albert dan Rey bersamaan
" Mereka orang suruhan wanita ular itu," ucap Katarina.
" Kurang aj*r, aku akan membunuhnya," ucap tuan Albert sambil menahan amarahnya.
" Kalau membunuhnya terlalu enak buat dia dad, Katarina sudah punya rencana tersendiri," ucap Katarina
" Daddy percayakan padamu, kalau butuh bantuan daddy katakan saja daddy akan membantumu," ucap tuan Albert.
" Saya juga akan siap sedia untuk membantu nona," sambung Rey.
" Baik dad, paman," ucap Katarina.
" Oh ya dad, Katarina sudah membuat obat penawarnya." ucap Katarina sambil mengeluarkan botol yang berisi obat dari dalam tasnya.
Katarina memberikan botol tersebut ke tuan Albert dan tuan Albert langsung meminum obatnya tanpa curiga sedikitpun setelah habis tuan Albert memberikan botol tersebut ke Katarina.
" Obat ini tidak mengalami efek samping seperti obat pertama," ucap Katarina
__ADS_1
" Memang obat pertama efek sampingnya apa?" tanya tuan Albert.
Katarina pun menceritakan semua apa yang terjadi tanpa ada yang di tutupi sedangkan tuan Albert dan paman Rey mendengarkan cerita Katarina sambil menahan amarahnya.
" Itulah yang terjadi dad," jawab Katarina
Grep
" Terima kasih, kamu telah menyelamatkan daddy." ucap tuan Albert sambil menggenggam tangan Katarina.
" Bukan aku yang menyelamatkan daddy tapi Tuhan yang menyelamatkan daddy melalui perantaraan Katarina," ucap Katarina sambil membalas genggaman tuan Albert.
Tuan Albert tersenyum dan tidak berapa lama Rey berpamitan dan meninggalkan mereka berdua bertepatan kedatangan dokter dan perawat yang ingin mengecek kondisi tuan Albert.
" Maaf tuan, saya cek dulu," ucap dokter tersebut.
Tuan Albert hanya diam tanpa menjawab ucapan dokter tersebut sedangkan dokter tersebut mengerti akan sifat tuan Albert, dokter itupun mulai memeriksa kondisi tuan Albert setelah sepuluh menit kemudian dokter itupun sudah selesai mengecek kondisi tuan Albert.
" Kondisi tuan semakin membaik dan mulai besok siang tuan bisa pulang," ucap dokter tersebut.
" Terima kasih dok," jawab Katarina.
" Sama - sama nona," Jawab dokter tersebut.
Dokter itupun berpamitan kemudian pergi meninggalkan mereka berdua sedangkan Katarina membetulkan selimut tuan Albert.
" Daddy tidurlah sudah malam apalagi besok daddy sudah pulang," ucap Katarina.
" Ok, kamu juga tidur," ucap tuan Albert.
" Baik dad," Jawab Katarina.
Katarina berbaring di ranjang khusus dan tidak berapa lama merekapun tertidur dengan pulas sedangkan di tempat yang sama hanya berbeda ruangan Reno sangat terpukul karena Valen mengalami keguguran.
" Apa yang aku lakukan? Gara - gara aku tidak bisa menahan amarahku anakku meninggal." ucap Reno sambil menarik rambutnya dengan kasar.
Reno sangat menyesali apa yang telah dilakukannya hingga anak yang dalam kandungan Valen mengalami keguguran karena lelah Reno yang duduk di kursi dekat ranjang meletakkan ke dua tangannya sebagai bantalannya dan meletakkan kepalanya di ranjang, tidak membutuhkan waktu lama dirinya tertidur dengan pulas bersamaan Valen membuka matanya dan menatap sekeliling ruangan tersebut hingga matanya menangkap Reno sedang tertidur dengan pulas.
' Apa yang terjadi? Sepertinya aku di rumah sakit? Kalau benar baguslah berarti usahaku berhasil.' ucap Valen dalam hati sambil mengingat masa lalu.
xxxxxx Flash Back On xxxxxx
Valen merasakan tubuhnya lemah dan perutnya sering mual hingga Valen melihat kalender yang tergeletak di meja membuat Valen membulatkan matanya dengan sempurna.
" Apa jangan - jangan aku hamil karena bulan ini aku belum datang bulan? Tidak - tidak aku tidak mau hamil dengan pria jelek itu." ucap Valen sambil berfikir.
" Jika aku menyuruh pelayan untuk membeli alat tes kehamilan akan ketahuan jadi aku harus beli sendiri tapi bagaimana caranya?" ucap Valen
ceklek
Pintu kamar terbuka dan Valen melihat suaminya datang sambil membawa bungkusan plastik dan langsung diberikan ke Valen membuat Valen bingung.
" Apa ini?" tanya Valen
" Itu alat tes kehamilan, aku membeli dua puluh empat tes untuk persiapan kalau sekarang negatif seminggu lagi tes lagi sampai kamu hamil," ucap Reno.
" Tapi kenapa belinya sebanyak ini?" tanya Valen
" Kalau sekarang negatif kita melakukan hubungan suami istri sampai kamu hamil anak kita," ucap Reno.
' Kebetulan sekali si cowo jelek ini memberikan alat tes kehamilan kalau aku benar hamil aku akan cari cara untuk menggugurkannya,' ucap Valen dalam hati.
" Cek sekarang," perintah Reno
Valen pura - pura cemberut sambil mengambil dua alat tes kehamilan membuat Reno menahan tangan Valen, Valen yang tangannya di pegang hanya diam tanpa menatap Reno.
" Kenapa mengambil dua?" tanya Reno.
" Aku tidak tahu cara makainya kalau aku salah bisa mencoba alat tes yang ke dua," ucap Valen berbohong.
Reno yang percaya dengan ucapan Valen membiarkan Valen mengambil dua alat tes kemudian Valen berjalan ke arah kamar mandi. Singkat cerita Valen sudah mencoba tes kehamilan setelah menunggu akhirnya terlihat ada tanda dua merah membuat Valen sangat kesal.
" Si*l benar dugaan ku kalau aku hamil, apa yang harus aku lakukan agar anak ini keguguran?" tanya Valen sambil berfikir
Setelah lama berfikir akhirnya Valen mempunyai ide yaitu membuat masalah dengan Reno dengan cara membentak dan mengeluarkan kata - kata yang kasar hingga dirinya dipukul oleh suaminya.
" Walau terasa sakit tidak apa - apa yang penting anak ini tidak lahir karena aku sangat membencinya sama seperti membenci Reno, pria jelek itu," ucap Valen.
Valen membuang hasil tes kehamilan ke dalam closet kemudian membuka satu lagi alat tes kehamilan dan mengetesnya dengan menggunakan air keran, setelah selesai Valen keluar dari kamar mandi dan melihat Reno berdiri di depan pintu.
" Bagaimana hasilnya?" tanya Reno
" Negatif," jawab Valen
" Kalau begitu kita main lagi agar kamu hamil," ucap Reno sambil menarik tangan Valen.
Valen membiarkan suaminya menariknya ke arah ranjang sambil tangan satunya yang tidak di pegang oleh Reno membuang alat tes kehamilan di tong sampah. Mereka pun melakukan hubungan suami istri. Esok harinya Valen sengaja membuat Reno marah dan ternyata rencananya berhasil, Reno menamparnya dan Valen mengalami keguguran.
xxxxxx Flash Back Off xxxxxx
__ADS_1
' Aku harus pergi dari sini mumpung si pria jelek itu tidur,' ucap Valen dalam hati.
Valen menarik jarum infus dengan perlahan membuat Valen meringis kemudian dengan perlahan Valen turun dari ranjang dan berjalan dengan perlahan untuk meninggalkan Reno sendirian di ruang perawatan.