Pemuas Ranjang Sang Mafia

Pemuas Ranjang Sang Mafia
Daka dan Venisa


__ADS_3

"Maaf Nyonya dan Tuan, kenapa Nyonya minta di steril?" tanya dokter kandungan tersebut.


"Karena usia kami yang tidak muda lagi sudah cukup bagi kami untuk mempunyai anak. Anak sekarang sudah tiga di tambah yang ini tiga total enam anak kami," ucap Mommy Karen menjelaskan.


"Saya mengerti Nyonya dan saya menerima keputusan Nyonya dan Tuan. Nanti jika anak Nyonya dan Tuan sudah lahir sekalian kami akan melakukan operasi steril," ucap dokter kandungan tersebut.


"Terima kasih banyak Dok," ucap Mommy Karen.


"Sama-sama Nyonya," jawab dokter kandungan.


"Kalau begitu terima kasih Dok," ucap Mommy Karen sambil turun dari kursi begitu pula dengan Daddy David.


"Silahkan Nyonya dan Tuan," ucap dokter kandungan.


Mommy Karen menganggukkan kepalanya sedangkan Daddy David hanya diam tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Daddy David memeluk istrinya dari arah samping begitu pula dengan Mommy Karen, mereka berjalan menuju ke arah pintu untuk keluar dari ruangan tersebut.


"Daka dan Venisa kini giliran mu," ucap Mommy Karen sambil berjalan ke arah kursi dan duduk di samping Dennisa.


"Baik Mom, dad," jawab Daka dan Venisa serempak.


Ceklek


Daka membuka pintu dengan lebar agar istrinya masuk ke dalam ruangan tersebut membuat dokter dan perawat menatapnya dengan bingung.


"Bukankah tadi Tuan sudah masuk ke dalam sama istri tapi kenapa masuk lagi?" tanya dokter tersebut kemudian menatap ke arah Venisa.


"Apakah ini istri ke dua Tuan?" tanya dokter kandungan dengan wajah terkejut.


("Asyik berarti aku ada kesempatan untuk menjadi istri ke tiga," ucap dokter dan perawat itu bersamaan dalam hati).


"Tutup mulutmu, yang tadi datang adalah Daddy dan Mommy ku sedangkan di sebelahku adalah istriku satu-satunya yang aku cintai dan tidak ada wanita lain selain istriku," jawab Daka dengan nada tegas sambil memeluk pinggang istrinya kemudian menatap tajam ke arah dokter tersebut.


"Maaf Tuan, saya tidak tahu karena wajah Tuan Besar dan Tuan Muda sangat mirip," ucap dokter tersebut dengan tubuh gemetar karena takut dengan tatapan Daka.


"Tidak apa-apa Dok," jawab Venisa yang mengerti suaminya kenapa marah.


Venisa sangat bahagia karena perkataan suaminya kalau dirinya adalah satu-satunya istri dan wanita yang dicintainya. Dirinya sangat bersyukur bisa menikah dengan pria sebaik Daka.


"Terima kasih Nyonya," jawab dokter tersebut.


Venisa hanya menganggukkan kepalanya sedangkan Daka acuh tak acuh. Daka menggendong tubuh Venisa membuat Venisa mengalungkan kedua tangannya ke leher suaminya.


Daka dengan perlahan menurunkan tubuh Venisa ke ranjang sedangkan dokter dan perawat yang melihatnya hanya bisa bicara dalam hati.


("Alangkah beruntungnya Nyonya Besar dan Nyonya Muda menikah dengan ke dua pria tampan sekaligus romantis," ucap dokter kandungan tersebut dalam hati).


("Seandainya ada satu lagi cowok seperti itu, aku mau satu," ucap perawat dalam hati).


"Kenapa bengong, cepat periksa istriku," ucap Daka dengan nada dingin dan wajah datar.


"Maaf tuan," ucap dokter dan perawat tersebut dengan serempak.


Perawat itupun mulai menarik perlahan dress milik Venisa ke atas kemudian memberikan gel dingin ke perut Venisa setelah selesai dokter meletakkan stik ke perut Venisa.


"Silahkan lihat di layar monitor," ucap dokter tersebut.


Venisa dan Daka serempak menatap ke arah lancar monitor dan terlihat ada dua bulatan kecil berwarna hitam.


"Kenapa anak kami bentuknya bulat? Kenapa bentuknya tidak seperti kami?" tanya Daka dengan nada kesal.


"Maaf tuan, kalau ...." ucapan dokter tersebut terpotong oleh Daka.


"Kalau mesin USG nya rusak? Ganti yang baru!!" perintah Daka.


"Maaf Tuan, bukan itu maksud saya ..." ucapan dokter kandungan terpotong oleh Daka.


"Maksudnya apa??" tanya Daka sambil menatap tajam ke arah dokter kandungan.


"Saya ..." ucapan dokter kandungan terpotong kembali oleh Daka.


" Saya a..." ucapan Daka terpotong oleh Venisa sambil menggenggam tangan Daka.


"Sayang, dengarkan perkataan dokter," pinta Venisa dengan nada lembut.


xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx


Sambil menunggu up silahkan mampir ke karyaku dengan judul :


__ADS_1


Dennis menatap tajam ke arah ke enam penjahat sedangkan Debby berusaha bangun tapi tiba - tiba perutnya terasa kram dan kepalanya terasa pusing.


bruk


Tidak berapa lama Debby pun tidak sadarkan diri.


" Debby!!" teriak Dennis panik


duag


bruk


akhhhh


Dennis yang tidak konsentrasi membuat ke enam penjahat langsung menyerang Dennis. Ada yang menendang dan ada yang memukul membuat Dennis berteriak kesakitan.


Di saat genting pintu ruang perawatan VVIP terbuka tampak empat pria tampan masuk ke dalam ruang perawatan dan langsung membulatkan matanya dengan sempurna. Tanpa menunggu waktu lama mereka bertiga langsung menyerang ke enam pria penjahat tersebut sedangkan yang satunya menggendong mommy Laras ala bridal style dan diletakkan ke ranjang kemudian dilanjutkan menggendong Dennis.


Mereka adalah kak Alvonso, Alvian, Arlan dan Harlan. Harlan yang menggendong mommy Laras dan Dennis secara bergantian kemudian menekan tombol agar dokter segera datang.


" Breng**k beraninya mengeroyok." ucap Alvonso dengan nada kesal.


Mereka bertiga menyerang dan menghindar kemudian Harlan yang sudah selesai menggendong mommy Laras dan Dennis langsung membantu Alvonso, Alvian dan Arlan dan tidak berapa lama datanglah daddy Alvonso dan Leo kemudian di susul oleh Max.


Mata Leo berubah menjadi merah karena melihat pakaian istri yang dicintainya ada noda darah, wajahnya pucat dan memejamkan matanya.



" Beraninya kalian menyakiti istriku!!" bentak Leo


Leo mengambil pisau lipatnya dan langsung menyerang mereka, Max yang mendengar suara keras Leo langsung memalingkan wajahnya ke arah mommy Laras membuat Max menatap tajam ke arah mereka.



Max tidak terima melihat mommy Laras terluka dan tidak sadarkan diri membuat Max mengeluarkan pisau lipatnya yang sudah lama tidak dipakainya.


akhhhhh


brugh


akhhhhh


brugh


akhhhhh


brugh


akhhhhh


brugh


Leo dan Max masing-masing memotong leher penjahat hingga lehernya hampir terputus membuat daddy Alvonso, kak Alvonso, Alvian, Arlan dan Harlan diam membeku karena betapa mengerikannya Leo dan Max ketika membantai para penjahat dan kini penjahat tersebut tersisa dua orang.


Kak Alvonso dan Alvian menahan pria pertama sedangkan Arlan dan Harlan menahan pria yang ke dua.


" Max dan Leo jangan bunuh mereka kita tangkap mereka dan interogasi siapa dalang dari semua ini." perintah daddy Alvonso


" Benar kata daddy, sebentar lagi dokter datang cepat bereskan ke empat mayat ini karena jika tidak kalian berdua bisa di tangkap." Perintah kak Alvonso


" Biarkan saja mereka pantas mendapatkannya." ucap Leo dan Max bersamaan sambil mendekati ke dua pria itu yang sudah gemetaran karena dirinya sangat takut jika dirinya menyusul ke empat temannya.


" Jika mommy, Debby dan Dennisa tahu pasti mereka sedih. Apakah kalian tega menyakiti hati mereka?" tanya daddy Alvonso


Mata Leo mulai berubah menjadi biru begitu pula dengan mata Max yang semula tajam seperti tatapan membunuh kini berubah menjadi tatapan teduh.


" Arlan dan Harlan hubungi anak buah kalian untuk membereskan mayat - mayat dan bawa dua orang itu ke markas." perintah daddy Alvonso


" Baik dad." Jawab Arlan dan Harlan serempak kemudian mengambil ponselnya untuk menghubungi anak buahnya.


brugh


brugh


Dua pria itupun langsung mati karena menggigit lidahnya hingga hampir putus.


" Si*l mereka mati." umpat daddy Alvonso ketika mengecek kondisi ke dua pria itu.


" Alvonso dan Alvian kamu jaga di depan jangan sampai dokter dan perawat masuk ke dalam." Perintah daddy Alvonso

__ADS_1


" Baik dad." Jawab kak Alvonso dan Alvian serempak.


Tidak berapa lama datanglah 10 anak buah mafia Arlan dan Harlan mereka langsung mengurus mayat - mayat tersebut dan di simpan di dalam kotak ukuran jumbo yang muat 3 orang kemudian mereka membersihkan lantai yang penuh dengan noda darah hingga bersih seperti tidak terjadi apa - apa.


" Buang dua kotak itu yang berisi mayat ke jurang paling dalam karena mereka pantas mendapatkannya." ucap Leo dengan nada dingin.


" Baik tuan." Jawab mereka patuh


Setelah kepergian mereka barulah datang tiga orang dokter dan enam perawat untuk mengecek kondisi mommy Laras, Debby dan Dennis sedangkan daddy Alvonso, kak Alvonso, Alvian, Arlan, Harlan, Leo dan Max menunggu di luar.


" Sepertinya tidak aman jika kita meninggalkan mommy, Debby dan Dennis, siapa yang gantian berjaga minimal empat orang?" tanya daddy Alvonso


" Kami mau dad." Jawab mereka serempak.


" Kalau begitu malam ini biar daddy, Alvonso, Leo dan Harlan untuk besok siang Alvian, Max, Arlan dan Baron. Nanti daddy akan beritahukan Baron." ucap daddy Alvonso.


" Baik dad." Jawab mereka serempak


" Sekarang Alvian, Max dan Arlan pulanglah istirahat di rumah karena besok siang kalian yang berjaga. Untuk perusahaan kalian percayakan dengan orang kepercayaan kalian dan kalau ada masalah tolong bilang ke Daddy nanti daddy akan meminta bantuan anak daddy yang lainnya." ucap daddy Alvonso


" Anak lainnya maksudnya daddy punya anak lain dari mommy?" tanya kak Alvonso


ctak


" Aduh daddy sakit." ucap kak Alvonso sambil mengelus keningnya yang di sentil oleh daddy Alvonso.


" Habis kamu kalau ngomong asal, kamu kan tahu kalau daddy cinta mati sama mommymu." ucap daddy dengan nada kesal sambil matanya mendelik ke anak pertamanya membuat yang lainnya tersenyum.


" Lalu maksud daddy anak lainnya?" tanya daddy Alvonso


" Daddy dan mommy kan anaknya banyak selain anak kandung daddy dan mommy, ada juga anak angkat daddy dan mommy yang sudah kami anggap sebagai anak kandung. Seperti Max, Arlan, Harlan, Baron, Charli, Alex dan Leo." Jawab daddy Alvonso


" Daddy, kalau Max, Arlan dan Leo bukan anak angkat." protes Alvian


" Lalu anak apa donk? anak pungut?" tanya daddy Alvonso


" Aish daddy tega banget sama kami." gerutu Max dan Arlan.


Leo hanya diam saja karena dirinya ingin mengatakan sesuatu tapi bingung menyampaikan apa, maklum dirinya sejak kecil hingga sekarang kurang kasih sayang seorang daddy.


" Daddy, kalau Max, Arlan dan Leo itu menantu daddy dan mommy karena mereka menikah dengan anak daddy dan mommy." ucap Alvian


" Benar juga ya, kenapa daddy jadi lupa ya." ucap daddy Alvonso sambil senyum pepsodent


Semuanya langsung menepuk keningnya masing-masing karena ulah daddy Alvonso.


" Leo, kok kamu diam saja? kamukan sudah menjadi bagian dari keluarga jadi bicaralah." ucap daddy Alvonso.


" Aku bingung dad, mau bicara apa." ucap Leo sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


" Nanti juga lama - lama juga bisa mengobrol santai. Dulu Arlan, Harlan dan Max juga seperti mu pendiam tapi sejak kenal mommy dan daddy lama - lama seperti hubungan mommy dan daddy." ucap kak Alvonso.


" Aku jadi ingat dulu, waktu sekolah melihat kak Alvonso dan kak Alvian sangat dekat dengan orang tuanya dan saling sayang menyayangi membuatku iri hati karena ke dua orang tuaku tidak pernah memperdulikan ku. Ketika aku menikah dengan Alviana aku mulai merasakan untuk pertama kalinya diperhatikan dan mendapatkan kasih sayang oleh mommy dan daddy." ucap Arlan.


" Aku juga sama seperti kak Arlan, dulu aku asisten kak Arlan dan tidak pernah mendapatkan kasih sayang orang tuaku tapi sejak aku menikah aku baru merasakan kasih sayang dari mommy dan daddy." Ucap Harlan


" Kalau aku sejak kecil orang tuaku di tembak di depan mataku hingga meninggal sehingga aku tidak pernah lagi merasakan kasih sayang dari ke dua orang tuaku. Hidupku terlunta-lunta dan selalu dihina oleh orang lain tapi keluarga besar Alvonso mau menerimaku apa adanya. Mommy, daddy dan keluarga besarnya memberikan kasih sayang yang sudah lama tidak pernah aku dapatkan." ucap Max


" Terima kasih daddy dan semua saudara - saudara ku yang mau menerima Max seorang psycophath yang suka membunuh tapi keluarga besar Alvonso tidak pernah takut padaku malah merangkul ku agar aku bisa berubah. Terima kasih yang telah mengijinkan aku menikah dengan Dennisa wanita yang mau menerima aku apa adanya." ucap Max sambil memeluk daddy Alvonso.


" Daddy harap kamu bisa menahan emosimu Max, karena jika mommy dan Dennisa mengetahui kalau dirimu membunuh lagi membuat mereka akan bersedih lagi begitu pula denganmu Leo, mommy dan Debby pasti akan sedih." ucap Daddy Alvonso dengan kata bijaknya.


" Baik dad." Jawab Max dan Leo kompak


" Sekarang Alvian, Max dan Arlan pulanglah istirahat di rumah karena besok siang kalian yang berjaga." ucap daddy Alvonso mengulangi perkataannya.


" Baik dad." Jawab Alvian, Max dan Arlan


Alvian, Max dan Arlan meninggalkan mereka untuk pulang ke mansion milik keluarga besar Alvonso. Tidak berapa lama para dokter yang memeriksa keluar dengan diikuti para suster.


" Bagaimana keadaan istriku, Debby dan Dennis?" tanya daddy Alvonso


" Semua baik tapi khusus Debby jangan sampai pendarahan lagi karena bisa mengakibatkan keguguran." ucap dokter tersebut.


" Terima kasih dok." Jawab mereka serempak


" Silahkan masuk ke dalam dan kami akan mengecek pasien lainnya." ucap dokter tersebut dengan nada sopan.


Mereka hanya menganggukkan kepalanya dan ke tiga dokter dan ke enam perawat meninggalkan para pria tampan.

__ADS_1


__ADS_2