
Kini mereka berada di ujung lorong rumah sakit yang sangat sepi karena ruangan itu memang sudah lama tidak terpakai.
"Ada apa Rey?" tanya Daddy David tanpa basa basi.
Rey menghembuskan nafasnya dengan perlahan kemudian menatap sahabatnya yang bernama Daddy David dan anak sahabatnya yang bernama Daka.
"Aku mendapatkan informasi dari sahabat kita Alvonso kalau keluarga orang tua Venisa berencana ingin menguasai harta Daka dan juga harta milikmu," ucap Rey.
"Apa? Bagaimana mungkin," ucap Daddy David dan Daka dengan wajah terkejut.
"Itulah yang terjadi, orang tua Venisa tidak pernah puas dengan apa yang mereka miliki sekarang terlebih..." ucap Rey menggantungkan kalimatnya.
"Terlebih apa?" tanya Daddy David penasaran.
"Veni kini berada di rumah sakit yang sama dengan kalian dan Veni menyebut nama kalian sebagai orang yang membuat dirinya celaka seperti itu," ucap Rey menjelaskan.
"Bukankah aku memerintahkan anak buah ku untuk membuatnya lumpuh baik ke dua tangan dan ke dua kakinya selain itu wanita itu tidak bisa bicara karena lidahnya aku potong. Apa anak buah ku tidak melakukannya?" tanya Daddy David sambil mengambil ponselnya dari saku jasnya untuk menghubungi anak buahnya.
"Memang benar, tapi Veni menulis sesuatu dengan menggunakan mulutnya sambil menahan rasa sakit pada mulutnya," ucap Rey.
"Si*l kalau tahu begini lebih baik aku tembak ma*i," ucap Daddy David dengan nada kesal.
__ADS_1
"Betul Dad, lain kali musuh tidak usah di beri ampun," sambung Daka yang sudah tidak ada perasaan terhadap Veni.
"Karena itulah ke dua orang tua Venisa sangat marah dan ingin merebut semua harta milik kalian lewat tangan Venisa dan setelah kalian miskin barulah mereka berencana mem bu nuh kalian termasuk istrimu," ucap Rey sambil menunjuk ke arah Daddy David.
"Kenapa istriku jadi ikut terlibat?" tanya Daddy David sambil menahan amarahnya.
"Mereka beranggapan bahwa apa yang terjadi dengan Veni pasti karena ide Kak Karen karena itulah kalian bertiga nanti akan jadi targetnya," jawab Rey.
"Kalau begitu aku akan memerintahkan anak buahku untuk meng ha bi si mereka," ucap Daddy David.
"Jika itu diketahui Venisa bahwa kamu meng ha bi si keluarganya, besar kemungkinan Venisa akan membencimu," ucap Rey.
"Daka, apakah kamu mencintai Venisa?" tanya Daddy David.
"Tentu saja Dad, tapi Daka bimbang Dad," jawab Daka dengan wajah frustasi.
"Apakah kamu akan memberikan semua hartamu untuk Venisa?" tanya Daddy David.
"Daka tidak mempermasalahkan hal itu Dad tapi kalau harta milik Daddy dikuasai Daka tidak terima," ucap Daka.
"Jika seandainya kamu di suruh memilih, mana yang kamu pilih orang tuamu atau istrimu?" tanya Daddy David.
__ADS_1
"Walau Daka sangat mencintai Venisa tapi Daka akan mengorbankan perasaan Daka dan memilih Daddy, Mommy dan adik-adik Daka karena Daddy, Mommy dan adik-adik Daka adalah harta yang tidak bisa di tukar dengan apapun,'' jawab Daka dengan nada yakin.
"Terima kasih, Daddy tahu ini memang berat buatmu," ucap Daddy David sambil menepuk bahu putra sulungnya.
"Lebih baik kita tunggu pergerakan orang tua Venisa jika Venisa menuruti permintaan ke dua orang tuanya maka menurut Paman kamu harus melupakan dan melepaskan Venisa tapi jika Venisa menolaknya maka kamu pertahankan hubungan kalian," ucap Rey.
"Apa yang dikatakan Paman Rey benar, kita tunggu pergerakan mereka," ucap Daka.
"Sekarang kita kembali ke ruang perawatan dan jangan katakan apa yang tadi kita bicarakan," ucap Daddy David.
"Ok," jawab Rey dan Daka serempak.
Ke tiga pria tampan tersebut pergi meninggalkan tempat tersebut menuju ke ruang perawatan.
Ceklek
Daka membuka pintu ruang perawatan dengan lebar dan matanya langsung membulat sempurna begitu pula dengan Daddy David dan Rey karena melihat ke dua orang tua Venisa sudah datang dan sedang mengobrol dengan istri dan Mommy Karen serta Sandra.
"Kak Daka, ke dua orang tuaku datang menengokku," ucap Venisa sambil tersenyum bahagia karena ibunya sudah selesai menyuapi dirinya.
"Di minum dulu sayang, baru ngobrol," ucap Ibunya sambil memberikan gelas yang sudah ada sedotannya.
__ADS_1