
("Venisa di culik oleh dua pria," jawab Mommy Karen).
("Apa??" teriak Daka dengan wajah terkejut sekaligus panik).
("Daka, ini Daddy kamu pergilah ke hotel xxxx, Daddy dan anak buah daddy akan membantu menyelematkan Venisa," ucap Daddy David).
("Baik dad," jawab Daka sambil melangkahkan kakinya dengan cepat menuju ke arah parkiran mobil).
("Daddy, mommy ikut," pinta mommy Karen).
("Mommy di sini saja," ucap Daddy David).
("Baiklah, mommy akan memantau dari mansion," ucap mommy Karen pasrah karena dirinya ingin ikut).
("Mommy maaf, ponselnya Richardo matikan ya," ucap Richardo sambil masuk ke dalam mobil).
("Ok, hati - hati Daka," ucap mommy Karen).
("Baik mom," jawab Daka).
Tut Tut Tut Tut
Sambungan komunikasi langsung diputuskan kemudian Richardo menghubungi anak buahnya untuk datang ke hotel xxxx di mana Venisa di culik.
xxxxxxxxxxxxxx
Di tempat yang berbeda Venisa berbaring di ranjang dan masih tidak sadarkan diri bersama dua pria yang menatapnya dengan penuh kebencian.
"Akhirnya kita berhasil menangkap wanita ular ini kak," ucap adiknya.
"Betul dik, kita berhasil menangkapnya," jawab kakaknya.
__ADS_1
"Apa yang kita lakukan dengan wanita murahan ini kak?" tanya adiknya.
"Kakak akan memberikan obat perang sang," ucap kakaknya sambil mengambil bungkusan obat yang disimpannya di dalam saku celana panjangnya.
Pria itupun berjalan ke arah Venisa yang masih setia memejamkan matanya kemudian memasukkan bungkusan ke dalam mulut Venisa bersamaan Venisa membuka ke dua matanya.
Pria itupun langsung membekap mulut Venisa agar menelan obat perang sang. Venisa berusaha memberontak namun pria tersebut menahannya dengan di bantu oleh adiknya.
Venisa terpaksa menelan obat perang sang sambil masih memberontak dan tidak berapa lama ke dua pria tersebut melepaskannya.
"Kakak sudah menghubungi seorang pria tua untuk melayani wanita mu ra han ini," ucap kakaknya.
"Apakah kakak tidak berminat untuk bermain?" tanya adiknya.
"Tidak, kakak sudah bosan lebih baik kakak bermain dengan gadis yang masih orisinil," jawab kakaknya.
"Sama kak, aku juga bosan dengan wanita mu ra han ini," ucap adiknya.
Dua pria tersebut melihat Venisa yang dikiranya Veni langsung menahan tangan Venisa.
"Mau kemana kamu Veni? Kamu tidak bisa kabur," ucap pria pertama.
Plak
"Ini hukuman mu karena kamu berani menipuku dan mengambil uang kami," ucap pria ke dua sambil menampar Venisa.
"Katakan, di mana kamu menyimpan uang kami?" tanya pria pertama.
"Aku tidak tahu apa yang kalian katakan?" tanya Venisa.
"Veni, aku kasih dua pilihan katakan di mana uang kami maka kamu hanya melayani satu pria tua atau jika kamu tidak mengatakan maka kamu melayani 4 pria yang mempunyai penyakit berbahaya dan berisiko kamu tertular," ancam pria pertama.
__ADS_1
"Aku benar-benar tidak tahu, kalian salah menangkap orang," ucap Venisa berusaha memberontak.
"Sepertinya kamu lebih memilih yang ke dua, baiklah," jawab pria ke dua.
"Aku bilang, kalian salah orang ... Orang yang kalian tangkap seharusnya ..." ucapan Venisa terpotong ketika pria ke dua memukul tengkuk Venisa.
Bugh
Bruk
Venisa kembali tidak sadarkan diri dan ke dua pria tersebut membaringkan Venisa di ranjang.
"Apa yang kita lakukan selanjutnya kak?" tanya adiknya.
"Kamu hubungi 4 pria untuk melakukan apa yang tadi aku katakan ke Veni dan kakak akan melepaskan semua pakaiannya hingga polos tanpa sehelai benangpun," ucap pria pertama.
"Baik kak," jawab adiknya.
Adiknya menghubungi seorang pria yang mempunyai penyakit mematikan yang sudah lama dikenalnya untuk datang dan mengajak ke tiga temannya yang juga mempunyai penyakit mematikan sedangkan kakaknya melepaskan satu persatu pakaian Venisa hingga polos tanpa sehelai benangpun.
"Si*l kenapa aku jadi ingin melakukannya," ucap pria pertama dengan nada kesal.
Karena tidak bisa menahan tubuh mulus Venisa membuat pria tersebut melepaskan satu persatu pakaiannya hingga polos tanpa sehelai benangpun kemudian menaiki tubuh polos Venisa.
Pria tersebut mencium bibir kemudian me lu mat nya membuat Venisa menggerakkan tubuhnya hingga goanya mengenai tombak sakti milik pria tersebut.
Pria itupun tersenyum menyeringai kemudian ciuman pindah ke leher Venisa memberikan tanda kepemilikan sambil memegangi tombak saktinya untuk di tuntun ke goa milik Venisa.
"Aduh kakak aku jadi ingin melakukannya juga," ucap adiknya sambil melepaskan satu persatu pakaiannya hingga polos tanpa sehelai benangpun.
"Setelah kakak barulah kamu," jawab kakaknya sambil mengarahkan tombak saktinya di ujung goa milik Venisa.
__ADS_1