Pemuas Ranjang Sang Mafia

Pemuas Ranjang Sang Mafia
Venisa dan Daka


__ADS_3

"Aku di mana?" tanya Venisa sambil melihat sekeliling ruangan yang masih terlihat samar-samar.


"Kamu masih di rumah sakit," jawab Daka sambil menggenggam tangan istrinya


Venisa menatap ke arah Daka yang sudah terlihat dengan jelas, suami yang sangat dicintainya sepenuh hatinya. Hatinya sangat terluka mendengar ucapan Venisa dengan ke dua orang tuanya.


"Kak Daka," panggil Venisa dengan mata berkaca-kaca.


"Ya," jawab Daka singkat.


"Jika Kak Daka menyesal menikah denganku dan menemukan pengganti ku maka aku rela kita berpisah asalkan Kak Daka bahagia maka aku ikut bahagia," jawab Venisa yang bertentangan dengan hatinya.


"Lalu bagaimana dengan anak kita?" tanya Daka yang ingin tahu jawaban Venisa.


"Aku akan mempertahankan agar ke dua anak kita lahir setelah itu terserah Kak Daka apakah Kak akan mengambil ke dua anak kita dan mengusirku maka aku akan melakukannya pergi menjauh dari Kak Daka karena kebahagiaan Kak Daka merupakan kebahagiaanku," ucap Venisa dengan suara tercekat.


"Lalu apa yang akan kamu lakukan?" tanya Daka penasaran.


"Aku akan menyusul Oma dan Opa karena hanya Opa dan Oma yang sangat sayang dan tulus sama Venisa," jawab Venisa dan tidak berapa lama air matanya keluar.


"Aku sangat lelah Kak ingin tidur," sambung Venisa sambil memejamkan matanya namun tanpa disadari oleh Daka, Daddy David dan Mommy Karen kalau Venisa menggigit lidahnya.


Hatinya sangat hancur akibat orang tuanya yang egois dan serakah di tambah adik kembarnya yang disayanginya malah membenci dirinya padahal dirinya yang menjadi korban kejahatannya membuat Venisa ingin mengakhiri hidupnya karena tidak ada yang menyayangi dirinya membuat Venisa sangat lelah.

__ADS_1


Grep


"Venisa, aku tidak mungkin menceraikan dirimu ataupun mencari pengganti dirimu karena aku sangat mencintaimu dan jangan katakan kalau kamu sangat lelah dan ingin menyusul Oma dan Opa mu karena aku tidak sanggup kehilangan dirimu," ucap Daka sambil memeluk tubuh istrinya.


Hening


Hening


"Venisa," panggil Daka sambil melepaskan pelukannya dan melihat bibir Venisa mengeluarkan darah segar.


"Venisa!!!" teriak Daka sambil membuka ke dua mulut Venisa dan melihat lidah Venisa tergigit.


"Ada apa Daka?" tanya Daddy David.


"Baik," jawab Daddy David sambil menekan tombol darurat


"Venisa ingin bunuh diri," ucap Daka dengan wajah kuatir.


"Apa??" teriak ke duanya dengan serempak.


"Venisa, aku mohon kamu harus kuat demi ke dua anak kita. Aku tidak sanggup kehilanganmu," mohon Daka dengan air mata tidak berhenti keluar.


Ceklek

__ADS_1


Tidak berapa lama pintu ruang perawatan di buka dan tampak datang dokter dan perawat. Sebelum dokter bertanya Daddy David langsung meminta dokter untuk memeriksa keadaan Venisa.


Dokter tersebut melakukan tindakan pertama kemudian dibawa ke ruang UGD yang peralatan dokter lebih lengkap.


Hingga tiga jam kemudian Venisa sudah kembali ke ruang perawatan dan Daka kembali menggenggam tangan Venisa sambil kembali mengecup punggung tangan Venisa.


Hingga lima belas menit kemudian Venisa membuka matanya sambil meringis menahan rasa sakit pada lidahnya.


"Venisa, aku mohon jangan lakukan itu lagi karena aku tidak sanggup kehilangan dirimu," Mohon Daka.


"Lidahmu masih sakit jangan bicara dulu," ucap Daka yang melihat Venisa membuka mulutnya.


"Venisa, jangan pernah menganggap kalau kamu hidup sendiri karena kamu masih mempunyai Daka, Mommy, Daddy, ke dua adikmu Dennisa dan Dave yang menyayangi dirimu dengan tulus." ucap Mommy Karen sambil menggenggam tangan Daka karena Daka menggenggam tangan Venisa.


"Lupakanlah mereka karena mereka tidak pantas untuk kamu ingat dan membuatmu terluka. Ingatlah masih ada kami yang sangat tulus mencintaimu terlebih sebentar lagi kalian akan mempunyai dua anak kembar," sambung Daddy David.


"Apakah kamu tidak ingin kita bisa membeli pakaian bayi bersama ketika usia kandungan sudah besar? Kita bisa belanja sepuas hati kita dengan ditemani para suami," sambung Mommy Karen.


Venisa hanya menganggukkan kepalanya sambil air matanya keluar karena dirinya sangat terharu mempunyai suami dan ke dua mertuanya yang sangat baik.


"Sstttttt... Jangan menangis, maaf kalau tadi aku bertanya seperti itu karena aku hanya ingin tahu seberapa besar cintamu padaku. Kini aku percaya padamu kalau kamu sangat tulus mencintaiku dan apapun kata orang aku percaya padamu kalau kamu tidak mungkin mencelakai ke dua orang tuaku," ucap Daka sambil menghapus air mata istrinya.


("Kak Daka, jika seandainya ada orang yang ingin mencelakai orang tua mu maka aku orang pertama yang menjadi tameng orang tuamu dan melawan mereka sekalipun orang itu adalah ke dua orang tuaku sekalipun walau nyawa menjadi taruhannya," ucap Venisa dalam hati).

__ADS_1


__ADS_2