Pemuas Ranjang Sang Mafia

Pemuas Ranjang Sang Mafia
Tidak Lucu


__ADS_3

Daka menghembuskan nafasnya dengan perlahan kemudian menatap wajah dokter kandungan yang pucat pasi.


"Maafkan suamiku Dok, silahkan di lanjut," ucap Venisa dengan lembut.


"Dua bulatan kecil ini adalah anak Nyonya dan tuan dan memang awalnya berbentuk bulatan kecil tapi seiring berjalannya waktu bulatan ini berubah menjadi bayi merah dan siap untuk dikeluarkan," jawab dokter kandungan tersebut.


"Berarti anak kami kembar Dok?" tanya Venisa.


"Tepat sekali Nyonya dan selamat atas kehamilan Nyonya," ucap dokter kandungan.


"Oh ya, kenapa waktu kami selesai melakukan hubungan suami istri tiba-tiba istriku tidak sadarkan diri dan di sela - sela pahanya keluar darah segar?" tanya Daka penasaran.


Bugh


Venisa yang sangat malu memukul bahu suaminya sedangkan Daka tidak marah malah mengusap rambut istrinya dengan lembut.


"Maaf tuan, janin Nyonya belum kuat karena itulah Nyonya tidak sadarkan diri jadi tolong diusahakan untuk beberapa bulan jangan melakukan hubungan suami istri sebelum janinnya kuat," jawab dokter kandungan.


"Haruskah Dok?" tanya Daka dengan nada frustrasi.


"Maaf Tuan, demi kebaikan Istri Tuan dan anak yang dikandungnya karena jika itu terulang lagi bisa membahayakan keduanya," jawab dokter tersebut.


"Baik Dok, demi istriku dan ke dua anak kami," ucap Daka pasrah.


"Oh ya Dok, usia kandungan anak kami berapa Minggu Dok?" tanya Venisa mengalihkan pembicaraan.


"Sebentar," ucap dokter tersebut sambil mengecek janin Venisa.

__ADS_1


"Sudah empat Minggu," jawab dokter tersebut.


"Berarti anak kami akan lahir sekitar tujuh bulan lagi ya Dok?" tanya Venisa.


"Betul sekali," jawab dokter tersebut.


"Lama juga ya," ucap Daka yang tidak sabar ingin melihat dua buah hatinya.


"Memang seperti itu tuan," jawab dokter kandungan tersebut sambil meletakkan stik nya ke tempat semula.


Perawat itupun membersihkan sisa gel dingin di perut Venisa dengan menggunakan tissue kemudian merapikan dress milik Venisa. Daka kembali menggendong tubuh Venisa dan meletakkan perlahan tubuh Venisa di kursi.


Kini Daka dan Venisa duduk berdampingan dan berhadapan dengan dokter kandungan yang hanya dibatasi oleh meja.


"Saya akan kasih resep obat untuk penguat kandungan dan vitamin," ucap dokter kandungan sambil menulis resep obat.


"Ada yang mau ditanyakan?" tanya dokter kandungan.


"Tidak ada dok," jawab Venisa sambil berdiri begitu pula dengan Daka.


"Terima kasih Dok," sambung Venisa sambil mengulurkan tangannya.


"Sama-sama Nyonya," jawab dokter kandungan tersebut.


Daka memeluk pinggang istrinya membuat Venisa membalas pelukan Daka. Venisa menyandarkan kepalanya di dada suaminya sambil tersenyum bahagia sedangkan Daka membuka pintu ruangan tersebut.


"Terima kasih banyak sayang," ucap Venisa sambil tersenyum dan berjalan ke luar dari ruang dokter kandungan begitu pula dengan Daka.

__ADS_1


"Untuk?" tanya Daka penasaran.


"Perhatian dan rasa sayang kak Daka untukku membuatku semakin mencintaimu. Aku sangat bersyukur bisa menikah dengan suami yang sangat sayang padaku," ucap Venisa dengan nada tulus.


"Aku yang seharusnya bersyukur bisa menikah denganmu," ucap Daka.


"Hem ... " ucap Daddy David dan Dave serempak.


"Apakah ada yang aneh?" tanya Daddy David.


"Ada Dad," jawab Dave.


"Aneh kenapa Dad, Dave?" tanya Daka penasaran.


"Mommy baru sadar kalau Venisa memakai jubah handuk," ucap Mommy Karen sambil menepuk keningnya.


Daka dan Venisa serempak menatap pakaian yang dikenakan Venisa membuat Daka menggendong Venisa ala bridal dan berjalan dengan langkah cepat menuju ke arah ruang perawatan.


"Tidak Daka, tidak Venisa dua - duanya sama," ucap Daddy David sambil memijat keningnya yang tidak pusing


"Pffftttt..." tawa lepas Dave.


"Dave tidak lucu," ucap Mommy Karen.


xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx


Sambil menunggu up silahkan mampir ke karyaku dengan judul :

__ADS_1



__ADS_2