Pendekar Langit

Pendekar Langit
Ch. 12 Berkelana


__ADS_3

Sesampainya mereka di salah satu penginapan, mereka bergegas masuk untuk memesan tiga kamar. Dengan kondisi keuangan mereka saat ini, Hara dkk. bahkan mampu hidup mewah hingga puluhan tahun.


“maaf tuan…. Tapi harga per kamar di penginapan kami sepuluh koin perak untuk setiap malamnya” ucap seorang wanita muda penjaga penginapan itu. Adika dan Gana terkejut mendengar wanita muda itu. “Bagaimana bisa di desa kecil ini harga sebuah kamar mencapai sepuluh koin perak” pikir mereka.


“Kami pesan tiga kamar... tambahkan juga pemandian air panas” ujar Hara . Adika dan Gana menaikkan alis mereka tidak percaya Hara akan menghabiskan seratus koin perak dalam semalam di sebuah desa kecil.


Seratus koin perak adalah penghasilan mereka saat bekerja di sekte selama sebulan.  Tapi kemudian mereka tidak mengambil pusing karena jumlah koin emas yang mereka dapatkan dari tebing sangatlah banyak.


Selepas ketiganya membersihkan diri, mereka kemudian mencari sebuah restoran dekat penginapan. Tibalah mereka disebuah restoran mewah dengan tulisan paviliun mawar.


Untuk desa sekecil ini melihat restoran pavilun mawar dengan seni dan kemewahannya merupakan sesuatu yang tidak terduga.


Namun setelah mendengar cerita pemilik penginapan tadi yang mengatakan sejak dulu desa mereka digunakan sebagai persinggahan ketika menuju ibukota. Harga kamar yang cukup mahal itu memanglah sangat wajar.


Ketiganya dihadang oleh dua orang pendekar tepat didepan pintu restoran.

__ADS_1


“Berhenti...tidak sembarang orang boleh masuk restoran ini” ujar salah seorang pendekar.


“Kenapa kami tidak boleh masuk?” tanya Adika. “kami punya uang.... apa koin ini cukup?” sambung Adika sambil mengeluarkan sekantung koin emas berjumlah sekitar seratusan.


Kedua pendekar tersebut menaikkan alisnya dan membuka mulut namun tidak mampu berkata lebih jauh. Sesaat kemudian datanglah seorang paruh baya berpakaian putih menyadari kondisi yang terjadi sebelumnya.


Tanpa pikir panjang pria tadi mempersilahkan Hara dkk. masuk. Ia tidak ingin berurusan dengan orang seperti ketiga pemuda tersebut. Ketiganya sangatlah aneh, dengan baju yang bosa dibilang sederhana, namun membawa koin emas sebanyak itu, jika bukan keluarga bangsawan maka mereka pastilah keluarga pendekar.


“tuan....bisakah kami memesan ruangan pribadi untuk kami bertiga?” pinta Hara kepada pelayan tadi.


“Apa ini cukup?” lanjut Hara seraya meletakkan dua buah koin emas di tangan pelayan tadi.


Pelayan ini cukup terkejut, “tuan muda ini bukanlah orang sembarangan, untung kami tidak mencari permasalahan dengannya” pikir pelayan tadi.


Ketiganya akhirnya bisa menikmati hidangan yang lezat. Adika tidak ragu mengambil porsi besar dari bebek panggang yang baru saja disajikan. Hara dan Gana hanya tersenyum melihat tingkah Adika. Setidaknya mereka bertiga masih berada di umur belasan.

__ADS_1


Tidak lama setelahnya, munculah sekelompok orang berbadan tegap memakai jubah besi layaknya pengawal. Dibelakang mereka berjalan seorang putri yang tampak anggun. Ketiganya hanya bisa melihat dari sela-sela ruangan yang hanya dibatasi oleh dinding bambu.


Hara menyadari sosok putri tersebut adalah anak dari seorang bangsawan yang berasal dari keluarga bangsawan. Wajahnya tampak angkuh namun masih memancarkan kecantikan yang indah.


“dia adalah perempuan termanis yang pernah aku temui” ujar Adika pelan.


Hara dan Gana hanya tersenyum ringan mendengar pernyataan Adika. Sesaat kemudian dua orang pengawal tadi menghampiri Hara dkk.


“kalian tidak diperkenankan disini, cepat pergi….. atau kami akan mengusir paksa kalian” ucap pengawal itu dengan nada merendahkan.


“kalian pikir kalian siapa?” tantang Adika sambil berdiri menuju kedua pengawal itu. Hara dan Gana masih tersenyum, mereka sangat paham akan tempramen yang dimiliki Adika.


 


 

__ADS_1


__ADS_2