Pendekar Langit

Pendekar Langit
Chapter 26. Fraksi Bumi


__ADS_3

Malam itu, Hara mengumumkan sebuah nama untuk kelompoknya, Fraksi Bumi.


Fraksi bumi terdiri dari anak-anak belasan tahun, yang tertua adalah Gana (lima belas tahun) sedangkan termuda adalah seorang perempuan bernama Janari (delapan tahun).


Selama enam bulan yang lalu, seluruh anak-anak tersebut telah mencapai pendekar tingkat bumi. Yang terendah dari mereka telah membentuk sekitar dua ratus kristal energi, sedangkan yang tertinggi hampir mencapai tiga ratus ratus kristal energi.


Seluruh anggota Fraksi Bumi mencapai hasil itu berkat ramuan jiwa emas yang diramu oleh Hara. Beruntung bagi mereka, rumput hijau emas dan beberapa tanaman herbal tumbuh subur di Gunung Anggrek.


Hara pun menugaskan beberapa anggotanya untuk membibit dan menanam rumput dan beberapa tanaman yang dibutuhkan dalam membuat ramuan.


Beberapa hari setelah pertemuan di Aula Bumi, Hara mengumpulkan semua orang namun dalam beberapa kelompok berbeda untuk diberikan pengetahuan tentang beladiri, pengobatan, pembuatan senjata, dan lainnya.


Hara memilih mereka berdasarkan samudra jiwa yang dimiliki oleh masing-masing anak.


Selain membagi habis tugas kepada anggota lain, Hara juga membagi habis tugas kepada Gana, Adika, Awyati dan Yantra. Adika bertugas mengoordinir proses pembangunan, pemenuhan sumber daya dan keamanan.


Gana bertugas mengoordinir peningkatan beladiri dan meditasi setiap anggota. Sedangkan Awyati dan Yantra bertugas mengoordinasi administrasi dan pembagian tugas anggota Fraksi.


Suatu malam, Adika melapor kepada Hara “Hara, sepertinya aku menemukan sebuah goa di balik air terjun yang ada di balik gunung”


“Goa?” tanya Hara sedikit terkejut. Ia tidak mengingat jika ada lokasi seperti itu di Gunung Anggrek.

__ADS_1


“Ayo kita lihat” ajak Hara kepada Adika dan Gana.


Sebelum ketiganya pergi, Hara memberitahu Awyati dan Yantra bahwa mereka akan melihat-lihat situasi Gunung untuk beberapa hari. Segala tugas dan kewajiban ia tugaskan Awyati dan Yantra untuk menyelesaikannya.


Beberapa saat kemudian ketiganya pergi meninggalkan kediaman mereka menuju air terjun di balik gunung.


Hanya dalam waktu tiga puluh menit ketiganya sudah tiba di tepi air terjun tersebut.


Air terjun ini bersumber dari mata air yang berada dipuncak gunung dan mengalir hingga ke sungai naga yang merupakan perbatasan antara Desa Pelabuhan dan Kota Naga.


Dengan ilmu langkah awan dan bayangan buminya, Hara memimpin untuk masuk kedalam goa dibalik air terjun itu. Setelah beberapa saat menyusuri goa tersebut, ketiganya menemukan sebuah pintu batu setinggi lima meter.


“Apa kau tahu apa ini?” tanya Adika kepada Hara.


“Entahlah” jawab Hara singkat.


“Ayo kita coba masuk” ajaknya melanjutkan.


“Tapi bagaimana?” tanya Gana.


Hara kemudian menunjuk sebuah tuas di atas pintu tersebut. Adika kemudian melompat dan menarik turun tuas tersebut yang sontak membuat pintu tadi bergerak terbuka.

__ADS_1


Ketiganya berjalan perlahan memasuki ruangan itu. Tiba-tiba Hara merentangkan kedua tangannya menandakan agar keduanya berhenti.


“Hati-hati….banyak jebakan” ujar Hara sambil mengawasi sekitarnya.


Ketika Hara akan melangkahkan kakinya, ratusan anak panah tiba-tiba muncul menghujam ruang didepan mereka.


“Salah sedikit saja, nyawaku taruhannya” bisik Adika dalam hatinya.


Setelah menunggu beberapa saat hujaman panah tersebut berhenti dan ketiganya kembali melanjutkan perjalanan mereka.


“Apa itu?” ujar Gana menunjuk sebuah dinding yang terukir tulisan-tulisan kuno.


“Ini…..” jawab Hara namun seketika itu juga ia terdiam.


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2