Pendekar Langit

Pendekar Langit
Chapter 30. Adika


__ADS_3

 


 


Ketika Madyama akan maju untuk menyerang setelah sempat terhenti, tiba-tiba ia merasakan pukulan keras di perutnya. “Bam….” Madyama terlempar keluar panggung.


Ia terlambat menyadari bahwa pukulan Adika mampu menembus tubuh besinya.


Madyama tidak mampu bangkit, ia hanya menatap langit menahan sakit di tubuhnya. Ia tidak percaya seorang anak yang jauh lebih muda darinya mampu membuatnya terjatuh.


Para undangan lain bergemuruh, mereka akhirnya sadar bahwa Adika telah mencapai pendekar awan.


“Dimanakah Fraksi Bumi berada?” “Dia adalah jenius dari jenius” “Kita harus menjalin kerjasama dengan Fraksi Bumi” “Kita harus waspada dengan orang-orang Fraksi Bumi”


Para undangan saling bercakap diantara mereka, tidak banyak juga yang tidak suka dengan keberadaan Fraksi Bumi.


Sejak saat itu Fraksi Bumi mulai dikenal karena salah seorang dari mereka adalah anak belasan tahun dengan gelar pendekar awan, Adika.


Nama Adika sontak menjadi perbincangan para undangan. Gemuruh suara belum usai, kemudian munculah seorang pendekar dari Sekte Langit Senja dan melompat ke atas panggung.

__ADS_1


“Aku adalah lawanmu selanjutnya” ujarnya.


“Salam senior Naranta….” Ucap Adika sambil mencakupkan tangannya.


Naranta adalah salah satu murid berbakat dari sekte tempat ketiganya berasal. Ia merupakan anak bungsu dari ketua sekte yang sekarang,  Agnanta. Saat ini Naranta berusia dua puluh lima tahun dengan pencapaian sebagai pendekar tingkat awan.


“Owh…. Jadi kau mengenalku? Sepertinya kau juga sudah mengetahui batas kemampuanmu jika melawanku” ujar Naranta.


Adika memang mengenali Naranta dengan baik. Ia mengetahui karena Naranta dulu satu sekte dengannya, namun sepertinya Naranta tidak mengenali Adika.


Naranta menjadi yang pertama menyerang, ia menyerang menggunakan ilmu pedang langit senja. Serangan ini sangat cepat sehingga Adika akhirnya mengeluarkan pedangnya untuk menahan beberapa serangan Naranta.


Mereka berdua bertukar puluhan serangan, Naranta merasa Adika telah terdesak sehingga ia menambah intensitas serangannya.


Pertarungan terhenti, Naranta yang merasa emosi karena Adika mematahkan pedangnya mulai menyerang secara brutal dengan tangan kosong. Namun dengan sigap Adika berhasil memukul mundur Naranta menggunakan gagang pedangnya.


Adika kemudian menyerang lagi menggunakan pukulan dan tendangan sehingga membuat Naranta tersungkur dan memuntahkan darah segar.


Seketika wasit pertandingan menyudahi pertarungan keduanya. Adika menghunuskan pedangnya tepat didepan wajah Naranta, “Suatu saat kau akan menanggung atas pemberontakan keluargamu di Sekte Langit Senja” ujar Adika kepada Naranta.

__ADS_1


Naranta kebingungan, “Darimana anak ini tahu situasi Sekte Langit Senja beberapa tahun lalu?” pikirnya.


“Dendam Guru Raynor suatu saat akan kubalas….ha..ha…ha..ha” kata Adika melanjutkan seraya tertawa lantang.


Naranta sadar, ternyata Adika merupakan salah satu murid dari Guru Raynor. Dulu keluarganya mencoba menangkap seluruh murid dari Guru Raynor namun mereka menemukan kediaman Guru Raynor sudah kosong.


***


Setelah festival selesai Hara langsung kembali ke Gunung Anggrek. Namun sebelumnya mereka mengunjungi beberapa pengerajin dan penjahit guna memesan beberapa peralatan dan perlengkapan.


Selain itu, Bangsawan Urdha mengundang mereka untuk minum the bersama. Hara sudah mengetahui maksud dari Bangsawan Urdha adalah untuk menanyakan kemampuan dari Fraksi Bumi.


Dan benar saja, Bangsawan Urdha merasa penasaran bagaimana Hara dkk. memiliki kemampuan begitu tinggi. Hara hanya menceritakan bahwa ia dan teman-tamannya hanya berlatih biasa.


Kurang puas mendengar penjelasan Hara, Bangsawan Urdha pun menawarkan beberapa hal kepada Fraksi Bumi.


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2