
Ketika langit semakin senja, matahari mulai lelah dan menutup dirinya dibalik pegunungan. Awyati bersama adiknya, Yantra, tidak lelah untuk berlari dari kejaran beberapa orang. Ia menjadi saksi betapa kejam paman beserta tentara bayarannya membantai habis seluruh keluarga.
Awyati dan Yantra diselamatkan oleh seorang pengawal kepercayaan ayah mereka. Pada saat penyerangan itu, pengawal itu membawa pergi Awyati dan Yantra menuju pesisir sungai naga. Setelah memastikan keduanya menyeberang, pengawal itu kemudian menutup jejak mereka dengan pergi ke arah yang berlawanan.
Awyati dan Yantra tidak mengetahui bagaimana kondisi pengawal mereka saat ini. Namun kondisi hidup mereka saat ini pun tidak jauh dari kata memprihatinkan.
Setelah tiba di Desa Pelabuhan, Awyati dan Yantra berusaha mencari tempat berteduh karena hujan yang begitu lebatnya. Tanpa perbekalan yang mencukupi dan uang yang sedikit, keduanya tidak berani menyewa penginapan, sehingga Awyati memutuskan menggunakan uang yang tersisa untuk membeli makanan.
Setelah sebulan lebih berjalan, mereka akhirnya memutuskan pergi ke sebuah bukit di utara Desa Anggrek Hijau untuk tetap menjauh dari keramaian. Selama perjalanan mereka hanya menunggu belas kasihan dari warga desa hanya sekedar untuk makan.
Tidak ada yang bisa mereka lakukan, namun ketika sampai dibukit tersebut mereka cukup senang karena banyak terdapat makanan seperti buah dan binatang hutan.
Hingga suatu waktu ada beberapa orang yang tiba-tiba berada di tempat istirahat keduanya. Awyati menyuruh Yantra untuk bersembunyi, ia tidak ingin adiknya terluka jika beberapa orang tersebut adalah perampok yang ingin membunuh mereka.
Awyati kemudia berlari dan melompat diantara semak seraya melemparkan pisau-pisau kecil kearah orang-orang itu. Ia yakin pisau-pisau itu pasti akan mengenai orang itu, karena ia sangat percaya diri dengan kemampuan beladirinya.
__ADS_1
Tanpa diduga, seluruh pisau yang ia lempar tidak berpengaruh untuk ketiga orang itu.
“Keluarlah…. Kami tidak akan menyakiti kalian” ucap salah seorang itu.
Awyati tidak ragu-ragu untuk keluar dari persembunyiannya karena ia menyadari ilmu beladiri ketiganya pasti jauh lebih tinggi darinya. Bersembunyi pun ia pasti akan ditemukan dengan mudahnya.
“Maafkan aku senior….” Ucapnya kepada ketiga orang itu.
***
Yantra yang melihat kakaknya bersedih, tidak tega dan hanya bisa menghiburnya. Keduanya kemudian memanggil salah seorang anggota Fraksi Bumi untuk memberinya tugas.
“Natha…. Aku bersama Yantra akan pergi karena ada urusan tapi tidak lama, segala keperluan di fraksi kau yang tangani” ujar Awyati kepada Natha, salah satu anggota fraksi yang paling dipercaya oleh Hara.
“Hara dan lainnya sedang menemui Bangsawan Urdha dan mereka baru akan kembali dalam seminggu” lanjutnya menerangkan.
__ADS_1
“Baik senior…” jawab Natha
Beberapa saat kemudian keduanya tiba-tiba menghilang, yang tampak hanya bayangan hitamnya yang melesat keatas.
Sesaat kemudian keduanya telah tiba di salah satu kota kecil di sebelah selatan Kota Naga, Kota Danau Langit.
Saat hari mulai beranjak malam, Awyati dan Yantra bergegas ke sebuah rumah ditengah kota. Awyati dan Yantra berhenti tepat di depan gerbang rumah itu. Para pengawal yang sedang berjaga tidak menyadari kehadiran keduanya sampai mereka mulai berjalan mendekat.
“Berhenti” seorang pengawal mencoba menghentikan keduanya.
“Siapa kalian?” tanya seorang pengawal lainnya dengan nada membentak.
“Katakan kepada Paman Sahir, Awyati dan Yantra, anak dari Bangsawan Nara ingin mengambil kepalanya” jawab Awyati lantang.
__ADS_1