
Hara bersama kedua anak tersebut akhirnya tiba di sebuah gubug beratap jerami. Gubug itu tidak begitu luas, namun masih dapat dijadikan tempat tinggal sementara.
Sesaat kemudian Hara terkejut karena melihat terdapat lima orang lagi berada dalam gubug itu. Mereka hidup sangat kekurangan tanpa ada yang memperhatikan keberadaan mereka.
Salah seorang anak itu bercerita bahwa mereka adalah pengungsi dari luar dataran anggrek. Sebelumnya mereka hidup berkelompok bersama orang tua masing-masing. Namun sekitar setahun lalu kelompok mereka diserang oleh perampok.
Seluruh orang tua mereka terbunuh, hanya seorang dewasa yang berhasil membawa mereka pergi, namun ia tewas karena kehabisan darah.
Keberadaan mereka berjumlah total lima puluh orang yang hidup secara terpisah pada msing desa di dataran anggrek. Umur mereka rata-rata belasan tahun dan tidak lebih tua dari Hara.
Hara kemudian memberikan lima puluh perak kepada mereka dan berjanji akan mengusahakan hidup yang layak untuk mereka.
Hara kembali ke penginapan tempat ia menginap dan berusaha mencari ide untuk membantu anak-anak itu.
**
__ADS_1
Dua hari berselang, Hara menemukan sebuah ide untuk membantu anak-anak tersebut juga membantu dirinya dan teman-temannya dalam menjalankan rencananya.
Hara kemudian mengajak keempat lainnya bertemu dengan anak-anak itu. Dalam perjalanan, Hara membeli beberapa makanan yang akan diberikan kepada anak-anak tersebut.
Setelah tiba dilokasi, Hara dkk. berpamitan karena harus menuju Desa Bulan. Ia kemudian berjanji akan mencari jalan keluar atas permasalahan anak-anak itu.
Koin perak yang ia berikan sebelumnya ia yakin dapat digunakan untuk mencukupi kebutuhan mereka selama enam bulan kedepan.
**
Setelah dua hari perjalanan, hara dkk. tiba di kediaman Bangsawan Urdha di Desa Bulan.
“Kalian siapa? Ada keperluan apa?” tanya salah seorang pengawal.
“Namaku Hara, kami ada urusan dagang dengan Tetua” ucap hara.
__ADS_1
Para pengawal itu menyipitkan mata dan mengerutkan alisnya. Anak belasan tahun ingin berdagang dengan tuan besar. Namun begitu mereka tetap memberikan hormat kepada setiap tamu.
Setelah melapor kepada Tuannya, para pengawal tersebut mengantar kelimanya menuju ruang tunggu yang tidak jauh dari kediaman Bangasawan Urdha.
Hara dkk. tidak menunggu cukup lama, mereka langsung ditemui oleh kepala pelayan keluarga. “Maafkan karena Tuan kami sedang ada tamu lainnya, apa yang menjadi tujuan tuan muda ketempat kami?” tanya seorang paruh baya yang menjadi kepala pelayan di kediaman itu.
“Kami ingin membeli lahan disebelah selatan desa, tepatnya di gunung Anggrek. Kami akan berusaha memberikan harga yang menarik jika Tuan Urdha berkenan.” Tawar Hara kepada kepala pelayan itu.
Kepala pelayan itu terpaku mendengar permintaan Hara. “Sepertinya anak ini bukan orang biasa” pikir kepala pelayan itu.
“Kalau boleh tahu, tuan muda ini berasal dari mana?” tanya kepala pelayan tersebut.
“Mohon maaf, kami belum memperkenalkan diri kami, kami hanya pengelana yang berasal dari desa kecil. Kebetulan kami menemukan beberapa sumber daya yang bernilai tinggi sehingga kami berniat membeli lahan disini” terang Hara.
“Perkenalkan nama saya Hara, ini Gana, Adika, Awyati dan Yantra” sambung Hara sambil mengenalkan keempat temannya.
__ADS_1
“untuk urusan sebesar ini biarkan Tuan kami yang mengambil keputusannya, mohon menunggu” ucap kepala pelayan itu kemudian berlalu menghadap Tuan Urdha.
“Mohon titip pesan kami ini kepada Tuan Urdha” sambung Hara seraya memberikan sekantong uang berisi seribu koin emas kepada kepala pelayan tersebut.