
Ketiganya cukup lama menghabiskan waktu di restoran itu. Hingga Hara memutuskan untuk mencari pakain yang cocok untuk mereka menghadiri undangan Bangsawan Urdha.
Ketika pukul sepuluh tepat, ketiganya bergegas ke alun-alun desa, lokasi dimana hari jadi desa diselenggarakan.
Tampak undangan lainnya juga mulai memasuki alun-alun desa. Undangan yang hadir beberapa berasal dari perguruan silat dan sekte aliran putih yang berada tidak jauh dari Dataran Anggrek.
“Salam tiga tuan muda …. Senang melihat anda bertiga disini” sambut Urdha ketika Hara, Adika dan Gana yang baru saja memasuki alun-alun desa.
“Salam Tuan Urdha…” ucap ketiganya sambil mencakupkan tangan mereka.
“Tuan Muda Hara…. Apakah anda bersedia menampilkan sedikit beladiri anda nanti?” tawar Urdha kepada Hara.
“Maksud anda Tuan Urdha” tanya Hara
Bangsawan itu kemudian menjelaskan bahwa tiap tahun penyelenggaraan hari jadi desa akan ada penampilan dari generasi muda masing-masing perguruan untuk menampilkan ciri khas perguruan mereka.
__ADS_1
“Hmm…menarik” pikir Hara.
“Baiklah…kami akan bergabung” jawab Hara mantap.
Bangsawan Urdha mempersilakan ketiganya untuk menempati kursi yang telah disediakan.
“Kami…?” tanya Adika kebingungan. “Apa maksudmu dengan kami?”
“Aku rasa dunia perlu tahu tentang keberadaan kita, jadi kau bisa sedikit menunjukkannya” jawab Hara tersenyum tipis.
“Iya kau yang paling pantas untuk maju ke panggung itu” ucap Gana dengan nada menggoda.
Hara dan Gana tertawa melihat sikap Adika yang merajuk, tetapi keduanya tahu Adika adalah orang yang sangat ingin menunjukkan keberadaan fraksi mereka kepada semua orang.
Festival Desa Anggrek merupakan salah satu acara yang ramai diikuti oleh anggota perguruan maupun sekte. Selain sebagai ajang promosi, mereka juga akan berkompetisi menunjukkan ilmu beladiri dari perguruan mana yang paling hebat.
Sesaat setelah undangan utama hadir, acara segera dimulai. Bangsawan Urdha sebagai tuan rumah menyambut seluruh undangan dengan sangat hati-hati.
Acara seremonial berlangsung hanya setengah jam, dilanjutkan dengan acara puncak yaitu penampilan dari perwakilan setiap sekte maupun perguruan.
__ADS_1
Sebagai penampil pertama adalah perwakilan dari Perguruan Bintang Surga. Seorang anak berumur tujuh belas tahun yang sudah mencapai pendekar bumi dengan tiga ratus kristal energi.
Ia adalah salah satu generasi berbakat yang muncul berkat didikan ketua Perguruan Bintang Surga. Bagi kebanyakan orang di wilayah Kerajaan Naga, mencapai pendekar bumi dengan tiga ratus kristal energi merupakan pencapaian yang luar biasa. Walaupun bukan dianggap sebagai jenius ataupun berbakat.
Kanaka, murid Perguruan Bintang Surga, menampilkan ilmu tombak yang merupakan ciri khas perguruan. Ilmu tombak surga merupakan salah satu ilmu tombak terbaik yang menggunakan serangan dengan mengandalkan kecepatan putaran tombaknya.
Dengan sekali serang, tombak surga bahkan bisa membunuh seekor beruang dewasa hanya dengan sekali pukul.
Banyak ahli beladiri yang cukup kagum dengan penguasaan tombak surga dari kanaka. Mereka semua berpendapat ketika anak ini mencapai pendekar awan maka kekuatannya patut diperhitungkan.
Tidak lama kemudian tiba-tiban Adika melompat ke atas panggung. “Salam Senior… sepertinya tidak seru jika permainan tongkatmu tidak memiliki lawan” ujar Adika lantang.
Seluruh undangan lain tidak mengenal siapa anak yang tiba-tiba muncul itu. Bahkan Bangsawan Urdha termangu melihat Adika yang tiba-tiba membuat gaduh.
Memang dalam penampilan seperti ini, setiap perwakilan perguruan ataupun sekte dapat saling menantang satu sama lain. Ketika itu terjadi maka mereka akan bertarung hingga seorang diantaranya menyerah.
__ADS_1