Pendekar Langit

Pendekar Langit
Ch. 19 Perlawanan


__ADS_3

Hara dan Gana secara diam-diam menggunakan jurus bayangan langit dan mulai melakukan penyergapan kepada para perampok tersebut yang masih bersembunyi.


“Jangan banyak bicara….kami tahu kedua anak itu adalah putra dan putri Bangsawan Nara yang telah tewas sebulan lalu. Harga kepala mereka cukup tinggi jika kami serahkan kepada paman mereka” seru orang tadi.


“Apa kalian yakin mampu melawan kami hanya dengan lima orang?” ujar Hara dengan nada mengejek.


Para perampok tersebut tertawa terbahak-bahak karena menganggap kelima anak kecil itu tidak tahu jumlah sesungguhnya yang mereka bawa.


“Kalian terlalu lemah, bahkan koordinasi diantara kalian sangat buruk, ini membuktikan kalian tidak memiliki kemampuan yang bagus” ejek Gana menimpali.


“Kau….” Salah seorang perampok itu menggeram tidak terima seorang anak kecil berlaku seperti itu.


“Kalian semua serang mereka…” seru salah seorang pendekar awan kepada anak buahnya.


Suasana hening sejenak, tidak ada satupun dari anak buahnya yang bergerak maju. Ketika itu juga muncul sosok lain Hara dan Gana dari belakang mereka membawa pedang yang telah berlumuran darah.


“Pengawasan kalian sangat minim, kesombongan kalian menutupi kemampuan kalian, hal inilah yang menyebabkan kematian kalian pada hari ini” ujar Hara sambil membuang kepala anak buah perampok tadi.

__ADS_1


Perampok yang tersisa hanya lima orang, dua orang pendekar awan dan tiga orang pendekar bumi.


Kelimanya tidak menyangka kedua anak muda itu dengan mudah membunuh dua puluh pasukannya tanpa terdengar sedikitpun.


Sedetik kemudian Adika melesat dan memberikan tiga tusukan pada masing-masing pendekar bumi yang tersisa. Tusukan itu mengenai titik vital dan sontak membuat ketiganya tersungkur tak bernyawa.


Pendekar awan yang tersisa menyadari kondisinya tidak baik. Ia tidak menyangka ketiga anak muda ini telah mencapai tingkatan pendekar awan. Bahkan mereka bertiga jauh lebih kuat dari kedua perampok tersebut.


“Sudah terlambat bagi kalian untuk pergi, aku pastikan kalian akan membusuk ditempat ini” ujar Adika dengan senyum tipisnya.


Kedua perampok tersebut tanpa pikir panjang menyerang ketiganya. Mereka saling bertukar puluhan jurus.


Pertarungan berlangsung tidak begitu lama. Salah seorang perampok telah kehilangan tangan kanannya, sedangkan satunya lagi telah jatuh ketanah tidak sadarkan diri.


Ketiganya tidak membuang waktu terlalu lama untuk bertarung. Akhirnya kedua perampok yang tersisa tewas secara mengenaskan.


Gana kemudian membuat sebuah lubang besar tidak jauh dari lokasi pertarungan. Adika dan Hara berusaha mengumpulkan kayu bakar dibantu oleh Awyati dan Yantra.

__ADS_1


Tidak lama berselang keseluruh jasad perampok tadi dimasukkan kedalam lubang itu dan dibakar agar tidak menimbulkan penyakit dikemudian hari.


Awyati dan Yantra tidak berani berkomentar terlalu jauh tentang pertarungan tadi. Mereka sudah cukup paham dengan kemampuan Hara dkk.


“Kalian tidak usah cemas, kami akan mengajarkan juga kepada kalian ilmu beladiri dan teknik meditasi” seru Hara kepada Awyati dan Yantra.


“sekarang kita adalah saudara, kita berlima tidak memiliki keluarga lain untuk itu kita harus saling mendukung” sambung Hara melanjutkan ucapannya.


“Banyak terima kasih senior” jawab Awyati dan Yantra.


Kelimanya kemudian memutuskan meninggalkan tempat tersebut untuk mencari tempat peristirahatan yang baru.


Setelah berjalan selama satu jam tibalah mereka di sebuah mata air kecil ditengah hutan.


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2