
Kehadiran ketiga pendekar itu sontak membuat seluruh ruangan sangat terkejut.
“Siapa kalian?” tanya Nandra kepada pemuda tadi.
“Kami adalah malaikat kematianmu” jawab Adika sambil mengeluarkan pedangnya.
“kalian……” gertakan gigi Nandra seolah menahan emosinya. Ia tidak pernah dipermalukan oleh siapapun, apalagi hanya anak belasan tahun.
Nandra kemudian menyuruh anak buahnya untuk membunuh ketiga pemuda itu. Tidak ada yang berani maju karena mereka sudah melihat kemampuan ketiganya jauh diatas mereka.
Emosi Nandra semakin memuncak, “apa yang kalian takutkan….” Belum selesai ia berbicara, tubuhnya telah tumbang tanpa kepala.
Keringat dingin mengucur dikening para pengawal dan pendekar yang berada diruang itu. Tidak ada yang berani bergerak banyak, hanya ketakutan yang ada diwajah mereka. Bagaimana mungkin anak muda ini membunuh dengan begitu mudahnya.
Tidak ada yang tahu alasan Hara membunuh Nandra. Hara hanya memedomani pengalamannya dikehidupan yang terdahulu, bahwa pria ini akan menyebabkan kehancuran beberapa perguruan silat kelompok putih.
Tidak lama berselang, kesunyian berubah menjadi semakin mencekam karena muncul seseorang dari balik pintu. Ia adalah pengawal putri malikiya, seorang pendekar tingkat awan. Melihat tuannya tewas, pendekar itu berinisiatif untuk menyerang Hara.
__ADS_1
“apa yang telah kalian lakukan?” hardik pria itu sambil menyerang Hara tiada henti. Magha adalah pengawal utama yang dimiliki oleh Nandra, namun karena peristiwa di paviliun mawar, Nandra menyuruhnya selalu berada bersama Malikiya.
Hara dan lainnya berusaha menghindar dari serangan Magha. Keempatnya telah bertukar puluhan jurus namun belum ada yang keluar menjadi pemenangnya.
“Ilmu bayangan langit” tubuh Hara tiba-tiba menduplikasi dirinya menjadi belasan. Magha yang sebelumnya diatas angin tiba-tiba terdesak karena setiap bayangan Hara yang menyerang Magha memberikan luka yang cukup serius.
Ilmu bayangan langit merupakan ilmu menengah dari kitab bumi dan langit. Bahkan Adika dan Gana pun belum sempurna menguasainya.
Setelah menerima belasan serangan, Magha mulai kehilangan tempo nafasnya. Luka disekujur tubuhnya menurunkan kesadarannya. Luka yang dihasilkan oleh bayangan Hara tidak terlalu dalam, namun mengenai titik vital di tubuh Magha.
“Ilmu panah langit” sebuah panah tenaga dalam menancap didada Magha. Pria tersebut jatuh tersungkur tak bernyawa lagi.
Melihat kejadian itu para pendekar yang lain hanya bisa berlutut memohon ampun.
Hara tidak mempermasalahkan pendekar lainnya. Tujuannya telah tercapai untuk membunuh Nandra. Tanpa nandra tidak akan ada pembantaian oleh kelompok hitam kepada kelompok putih lagi.
“Ayo kita pergi” ajak Hara kepada Adika dan Gana.
__ADS_1
Tidak lama berselang, putri Nandra, Malikiya memasuki ruangan ayahnya karena mendengar keributan. Malikiya syok, hanya bisa terdiam dan jatuh berlutut melihat kejadian itu. Tiba-tiba air matanya terjatuh tidak kuasa menahan kesedihan.
“Apa yang terjadi dengan ayah?” tanya Malikiya kepada para pengawalnya sambil menangisi tubuh ayahnya.
“Siapa yang melakukan ini?” tambahnya bertanya.
“Mereka adalah ketiga anak muda yang beberapa hari kita temui di Paviliun Merah nona. Jawab salah satu pengawal.
“apa ayahku memiliki dendam kepada mereka?” tanyanya lagi.
“sepertinya tidak nona” jawab pengawal lagi.
Dibalik kesedihannya, Malikiya menyiratkan sebuah dendam kepada Hara dkk., sehingga keesokan harinya ia berencana mengumpulkan beberapa pendekar kuat untuk megejar Hara.
__ADS_1