Pendekar Langit

Pendekar Langit
Ch. 25 Gunung Anggrek


__ADS_3

Enam bulan setelah pindah ke Gunung Anggrek, Hara dkk. telah membangun beberapa bangunan utama di Kawasan Gunung Anggrek. Hara mempekerjakan beberapa pendekar dari desa untuk mempercepat pembangunan di Gunung Anggrek.


Setiap pendekar ia berikan satu keping emas setiap hari sebagai balas jasa. Banyak pendekar dari dea yang bersemangat karena bayaran yang mereka terima selama sebulan sama dengan pendapatan mereka selama enam bulan.


Warga Desa Anggrek Merah pun membantu persiapan di Gunung Anggrek dengan menyediakan bahan makanan dan memasak. Mereka yang membantu diberikan balas jasa sebesar seratus koin perak untuk masing-masing orangnya.


Kegembiraan terpancar dari wajah warga desa. Mereka menganggap Hara adalah dewa keberuntungan untuk mereka. Sesekali Bangsawan Urdha mengunjungi Hara dkk. guna memastikan pembangunan disana berjalan lancar.


***


Hara terlihat sibuk membuat pola yang mengelilingi mata air di aula bumi. Ia cukup senang karena lahan yang mereka gunakan terdapat tiga sumber mata air panas.  Dengan adanya mata air panas ia dapat membuat tempat meditasi sesuai pola dalam kitab bumi dan langit.


Pola yang digunakan adalah Mandala Langit dengan seratus delapan titik fraktal disetiap bagiannya. Mandala Langit dapat membantu setiap pendekar untuk meningkatkan kristal energinya sepuluh kali lipat.


Untuk membuat sebuah mandala, seseorang harus mengetahui pola yang tepat. Ketika terdapat kesalahan dalam menggambar pola maka akan mengakibatkan penurunan tingkat bahkan dapat melukai kristal energi.

__ADS_1


“Apa yang kau lakukan?” Tanya Adika penasaran.


“Aku sedang membuat tempat pelatihan untuk kita” jawab Hara tersenyum.


Adika hanya menatap Hara yang sedang sibuk memasang permata terakhit pada tengah mata air itu.


Sesaat setelah semua permata terpasang, Hara kemudian duduk bersila ditengah-tengah mata air dan merapalkan beberapa mantra dari ilmu tujuh langit.


Tiba-tiba muncul cahaya warna-warni yang berasal dari seratus delapan batu permata tersebut. Sontak membuat Adika dan beberapa orang yang menyaksikan kilau cahaya itu terkejut.


Beberapa orang yang berkumpul di Aula Bumi menyaksikan peristiwa itu bagaikan sebuah keajaiban. Mereka semakin mengagumi Hara sebagai pendekar yang serba bisa dan misterius.


***


Saat ini total ada enam puluh lima orang yang berkediaman di Gunung Anggrek. Lima puluh lima diantaranya adalah anggota kelompok dan sepuluh lainnya adalah warga desa yang dipekerjakan oleh Hara untuk menyiapkan kebutuhan sehari-hari.

__ADS_1


Segala aktivitas memang belum sepenuhnya mereka jalankan karena belum rampungnya beberapa bangunan. Namun, Hara telah memberi pelatihan beladiri dan meditasi kepada lima puluh anak pengungsi.


Beberapa diantara mereka ada yang memiliki bakat beladiri dan meditasi yang cukup baik serta integritas yang tinggi kepada Hara.


Ketika Aula Bumi telah selesai, Hara mengumpulkan seluruh anggota kelompok untuk membahas rencana kedepan yang masih dirahasiakan oleh Hara.


Kelima puluh orang tersebut bersama Hara, Adika, Gana, Awyati dan Yantra duduk bersila melingkari mandala yang telah dibuat oleh Hara. Masing-masing orang mendapat posisi duduk tepat pada permata yang ada.


“Mulai sekarang kita semua adalah satu keluarga” ucap Hara pelan namun karena menggunakan tenaga dalamnya, semua orang bisa mendengarnya.


“Susah senang kita hadapi bersama, kesetiaan dan keberanian akan menjadi pedoman kita” lanjutnya lagi.


“Masing-masing dari kalian telah mempelajari teknik meditasi yang sesuai dengan jiwa kalian, dan bulan depan aku akan membagi sebuah ilmu senjata yang berasal dari Gunung Anggrek”


“Untuk saat ini, aku akan mengumumkan sebuah nama untuk kelompok kita, kelompok yang akan menjadi salah satu kekuatan baru didunia persilatan”

__ADS_1


 


 


__ADS_2