Pendekar Langit

Pendekar Langit
Ch. 22 Pencuri


__ADS_3

Desa Anggrek Hijau merupakan desa yang paling dekat dengan Lembah Anggrek. Sesungguhnya kondisi desa-desa ini hampir mirip kota kecil. Dari perputaran ekonomi hingga pengelolaan desa dilakukan dengan sangat baik.


Bahkan desa ini memiliki kelompok pertahanan yang terdiri dari pendekar bumi dan pendekar awan. Keempat desa dipimpin oleh seorang Bangsawan yang baik hati namun memiliki tingkatan ilmu yang sangat tinggi, yaitu pendekar awan putih.


Desa Anggrek Hijau merupakan desa pertama yang bisa dilalui oleh setiap orang, karena untuk memasuki dataran anggrek hanya tersedia satu jalan utama.


Di setiap satu kilometer akan ada pos penjagaan yang dijaga lima sampai sepuluh orang. Hara dkk. tiba di pos pertama, ia kemudian melaporkan keperluannya dan melanjutkan perjalanan.


Sesampainya di Pos terakhir atau pintu gerbang Desa Anggrek Hijau, Hara dkk. terpesona menatap betapa megahnya gerbang desa dan dinding pagar pembatas desa tersebut.


Dinding pembatas tersebut dibangun membentang menghubungkan Gunung Anggrek hingga bukit yang berada di Lembah Anggrek.


Hara dkk. kembali diperiksa oleh para prajurit yang menjaga gerbang desa. Prajurit tersebut kebingungan karena kelimanya tidak membawa satu barangpun. Yang tidak mereka sadari, pedang dan barang lainnya berada dalam cincin bintang.


Kelimanya menyusuri jalan yang masih ramai orang lalu-lalang padahal hari sudah menginjak petang. Hingga kelimanya tiba disebuah restoran, salah satu restoran terbesar yang ada di Desa Anggrek Hijau.


Setelah menyantap makan malam, mereka mencari sebuah penginapan untuk beristirahat. Hara kembali melanjutkan meditasinya, begitu juga keempat lainnya.

__ADS_1


Keesokan harinya, Hara berusaha mengelilingi desa seorang diri. Ia menggunakan jurus bayangan bumi dan langkah awan agar tidak ada yang menyadari keberadaannya.


Disebuah ujung jalan kecil, Hara menemukan dua orang anak berlari sambil membawa roti. Mereka dikejar oleh beberapa orang membawa golok dan tongkat.


“Sepertinya anak-anak ini butuh bantuan” bisik hara dalam hatinya seraya melompat turun dari atap sebuah rumah.


Kedua anak yang sebelumnya berlari kemudian terjatuh karena melihat Hara tiba-tiba muncul dihadapan mereka.


“Maafkan kami tuan...” tangis seorang anak sambil berlutut memegang kaki Hara. Mereka mengira Hara datang akan menangkap kedua anak tersebut.


Tidak lama datanglah kedua orang yang tadi mengejar anak tersebut. “Terima kasih anak muda, kamu telah menangkap mereka” ujar seorang dari mereka.


“Mereka telah sering kali mencuri roti dari toko kami” jawab seorang lainnya.


“Mengapa tidak kalian lepaskan mereka, mereka hanya anak-anak yang sedang kelaparan” ucap Hara.


“Tidakkah kalian merasa kasihan pada mereka?” tanyanya kembali.

__ADS_1


“Berapa harga roti yang mereka ambil?” Hara kembali melanjutkan pertanyaannya.


“Tidak banyak… hanya sepuluh perunggu” jawab seorang lainnya. Kedua orang itu tidak berani terlalu memaksa Hara karena mereka melihat Hara yang dengan mudah turun dari atap rumah, jadi mereka berasumsi Hara adalah seorang pendekar.


Hara kemudian mengeluarkan sekeping perak dari kantongnya. Ia berikan kepada kedua orang itu. Tanpa pikir panjang, keduanya langsung kembali meninggalkan Hara dan kedua anak tadi.


“Apa yang kalian lakukan? Ayo bangunlah…” seru Hara kepada kedua anak itu.


“Baik tuan….” Keduanya bangkit namun tidak berani menatap Hara secara langsung.


“Mengapa kalian mencuri?” tanya Hara kepada kedua anak itu.


“Maafkan kami tuan, kami adalah yatim piatu….” jawab seorang diantaranya.


“Kalian tinggal dimana?” tanya Hara lagi.


“Kami tinggal dipinggir desa” jawabnya lagi.

__ADS_1


“Antarkan aku kesana” seru Hara.


Keduanya saling bertatapan, namun akhirnya mereka pergi bersama menuju tempat tinggal mereka.


__ADS_2