Pendekar Langit

Pendekar Langit
Chapter 29. Keributan


__ADS_3

 


 


“Kau bocah ingusan berani menantangku, sebutkan asal perguruanmu. Jangan-jangan kau hanya berasal dari sekte kecil” Ujar Kanaka.


“Mohon perhatiannya….” Urdha tiba-tiba berbicara. “Pertarungan akan dilanjutkan hanya untuk saling mengukur kekuatan, bukan untuk saling menghabisi” lanjutnya lagi.


Seseorang kemudian melompat ke atas panggung, ia adalah salah satu pengawal Bangsawan Urdha yang sudah mencapai pendekar tingkat awan.


“Ijinkan aku yang menjadi wasit untuk kalian berdua” ucapnya.


“Baiklah…. Jangan menangis ketika kau merasakan pukulanku” ujar Kanaka menambahkan lagi.


“Kau seperti banci yang terlalu banyak bicara…. Buktikan saja omonganmu” jawab Adika seketika membuat Kanaka murka.


Kanaka menyiapkan kuda-kuda kemudian mulai menyerang Adika dengan jurus andalannya, tombak surga.


Adika hanya bergerak kesamping kanan dan kiri menghindari hujaman tombak Kanaka dengan mudahnya.


“Hanya ini kemampuanmu?” cibir Adika.

__ADS_1


Kanaka yang tidak terima perkataan Adika kemudian menambah kecepatan serangnya menjadi delapan puluh persen. Awalnya ia tidak ingin menggunakan seluruh kekuatannya karena lawannya jauh lebih muda darinya.


Serangan demi serangan Kanaka tidak satupun mengenai Adika. Dengan senyuman di wajahnya iya semakin mengejek Kanaka karena ketidak mampuannya.


Undangan yang melihatnya terpukau dan terpana karena keahlian Adika yang berumur lebih muda dari Kanaka namun kemampuannya jauh di atas Kanaka.


Setelah mengeluarkan puluhan pukulan, Kanaka semakin murka dan membabi buta menyerang Adika.


Tiba-tiba “Bam…..” tubuh Kanaka terpental kebelakang dan terjatuh. Hanya dengan sekali pukul Adika berhasil menjatuhkan Kanaka.


Seluruh perwakilan perguruan maupun sekte bergeming melihat Kanaka terjatuh, mereka tidak mengetahui apa yang terjadi.


Hanya undangan yang memiliki kemampuan di atas pendekar awan emas yang mampu melihat apa yang terjadi.


Undangan yang berasal dari perguruan dan sekte lain cukup terkagum dengan kekuatan yang dimiliki oleh Adika. Diumurnya yang masih muda ia mampu memiliki kekuatan yang begitu besar.


“Para senior sekalian… perkenalkan aku adalah Adika dari Fraksi Bumi memohon arahan untuk pertandingan selanjutnya” seru Adika lantang menantang perwakilan dari perguruan dan sekte yang hadir.


Hara dan Gana tersenyum tipis, awalnya Adika mengomel karena harus maju, sekarang yang terjadi malah sebaliknya.


Bangsawan Urdha pun tidak menyangka Adika memiliki kekuatan yang sangat tinggi. “Silahkan dilanjutkan….” Ucapnya memberikan persetujuan untuk pertandingan selanjutnya.

__ADS_1


Seorang pendekar bumi lainnya kemudian melompat keatas panggung. “Kau sepertinya perlu belajar sopan santun” ucapnya kepada Adika.


“Silahkan senior yang sopan” cibir Adika seraya tersenyum jail.


Pemuda itu adalah Madyama, seorang pendekar bumi lainnya berumur dua puluh tahun. Madyama berasal dari aliran putih, Sekte Bukit Bambu.


Madyama menyerang Adika dengan kekuatan penuhnya tanpa ragu sejak serangan pertama.


Adika menyadari Madyama ini salah satu orang berbakat yang diumur dua puluh ini mampu berada dipuncak pendekar bumi.


Tidak banyak pendekar seperti Madyama, biasanya dengan sumber daya yang tinggi sekalipun seorang pendekar hanya mampu mengumpulkan tiga ratus lima puluh sampai empat ratus kristal energi di usia dua puluhan.


Serangan utama dari Sekte bukit Bambu adalah tubuh besi. Tubuh mereka akan sekuat besi denga bantuan Tenaga dalam. Semakin besar tenaga dalamnya semakin kuat tubuh mereka.


Dengan kekuatan Adika saat ini, ia tidak takut dengan tubuh besi. Di alun-alun desa hanya sedikit yang menyadari Adika sudah mencapai pendekar tingkat awan kuning.


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2