Pendekar Langit

Pendekar Langit
Chapter 39. Medali Naga


__ADS_3

Gajendra menerima kemudian membuka kotak tersebut. Saat melihat isinya, mulut Gajendra terbuka namun tidak mampu berkata-kata.


Perlahan ia mengambil sebuah cincin bintang dan menatapnya kearah langit.


“Ini adalah cincin bintang…. Dikerajaan ini hanya Raja yang memilikinya, dan itupun merupakan peninggalan secara turun temurun” terang Gajendra.


Gajendra kemudian mengambil lagi sebuah medali yang berukiran naga. Medali tersebut merupakan medali kerajaan yang telah lama hilang. Ia dapat mengetahuinya karena pernah membaca dalam sebuah literatur sejarah ribuan tahun yang lalu.


“Tuanku….. sebagai awal perkenalan kami, hanya itu yang bisa kami berikan, mudah-mudahan dengan kembalinya dua pusaka kerajaan tersebut dapat menguatkan posisi anda sebagai calon raja berikutnya” ujar Hara.


Gajendra terperangah mendengar perkataan Hara. Walaupun ia masih muda namun mampu membaca situasi politik dengan baik.


“Hahahaha…… kalian terlalu merendah…. Ini adalah pemberian yang tidak mungkin ada imbalannya” ujar Gajendra seraya tertawa riang.


Dengan adanya medali dan cincin itu ia dapat meyakini Raja akan menaruh harapan yang besar kepada dirinya suatu saat kelak.


Pembicaraan dilanjutkan dengan saling bertukar cerita dimasing-masing pihak. Hara kemudian menceritakan niatnya untuk menyebarluaskan pengaruh dagangnya hingga ke penjuru negeri.

__ADS_1


Tentu saja Gajendra sangat setuju dan mengijinkannya. Hara juga memberikan potogan harga kepada Gajendra sebesar sepuluh persen setiap pembeliannya.


Pertemuan tersebut cukup lama dan diakhir pertemuan, Hara kembali memberikan sekotak ramuan jiwa emas kepada Gajendra sebagai ucapan terima kasih.


Setelah mencium isinya, Gajendra kembali terperangah, ramuan ini begitu kuat bahkan lebih kuat berkali lipat dari pil jiwa emas.


“Anak ini tidak henti-hentinya membuatku terkejut” pikir Gajendra.


Bangsawan Urdha dan Hara kemudian pamit meninggalkan pendopo. Sebelum pergi, Pangeran Gajendra memberikan sebuah plakat kerajaan kepada Hara jika suatu hari nanti ingin bertemu dengannya tanpa harus membuat janji terlebih dahulu.


***


“Dan…. Dua orang diantara Pavilium Anggrek Emas itu adalah orang yang telah membunuh Bangsawan Sahir” pendekar itu lanjut menjelaskan.


“Apa…” teriak Bramaraka lantang penuh emosi.


“Segera kumpulkan dua orang pendekar langit dan loma puluh pendekar awan, habisi mereka” seru Bramaraka.

__ADS_1


Para pengawal lainnya tidak berani membantah, walaupun perintah ini sama saja mengosongkan pertahanan yang dimiliki oleh Pangeran Bramaraka.


Pendekar langit yang didatangkan oleh Bramaraka adalah berasal dari sekte hitam, Topeng Tengkorak. Sekte Topeng Tengkorak merupakan salah satu sekte pendukung Pangeran Bramaraka untuk menggulingkan pemerintahan.


Ketua Sekte Topeng Tengkorak adalah Cyuta seorang pendekar langit yang telah berusia delapan puluh tahun. Pendekar langit lainnya adalah adik seperguruannya, Dalu, berusia lebih muda dua tahun dari Cyuta.


Sesuai dengan namanya, ciri utama sekte ini adalah setiap anggotanya menggunakan tengkorak hitam. Setiap warna menandakan posisinya, hitam adalah anggota, putih adalah tetua, dan merah adalah ketua sekte.


***


Sesampainya di Pavilium Anggrek Emas, Hara dkk. bergegas masuk kedalam ruang tengah. Mereka menyadari pertemuan bersama pangeran ada yang memata-matai. Mereka berspekulasi bahwa yang memata-matai adalah suruhan dari salah satu pangeran yang bermusuhan dengan pangeran Gajendra.


Ketika langit mulai menuju malam hari, Hara merasakan hawa membunuh yang cukup banyak mengelilingi Pavilium Anggrek Emas. Tidak hanya Hara, keempat rekannya pun merasakan hal serupa.


Kelimanya bergegas berkumpul kemudian bergerak menuju atap pavilium. Hara dkk. melihat setidaknya ada lebih dari lima puluh orang yang telah mengepung Pavilium Anggrek Emas.


 

__ADS_1


 


__ADS_2