
Ketika pintu langit terbuka, maka akan terjadi pertempuran besar lainnya antara para dewa dan ashura seperti jutaan yang lalu.
Hara menyadari ini merupakan masalah yang serius. Abhipraya kembali bercerita, sesuai perhitungan waktu, sepertinya Abhipraya dikehidupan Hara yang lalu sudah mengetahui akan ada kondisi seperti ini. Sehingga ia memilih orang yang ia percayai untuk menyiapkan diri seperti Hara.
Sebelum berpisah, Abhipraya menyarankan Hara agar segera meningkatkan kekuatannya mencapai tingkatan keabadian. Karena hanya pada tingkatan itulah ia akan mampu menghadapi pertempuran besar.
Ia juga memberikan sebuah kitab yang bertuliskan Ruang dan Waktu. ketika menerimanya Hara sangat terkejut, “ini adalah kitab penguasaan hukum alam” gumamnya dalam hati.
**
Adika tengah bertarung dengan sengit, perpaduan antara ia dan Gana mampu menahan sepuluh bahkan lebih pendekar bumi yang berada di tingkatan puncak.
Jika bukan karena melindungi Hara, keduanya tidak mungkin terpojok seperti sekarang.
Beberapa saat kemudian Hara membuka matanya dan mendapatkan dirinya sedang berada di sebuah hutan dalam pengepungan setidaknya belasan pendekar tingkat bumi.
“apa yang terjadi?” tanya Hara. Adika dan gana saling berpandangan dan kehabisan kata-kata. “sudah dua hari kau tidak sadarkan diri, dan kini….kau bertanya seperti itu?” tungkas Adika kesal.
__ADS_1
Dua hari yang lalu Adika menemukan Hara tergeletak di lantai kamarnya tidak sadarkan diri. Keduanya tidak mengerti tentang pengobatan, namun saat itu mereka menyadari Hara masih hidup.
Setelah perjalanan selama dua hari, mereka dikepung oleh belasan orang dari keluarga bangsawan Nandra.
Hara cukup sadar untuk mengetahui Adika dan Gana belum menggunakan kekuatannya seratus persen karena tidak ingin melukai kelompok orang itu.
Hara kemudian bangkit dari posisinya, berjalan perlahan menuju kelompok orang tadi. Sesaat kemudian dua orang prajurit yang ia lewati tumbang tanpa kepala. Kondisi itu membuat pendekar lainnya waspada, beberapa dari mereka mulai berjalan mundur.
“kalian mencari lawan yang salah” ucap Hara seraya mengeluarkan ilmu bayangan bumi. Tubuhnya tiba-tiba memudar dan muncul dibelakang pemimpin para pendekar itu.
Hara menghunuskan pedangnya dan berhenti tepat dileher orang itu sebelum ia menghentikannya. “jika ingin hidup, cepat pergi dari sini” ancam Hara.
“tidak perlu tahu kami siapa… kalau memang nyawamu penting, segera tinggalkan kami” pungkas Hara sambil melepaskan auranya dan membuat semua orang merasa ketakutan.
Tanpa pikir panjang sekelompok pendekar itu berlari tanpa bertanya kepada pimpinan mereka. Menyadari anak buahnya sudah lari mendahului, pendekar paruh baya tersebut memutuskan berlari mengejar kawan-kawannya.
Melihat kelompok pendekar itu sudah menjauh, Hara mendekati kedua temannya.
__ADS_1
“sepertinya kalian cukup kesulitan” Hara menyimpan kembali pedangnya kedalam cincin bintang. Ia hanya tersenyum melihat raut wajah temannya yang kesal. Adika dan Gana tahu kalau mereka berani bertarung lebih keras, mereka pasti dengan mudah mengalahkan kawanan pendekar tadi.
“hahaha….. tapi aku harus berterima kasih kepada kalian yang telah menjagaku selama ini” ungkap Hara dengan senyuman diwajahnya.
Keduanya menaikan alis mereka dan berpikir itu bukan sebagai ucapan terima kasih melainkan menyindir.
“Kita harus bergegas ke dataran anggrek, tapi sebelum itu ada yang harus kita lakukan” terang Hara.
Beberapa menit kemudian mereka berangkat menuju kediaman bangsawan Nandra.
Ketiganya menggunakan ilmu bayangan bumi untuk bisa masuk dengan mudah kedalam kediaman.
“Menangkap tiga anak kecil saja kalian tidak mampu” bentak seorang paruh baya kepada pimpinan kelompok penyerang Hara.
“Maafkan hamba tuanku, ketiga anak itu bukan anak-anak biasa, mereka bahkan mampu melawan kami tanpa kekuatan sesungguhnya” jawab pendekar itu.
“Benar sekali.... bahkan jika mau kami bisa saja menghabisi seluruh orang yang ada di kediaman ini” ucap seseorang yang tiba-tiba muncul dari balik kegelapan.
__ADS_1