
“malam ini kita istirahat disini” seru Adika, Hara dan Gana mengangguk setuju. Berlari menggunakan tenaga dalam diusia mereka yang masih muda cukup menghabiskan banyak tenaga mereka.
Dari tengah malam hingga pagi, ketiganya memilih beristirahat sambil berlatih dengan melakukan meditasi. Berkat bantuan ramuan jiwa emas dan air telaga sunyi jumlah kristal energi ketiganya meningkat drastis. Adika memiliki seratus delapan puluh lima kristal energi, Gana memiliki seratus sembilan puluh lima kristal energi, sedangkan Hara memiliki seratus enam puluh delapan kristal energi.
Dari ketiganya memang Hara yang paling lambat dalam meningkatkan kristal energi. Ini karena teknik meditasi yang digunakan berbeda dengan lainnya. Teknik meditasi yang digunakan Hara berasal dari Kitab Bumi dan Langit dimana kristal energi yang terbentuk berukuran lebih besar dari biasanya, namun pembentukannya sangat lama.
Walaupun jumlah kristal energi Hara lebih kecil dari Gana, namun dari segi kekuatan, Hara jauh berada di atas Gana. Ditambah lagi pengalaman dalam pertarungan dari kehidupannya yang lalu.
Setelah pagi datang, ketiganya berangkat ke tempat yang sudah disepakati semalam lalu.
“Hara, apa benar di goa itu ada harta karun?” tanya Gana.
“kita tidak akan tahu jika belum sampai disana” jawab Hara penuh senyum.
__ADS_1
“hahaha… Hara, kau selalu penuh teka-teki” sambung Adika tertawa seraya merangkul pundak Hara.
Gana masih sedih karena dia harus pergi meninggalkan sektenya, rumah tempat kelahirannya. Hara dan Adika menyadarinya, “ayolah Gana…. Jangan bersedih lagi, saat ini kita adalah keluarga, dimanapun kita berada ini adalah rumah kita” sambung Adika sambil menepuk pundak Gana.
Gana mengangguk dan kembali menatap jalan panjang di depannya. Ketiganya memang sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi. Orang tua mereka telah tewas, bahkan Gana sendiri dalam sekte tidak memiliki satupun keluarga lagi.
“mari kita bergegas…” ajak Hara.
Saat senja, akhirnya mereka tiba di sebuah tebing yang sangat tinggi. Hara menunjuk kearah goa tersebut, namun kedua temannya tidak mengetahui bagaimana caranya mereka harus mencapai goa di ketinggian seperti itu.
Hara hanya tersenyum tipis, langkah kakinya perlahan maju dan mulai menggali tanah didepan tebing itu. Beberapa saat kemudian Hara menarik tuas dalam lubang yang telah ia gali, sontak membuat tebing tadi terbuka seukuran pintu dengan tinggi tiga meter.
Adika dan Gana terkejut luar biasa. Mereka terpaku tidak bisa berkata lebih banyak, “darimana Hara bisa tahu hal yang seperti ini?” pikir keduanya.
__ADS_1
“ayo masuk.” Ajak Hara.
Sesaat setelah ketiganya masuk, Hara menarik tuas lainnya di dalam goa. Pintu tadi tertutup kembali kemudian obor tiba-tiba hidup dan menerangi sepanjang jalan. Ketiganya masuk semakin dalam.
Di ruang pertama, Adika tersenyum lebar, “ini harta yang luar biasa” ucapnya penuh semangat. Dalam ruang pertama yang mereka masuki terdapat banyak koin emas dan perak serta perhiasan. Hara segera melihat sekitar mencari barang yang dikehidupannya terdahulu tidak semua orang bisa memilikinya.
Pandangannya terhenti pada sebuah kotak kayu berlapis permata biru. “akhirnya kau kutemukan” bisik Hara dalam hati. Adika dan Gana terheran ketika Hara membuka kotak tersebut yang tampak hanya tiga buah cincin berbahan giok dengan garis emas melingkar bercorak bintang.
“cincin apa itu? Kenapa kau begitu bersemangat?” tanya Gana kepada Hara penuh kebingungan.
__ADS_1