Pendekar Langit

Pendekar Langit
Chapter 34. Keributan di Kota Naga 1


__ADS_3

Mendengar itu para pengawal naik pitam, diserangnya kedua orang itu dengan kekuatan penuh.


“Kau pikir kau siapa berani-beraninya berkata begitu” ujar pengawal tadi.


Para pengawal itu mulai menyerang Awyati dan Yantra. Keduanya dengan mudah menghadapi belasan pengawal yang menyerang.


Keributan dan suara perkelahian terdengar hingga kedalam kediaman. Bangsawan Sahir yang mendengarnya melihat keluar jendela dan mendapati para pengawalnya sedang bertarung dengan dua orang anak belasan tahun.


Dari pertarungan itu, Sahir melihat bahwa para pengawalnya tidak akan mampu menghadapi kedua anak tersebut.


Sahir yang merupakan pendekar awan emas menyadari bahwa kedua anak itu telah mencapai pendekar awan. Ia kemudian memanggil pendekar pengawal pribadinya yang berjumlah sepuluh orang.


Kesepuluh pendekar tersebut paling tinggi telah mencapai pendekar awan putih dan terendah pendekar awan emas. Dengan percaya diri, Sahir keluar menemui Awyati dan Yantra.


Setelah dekat dengan lokasi pertarungan, Sahir melihat kedua anak itu ternyata adalah anak dari Nara.


“Hahaha….kalian datang untuk mengantar nyawa” ujar Sahir lantang.


Pengawal yang tadinya menyerang Awyati dan Yantra memilih mundur setelah mendengar tuannya datang.

__ADS_1


“Kami kesini untuk mengambil apa yang seharusnya milik kami, dan memusnahkan orang yang telah mengambil milik kami” ujar Awyati kepada Sahir


“Kau akan meratapi kesombonganmu….” Jawab Sahir lantang.


“Serang mereka….” seru Sahir kepada pengawal pribadinya.


Kesepuluh orang yang sedari tadi berdiri dibelakang Sahir kemudian maju menyerang Awyati dan Yantra.


Sahir yakin kedua kakak beradik itu akan binasa dalam waktu yang singkat. Namun setelah bertarung puluhan jurus tidak ada tanda-tanda kekalahan dari mereka berdua.


Awyati dan Yantra menggunakan pedang anggrek yang diberikan oleh Hara kepada mereka. ilmu tarian anggrek mereka padukan menjadikan pertahanan yang tanpa celah.


Tanpa pikir panjang Sahir ikut membantu pertarungan, karena pikirnya akan mempercepat mengalahkan kedua anak itu.


Awyati dan Yantra sesungguhnya tidak ingin membunuh banyak orang, karena itu mereka tidak mengeluarkan kekuatan penuh.


“Kakak, sampai kapan kau akan menahan diri?” tanya Yantra yang sedari tadi tidak banyak bicara.


Mendengar tanya adiknya, Awyati tersadar bahwa semakin lama bertarung maka semakin mengundang perhatian khalayak ramai.

__ADS_1


Yantra yang berusaha menahan emosinya kini berubah beringas. Dalam dua gerakan saja ia berhasil membunuh tiga orang pendekar. Awyati yang tidak mau mengulur waktu pun meningkatkan intensitas penyerangannya dan berhasil membunuh empat lainnya.


Sahir yang terkejut melihatnya sadar ternyata kedua kakak beradik ini telah mencapai pendekar tingkat langit. Ia dan yang lainnya bukanlah tandingan seorang pendekar langit, bahkan ini ada dua pendekar langit.


Ia tidak habis pikir, bagaimana kedua anak ini mampu menjadi pendekar langit dalam waktu yang sangat singkat. Tanpa pikir panjang, Sahir menyuruh pengawal mereka yang lain untuk menyerang kedua anak itu.


Tidak lama berselang muncullah sekitar lima puluh pengawal Sahir yang mulai mengepung mereka. Sahir sadar cepat atau lambat mereka akan membantai semua orang, ia memutuskan untuk lari meninggalkan pertarungan.


Melihat kondisi seperti itu, Awyati dan Yantra sesegera menyelesaikan pertarungan agar Sahir tidak lari lebih jauh lagi.


Hanya dalam hitungan detik para pengawal yang berjumlah lima puluh orang lebih telah berkurang setengahnya. Melihat pemandangan itu, para pengawal yang tersisa memilih membuang senjata mereka dan memohon ampun.


*************************************************


Terima kasih yang selalu mendukung Novel ini


mohon bantu love, like & share ke media sosial kamu


salam hangat,

__ADS_1


semoga selalu sehat dan bahagia


__ADS_2