Pendekar Langit

Pendekar Langit
Ch. 13 Konfrontasi


__ADS_3

“kau…..” pengawal itu marah dan mengeluarkan pedang yang sebelumnya masih tersarung di pinggangnya.


Sebelum selesai pengawal itu menghunuskan pedangnya, Adika sudah lebih dulu memberikan pukulan ke perut bagian atas yang menyebabkan salah satu pengawal itu tersungkur memegangi perutnya.


Pengawal lainnya tidak bisa melihat apa yang terjadi, kejadiannya begitu cepat. Sedetik kemudian pengawal yang satunya terlempar menghantam sebuah meja di belakangnya.


Melihat kawannya jatuh hanya dalam dua detik pengawal yang lain semakin emosi dan berusaha menyerang Adika.


“kalian salah karena mencari masalah denganku…” mulut Adika tersenyum sinis seraya berlari maju menuju pengawal lainnya.


Tiba-tiba langkah Adika terhenti karena melihat sosok didepannya.


“sudah jangan buat keributan lagi….” Bujuk Hara yang tiba-tiba berdiri beberapa meter di depan Adika.


Sontak Adika dan pengawal lainnya terkejut, karena kecepatan Hara sangat luar biasa bahkan melebihi Adika. Gana yang sedari tadi bersama Hara tidak kalah terkejut, “sejak kapan Hara ada disana?”


“maafkan kami nona karena sudah berbuat onar disini” ucap Hara berusaha menghentikan pertikaian.


Seorang pengawal mencoba menusuk Hara menggunakan sebilah pisau, namun pisau itu tidak bisa menembus tubuh Hara. Seketika kepala orang yang menusuk Hara terguling dilantai.


Tidak ada satupun yang menyadarinya, beberapa saat kemudian tubuh pengawal tanpa kepala itu tumbang dan mengenai putri bangsawan tersebut.

__ADS_1


Sang putri pun berteriak histeris terkejut melihat peristiwa itu. Pengawal yang lainnya ketakutan tidak percaya bocah kecil itu mampu membunuh seorang pria dewasa bahkan tanpa disadari oleh siapapun.


Adika dan Gana hanya bisa terperangah. Tidak pernah terbesit sedikitpun Hara mampu melakukan hal itu. Adika yang awalnya mengeluarkan segenap keberaniannya, kini seolah merasa kecil dihadapan Hara.


“sudah kubilang mari kita hentikan…. Jangan salahkan aku jika kalian hanya pulang nama” tegas Hara sontak membuat para pengawal yang tersisa berlutut dan memohon ampun.


Beberapa pengawal yang tersisa bergegas membawa mayat temannya, dan menggendong putri bangsawan yan sudah pingsan akibat histeris. Mereka tidak ingin menunggu jika anak muda itu berubah pikiran dan menghabisi mereka semua.


Hara dan Adika kembali ke tempat duduk mereka untuk melanjutkan makan. Namun, sangat jelas diwajah Adika dan Gana selera makan mereka telah hilang.


“Hara…. Bagaimana bisa kau melakukan itu?” tanya Gana memulai pembicaraan yang sebelumnya agak rumit akibat peristiwa tadi.


“melakukan apa?.... aku tidak melakukan apa-apa…” Hara hanya tersenyum


“sudah-sudah…mari kita makan, kita harus mengisi perut untuk menghadapi masalah yang akan datang” jelas Hara sambil tersenyum memotong tanya Adika.


Ketiganya kembali melanjutkan makan mereka. Hara sengaja melakukan hal tadi karena dia memiliki sebuah rencana.


Di kehidupannya yang terdahulu putri bangasawan tadi yang merupakan putri dari bangsawan Nandra. Kepala keluarga bangsawan nandra ini sekali waktu pernah bekerja sama dengan kelompok hitam yang menyebabkan beberapa pendekar dari aliran putih terjebak dan terbunuh.


Putri itu tidak lain adalah Malikiya, yang bertugas saat itu menghubungkan antara aliran hitam dengan kepala keluarga Nandra. Kejadian itu terjadi sesaat sebelum perang awal antara kelompok pendekar putih dan kelompok pendekar hitam.

__ADS_1


*******


Fn:


Terima kasih atas dukungan pembaca yang budiman.


Semoga semangat kalian dalam membaca cerita ini bisa menjadi semangat saya dalam menulis cerita yang menarik.


Kenapa setiap hari hanya 1 chapter?


Alasan utama kenapa setiap hari hanya 1 chapter adalah pekerjaan. Penulis saat ini bekerja di salah satu instansi pemerintah daerah yang memiliki rutinitas dalam waktu kerja. Juga di beberapa waktu sebagai dosen disalah satu PTS. dan diakhir pekan sudah pasti waktunya untuk beristirahat. Nah, kapan saya menuangkan ide ini? Setiap malam jam 11-12.


Apa alasan menulis cerita ini?


Alasannya sederhana, ingin membuat sudut pandang baru dalam menulis sesuatu yang bersifat fiksi. Kita tahu lah ya… menulis karya ilmiah/laporan membutuhkan setidaknya effort yang lebih tinggi. Jadi ketika menulis cerita ini saya menuangkan imajinasi yang ada dalam khayalan menjadi sebuah tulisan.


Kenapa tema cerita ini tentang Re-Life?


Pernah ga sih kita berpikir “seandainya kita bisa mengulang waktu”, menarik bukan? Nah, hal inilah yang saya ingin rasakan, imajinasi ketika kita diberikan kekuatan untuk kembali kemasa lampau.


Untuk saat ini, hanya terima kasih yang saya bisa sampaikan. Semoga cerita ini memberikan sudut pandang baru untuk kita semua

__ADS_1


 


 


__ADS_2