
Sekali lagi, gadis itu terdiam tidak menyangka salah seorang misterius itu tahu seorang anak yang sedang bersembunyi dibalik pohon lainnya adalah adiknya.
“Yan….keluarlah” panggil gadis itu yang akhirnya membuat seorang anak laki-laki yang berusia sekitar sepuluh tahun keluar dari persembunyiannya.
Kakak beradik itu memiliki bakat dan ilmu beladiri yang lumayan. Jika saja seorang pendekar bumi biasa yang menghadapinya maka mereka bukan tandingan kedua kakak beradik ini.
“Siapa nama kalian….dan kenapa kalian ada disini?” tanya Adika
“Maafkan kami senior…namaku adalah Awyati, dan dia adalah adikku Yantra, maafkan kami karena telah menyerang kalian” ucap gadis itu sambil mencakupkan tanngannya.
“hahaha…tidak masalah…. Tapi kalian belum bercerita alasan kalian disini” ujar Adika
Awyati menjelaskan mereka adalah anak yatim piatu yang hidup melalui belas kasihan orang di Kota Naga. Mereka bisa sampai disini karena situasi di Kota Naga kurang kondusif karena terjadi perebutan kursi putra mahkota oleh para pangeran.
Kehidupan mereka semakin sulit karena perbekalan mereka hampir habis, jadi mereka memutuskan untuk berburu. Keduanya memiliki seni beladiri yang cukup baik karena mereka memang berasal dari keluarga bangsawan. Namun karena terjadi penyerangan oleh pendekar aliran hitam, kondisi mereka akhrinya seperti ini.
Tidak ada lagi yang tersisa dari keluarga mereka, beruntung mereka berdua bisa kabur menyelamatkan diri berkat ilmu beladiri langkah angin yang dipelajarinya.
__ADS_1
Mendengar cerita itu, Hara merasa iba dan kasihan. Ia mengetahui bahwa cerita yang diceritakan oleh kaka beradik itu bukanlah sebuah kebohongan.
“Bagaimana jika kalian berdua ikut bersama kami?” ajak Hara. Seketika itu Adika dan Gana menoleh kearah Hara. Awyati dan Yantra pun tidak kalah terkejut.
“Tapi…kami belum tahu siapa senior bertiga? Bagaimana kami bisa ikut?” tanya Awyati ragu-ragu.
“Hahahaha….betul juga, aku adalah Adika, dia Hara dan Gana. Kami adalah pendekar kelana yang lari dari sekte kami.” Jelas Adika sambila menunjuk Hara dan Gana.
“Kalian tidak perlu khawatir, kami bukanlah orang jahat. Kami hanya berkelana mencari beberapa harta karun dan menolong warga yang sedang kesusahan.” Sambung Hara.
Hara berusaha mengumpulkan semakin banyak orang yang akan digunakan dalam menjalankan misinya. Kedua kakak beradik itu cukup lama berpikir, mereka tidak ingin salah dalam mengambil keputusan.
“Baiklah…kami akan ikut dengan senior” jawab Awyati.
“Tidak perlu sungkan begitu, panggil saja kami dengan nama kami, umur kita juga tidak terpaut jauh” ujar Gana yang sedari tadi diam.
Hara dkk. memutuskan untuk beristirahat sejenak karena sore hari sudah mulai tiba. Ia menghabiskan waktu ditempat itu dengan bercerita dan menggali informasi dari kedua kakak beradik tersebut.
__ADS_1
Saat malam tiba, kelimanya dikejutkan dengan penyerangan sekelompok orang bertopeng hitam. Sebenarnya Hara sudah mengetahui kalau sejak tadi siang kedua kakak beradik ini telah diintai oleh beberapa orang.
Ia tidak menyangka sekelompok orang tadi memanggil rekan-rekannya yang lain untuk menyergap mereka.
Awyati dan Yantra sa gat terkejut karena orang-orang tersebut berjumlah dua puluh tujuh orang. Juga terdapat dua pendekar awan dan beberapa pendekar bumi diantaranya.
“Cepat serahkan harta benda kalian….maka kalian akan kami biarkan mati tanpa kesakitan” seru salah seorang pendekar bumi sambil tertawa lantang.
“Apa kalian tidak malu…..menyerang lima orang anak belasan tahun mengajak dua pendekar awan dan beberapa pendekar bumi” tanya Adika tersenyum sinis.
__ADS_1