
Al dan El serta Alena kini berdiri tepat di depan ranjang milik Leo, pria itu menatap ke arah semua orang secara gantian.
Kini Alena melihat ke arah Leo, sembari menggelengkan kepalanya, dan berkacak pinggang.
"Eeemmm, kenapa bisa ke serempet mobil sih?" itu pertanyaan yang pertama di lontar 'kan oleh Alena, setelah menatap Leo begitu lama, dengan kaki kanan yang setengah di perban.
"Iya nih, bikin panik aja!" sahut Al, lalu duduk di tepi ranjang Leo.
"Kalau Kak Xan tau, kita semua bisa di salahin!" ujar El malas, dan berjalan ke arah sofa.
"Rupa nya, kalian disini?" seru seseorang, dan membuat yang lain, menoleh bersama. Alena membulatkan mata nya, begitu juga Al dan El, hanya Leo yang tersenyum ke arah orang yang baru saja datang.
"Leo, apa yang terjadi?" lanjut Xan, yang berjalan ke arah Leo, dan Al segera bangkit dari tempat duduk nya, saat Xan menghampiri Leo.
"Tanpa sengaja aku keserempet mobil, saat menolong anak kecil yang akan ke tabrak!" jelas Leo, sembari melirik ke arah tiga orang yang berdiri di ujung ranjang nya. Mendengar itu, Xan langsung menoleh menatap tajam ke arah mereka semua, yang lebih parah pandangan nya tak lepas dari netra Alena.
"Apa yang kau lakukan sehingga ini bisa terjadi? apa kau tidak becus menjaga Leo? apa kau hanya bermalas - malasan disini, aku tahu, kau hanya menumpang hidup disini 'kan?" berbagai macam pertanyaan keluar dari mulut Xan, dan kini berdiri tepat di depan Alena, menatap wanita itu tajam.
Pandangan Alena pun tidak kalau tajam dari ucapan Xan barusan, namun ia masih berusaha untuk mengontrol diri, bagaimana pun kejadian hari ini adalah salah nya, salah dia yang tidak mengawasi Leo dengan benar.
"Kak, itu bukan salah Alena, salah ku yang pergi tanpa pamit dari jangkauan Alena" Leo, bermaksud untuk membela Alena.
"Benar, disana ada Kami juga, jadi bukan salah Alena sepenuh nya, dan satu lagi Leo waktu itu ke toilet, masak ia Alena harus menemani nya ke toilet, jadi ini bukan salah Alena" ujar Al, yang berdiri di belakang Xan, pria ini tidak bergeming masih menatap Alena dengan dingin.
"Benar kak Xan, Alena tidak salah!" timpal El, dan netra Xan kini beralih ke arah El, yang berdiri tepat di belakang Alena.
__ADS_1
"Apa kau tidak bisa membela diri hanya menunggu di bela oleh mereka semua?" tanya Xan lagi, saat melihat Alena masih diam.
"Apa aku masih berhak untuk membela diri, kalau penjelasan aku belum tentu bisa di terima" jawab Alena, Xan memicingkan mata nya tak memindahkan pandangan nya dari netra Alena.
"Dan satu yang harus Tuan Xan tau, aku tinggal disini tidak gratis, aku berkerja, dan Tuan Xan tau itu, jika memang kesalahan saya tidak dapat di maafkan, saya mengundurkan diri!" ucap Alena, lalu sedikit menunduk dan pergi meninggalkan keempat Tuan muda di dalam kamar tersebut.
"Eh, Alena kau tidak boleh pergi!" teriak Al,
"Iya benar, masak baru kerja berapa hari dia sudah pergi" sambung El, yang menatap malas ke arah Xan.
"Kak, aku masih butuh Alena, selama ini dia sudah benar menjaga ku, bahkan ia membantu aku dalam menyusun skripsi, dan soal kecelakaan ini, Alena tidak bersalah aku yang ceroboh!" Leo, masih berharap kalau Xan mau berubah pikiran nya.
"Kak Xan, kita malah butuh Alena untuk menjaga Leo, tidak mungkin membebankan bibi!" timpal Al, Xan masih berpikir dan belum menanggapi ucapan adik - adik nya.
Di dalam kamar Alena, yang bersebelahan dengan Leo, wanita ini sedang mengemaskan barang nya.
Alena mengeluarkan semua baju milik nya lalu meletakan di atas kasur, setelah itu baru ia masukan ke dalam koper.
Tok ! Tok ! Tok !
Suara ketukan itu, membuat Alena menoleh, kebetulan pintu kamar nya tidak di tutup. Terlihat Xan, yang berdiri di ambang pintu, dengan wajah nya yang dingin sedingin sikap nya.
"Jangan pergi, Leo membutuhkan mu, kami belum menemukan pengasuh baru" ujar Xan, yang kini berjalan ke arah Alena yang masih bengong berdiri di samping ranjang nya.
"Anda bisa mencari nya segera, saya tidak keberatan jika menunggu sehari, dan besok pagi akan pergi dari sini" jawab Alena, sembari memasukan sisa baju nya ke koper.
__ADS_1
'Apa-apaan ini, kenapa aku sedikit kasian mendengar jawaban nya' Xan melirik ke arah jendela, di luar sudah sangat gelap karena ini sudah menunjukkan jam delapan malam, dan di luar sedikit gerimis.
"Tinggal lah lebih lama disini, kamu bisa melanjutkan merawat Leo, dan tidak perlu berhenti bekerja. Aku akan menambahkan gaji mu!" bujuk Xan, tapi tidak ada rasa bersalah dari raut wajah pria itu, dia masih menampilkan pesona dingin nya dengan kental.
Mendengar soal gaji, wajah Alena berubah menjadi lebih bersemangat. Namun, setelah sedikit tersenyum akhir nya ia sadar, kalau ia tidak boleh goyah.
"Tidak Tuan, terimakasih" Alena menolak nya, Xan menaikan satu alis mendengar jawaban Alena.
"Jangan pergi Alena" seru Leo, yang kini berdiri di depan kamar nya, dengan di bantu oleh Al dan El. Alena langsung menoleh.
"Sial, kenapa kau kesini, bagaimana jika kaki mu semakin parah!" Alena menghampiri Leo, dan ingin memarahi pria itu, karena berani turun dari ranjang.
"Kalian berdua apa lupa kata dokter, Leo tidak boleh bergerak dulu, sebelum kaki nya membaik, dan itu bisa membuat pergelangan kaki nya semakin bengkak!" Alena memarahi El dan Al. Orang yang di marahi hanya menanggapi dengan senyuman bodoh mereka, berharap Alena tidak pergi.
"Jangan pergi Alena, jangan tinggalin aku!" mohon Leo dengan wajah sendu nya, membuat Alena tidak tega, bagaimana pun Leo yang paling kecil di keluarga ini, yang pertama dekat dengan Alena.
"Iya jangan pergi Alena" ucap Al dan El bersamaan, semakin membuat Alena dilema.
"Meraka benar, kamu tidak boleh pergi dari sini, Leo masih membutuhkan kamu" ujar Xan,
"Kami juga!" sahut Al dan El, jawaban mereka membuat sang Kakak melongo, sejak kapan mereka dekat dengan Alena, pikir Xan yang bingung.
"Baiklah, sesuai perkataan Tuan Xan, gaji ku akan di tambah" ujar Alena, dengan senyuman licik nya.
"Dasar mata duitan" gumam Xan, Alena langsung menoleh ke arah pria itu, namun Xan segera mungkin memalingkan wajah nya agar tidak melihat Alena, yang sedang menatap nya.
__ADS_1
"Kalau begitu, Leo ayo kembali ke kamar mu, aku akan mengambil makan malam untuk mu.Tuan muda Xan, Al dan El, kalian bisa makan di bawah, aku akan meminta Bibi untuk menyiapkan makan malam kalian"
Setelah mengatakan itu, Alena segera pergi, Al dan El membawa Leo ke kamar nya, dan Xan pun keluar dari kamar Alena, kembali ke kamar sendiri untuk mandi lebih dulu, setelah itu baru turun untuk makan.