Pengasuh Keempat Tuan Muda Somplak

Pengasuh Keempat Tuan Muda Somplak
Malam


__ADS_3

Xan yang sudah pulang lebih dulu, malah cemas menunggu sang istri yang belum pulang.


Bahkan Leo, juga belum kembali karena ada jadwal shif malam, Leo menginap di rumah sakit.


"Kak, sudah kamu hubungi Alena?" tanya Al, dan El juga berada di sofa yang sama dengan Al.


"Sudah, tapi ponsel nya mati, aku tidak dapat menghubungi nya" tukas Xan, yang begitu panik. Lalu Xan, pergi menuju pintu utama, berharap Alena segera kembali.


Ceklek !


Begitu pintu utama terbuka, Alena baru saja terlihat dari arah pagar, Alena ternyata baru pulang. Xan, yang melihat Alena pulang bergegas menghampiri nya di pagar.


"Sayang, kenapa pulang begitu lama, kau membuat ku khawatir" Xan memeluk Alena, wanita ini tidak menjawab nya ia terlihat begitu lelah.


"Kak Xan, aku capek. Biar 'kan aku masuk lebih dulu, aku juga lapar" ujar Alena, dengan raut wajah yang cemberut.


"Oke, oke. Ayo kita masuk"


Xan, membawa Alena masuk ke dalam rumah, disana sudah ada Al dan El menuggu.


"Dari mana saja kamu Alena, membuat kami cemas saja!" tukas El, yang menatap Alena yang berdiri di samping Xan.


"Ya kerja lah kak, dari mana lagi aku" jawab Alena males, lalu berjalan ke arah meja makan.


"Bi Yem. Siap 'kan makan malam untuk Alena" titah Xan,


"Baik Tuan"


Tak perlu menunggu waktu lama, makanan pun tiba ke hadapan Alena, dan Xan melihat nya dengan senyuman, saat Alena menikmati makanan tersebut.


"Hoeek..!"


"Hooek..!"


Alena langsung berlari ke arah dapur, dan memuntah 'kan semua isi perut nya. Xan, yang melihat itu juga ikut menyusul dan khawatir dengan kondisi Alena.


"Apa yang terjadi, kamu sudah muntah sejak tadi pagi" tukas Xan, yang membantu memijit tekuk Alena.


"Aku juga tidak tahu, aku tadi pagi hanya masuk angin, di tempat kerja tadi juga baik-baik saja" ujar Alena, yang membersihkan mulut nya.

__ADS_1


Begitu selesai, Alena keluar dari dapur, dia tidak berselera lagi melihat makanan di atas meja.


"Aku tidak ingin makan lagi, aku ingin ke kamar, mau istirahat saja, badan ku pegal semua, dan kepala juga sakit" keluh Alena, Xan pun membantu membawa Alena ke kamar mereka.


"Apa yang terjadi? kenapa wajah nya pucat?" tanya Al, yang tak sengaja melihat mereka berjalan ke arah kamar, yang berpapasan dengan Al.


"Katanya kurang enak badan" jawab Xan, yang menuntun Alena menuju tangga.


"Hubungi Leo, suruh dia pulang, dia bisa membantu Alena" saran Al, tapi Alena menolak untuk mengganggu Leo yang sedang bekerja.


"Tidak usah repot-repot kak, aku akan baik - baik saja!" Alena meminta Xan, untuk segera membawa nya ke kamar.


Tiba di kamar, Xan membantu Alena berbaring. Lalu ia pergi mencari obat masuk angin, begitu dapat Xan, langsung memberikan nya untuk Alena.


"Kalau besok, enggak membaik kita kerumah sakit" ujar Xan, yang membantu menyelimuti tubuh Alena. Alena hanya mengangguk, lalu memejamkan mata untuk istirahat.


Mengetahui Alena sudah tidur, Xan mematikan lampu kamar, hanya menyisakan lampu tidur saja.


Blam!


Xan, meninggal 'kan kamar nya, lalu kembali turun ke lantai dasar.


"Hamil?" ulang Xan, karena Xan, belum sampai ke pikiran ke situ.


"Iya, biasanya orang yang mual -mula seperti gejala orang yang sedang hamil"


"Tidak mungkin Bi, Alena baik-baik saja dalam beberapa hari ini, tapi kalau besok tidak membaik, aku akan membawa nya ke rumah sakit" ujar Xan, lalu pergi menemui Al dan El.


Terlihat Al dan El yang sibuk dengan laptop mereka, ada banyak pekerjaan yang sedang di siapkan oleh mereka berdua.


"Bagaimana perusahaan baru Kakak?" tanya Al, Xan tidak langsung menjawab, lalu ia membuka iPad nya.


"Perusahaan itu masih di urus oleh Asisten ku, karena aku belum sempat memeriksa nya" tukas Xan.


"Kalau kakak butuh bantuan, aku bisa membantu Kakak untuk mengurus nya, sembari menunggu gedung mu selesai, tapi sampai saat ini aku belum mendapat gambar nya"


"Aku akan menyuruh Asisten ku besok untuk meminta mereka mempercepat proyek mu"


"Eemmm, segera lah kak, aku sudah bosan hanya berada di kantor Al terus, apalagi melihat dia bersama dengan karyawan baru" cibir El.

__ADS_1


"Maka nya cari pacar, jangan iri sama orang" cetus Al.


"Itu juga bukan pacar mu, wanita itu.hanya karyawan mu jangan bangga dulu" bela El, yang tidak mau kalah dengan Al.


"Sudah, kenapa kalian malah berdebat?" tanya Xan. Al dan El pun terdiam, lalu melanjutkan menyelesaikan pekerjaan masing - masing.


Mereka membuka alamat email rahasia mereka yang hanya di ketahui oleh mereka bertiga, Leo dan Alena tidak mengetahui nya, karena mereka tidak ingin melibat dua orang itu.


"Apa rencana kakak mengenai hal ini?"


Xan melihat El, karena El sudah mendapat petunjuk, bahwa musuh yang di maksud Arga sudah mereka ketahui jejak nya.


"Sejak kapan dia tinggal di Indonesia?" tanya Al.


"Menurut berita nya sih, dua tahun terkahir, berarti dia sudah banyak mendapat informasi tentang kita hanya saja, pria itu tidak menampakan dirinya!" pungkas El,


"Siapa nama nya?" Al memang tidak banyak mengetahui hal tersebut.


"Darmon Big, Mafia paling di takuti disini, karena disini mereka berkuasa beberapa tempat yang tidak bisa di sentuh oleh orang lain, selain mereka" tukas Xan.


"Apa rencana kak Xan?"


"Tetap saling berjaga satu sama lain, terlebih Leo, kirim orang untuk mengawasi nya, dan Alena, aku akan mengirim orang untuk menjaga Alena, tapi dia akan curiga jika ada yang mengikuti nya besok !" gumam Xan,


"Tenang, lah. Aku akan bantu cari tahu tempat pekerjaan Alena besok" saran El.


"Kau bantu cari tahu, kalau aku yang cari tahu, takut nya dia akan marah!"


Mereka semua menyusun rencana untuk besok, Al dan El sudah membuat rencana untuk perlindungan Leo dan Alena, agar tidak dapat di sentuh oleh musuh.


Xan, sendiri juga meminta beberapa pengawal dari markas Arga untuk berjaga di rumah.


Setelah merasa semua nya selesai, Xan pun pergi kembali ke kamar, karena dia juga ingin memeriksa keadaan Alena.


Tiba di kamar, Xan langsung memeriksa Alena, dan menyentuh dahi Alena. Tidak demam, berarti Alena hanya masuk angin.


Xan, berinisiatif menggantikan baju istri dengan piyama, agar Alena tidur dengan nyaman.


Setelah selesai, Xan naik ke atas ranjang, dan tidur di sebelah Alena, sembari memeluk istri nya dengan erat.

__ADS_1


"Semoga selama nya, kita bersama" gumam Xan, lalu mengecup kening Alena, sebelum mata nya ikut terpejam.


__ADS_2