
Suasana hening beberapa saat. Lalu, baru lah Arga membicarakan rencana pernikahan Xan.
"Xan, dengarkan Papa. Papa ingin kamu mengambil alih perusahaan Papa yang disini, dan menghandle semua bisnis Papa yang ada disini, dan juga di beberapa tempat. Dan satu lagi, Papa memiliki permintaan, Papa ingin Kamu menikah dengan Alena!" ujar Arga, membuat semua orang disana terkejut, tak kecuali dengan Alena yang baru kembali.
Semua orang menoleh, saat mendengar suara ponsel yang jatuh di tangan Alena, wanita ini ikut terkejut, dan tidak menyangka dengan keputusan majikan nya itu.
"Apa yang Papa katakan, bagaimana bisa aku menikah dengan wanita itu!" Xan, menatap tajam Alena, wanita ini masih bengong dan membatu di tempat dia berdiri.
"Ini sudah menjadi keputusan Papa yang final, kamu tidak bisa menganggu gugat nya lagi. Awal nya Papa ingin Al dan El atau Leo, namun berpikir umur kamu yang sudah pantas untuk menikah di banding dengan adik - adik mu" tukas Arga, semua orang masih dalam keadaan terkejut.
Al melirik ke arah Alena yang masih membatu, Al yang care dengan Alena, tapi Xan yang di pilih Arga untuk menikahi Alena.
"Paman, Aku tidak bisa" lirih Alena, berjalan ke arah mereka semua, dan berdiri tepat di samping sofa di mana Arga duduk.
"Ini semua pasti rencana mu 'kan? bilang saja kamu yang memaksa Papa untuk menyuruh aku menikahi kamu, katakan !" teriak Xan, semua orang terkejut mendengar suara teriakan Xan.
"Tuan, apa yang kamu katakan, aku tidak pernah memaksa paman Arga untuk menikahi Tuan dengan ku, lagian siapa juga yang mau menikah dengan orang seperti Tuan" tegas Alena, dan membalas tatapan tajam Xan.
"Benar kata Alena, dia tidak memaksa Papa. Tapi, ini semua rencana Papa, seusia kamu seharusnya sudah memiliki anak, tapi lihat lah dirimu jangan 'kan anak, bahkan istri saja kamu belum punya. Jadi, Papa sudah putuskan kamu akan menikah dengan Alena. Sebentar lagi dia akan wisuda, dan sudah cocok jika menikah di usia nya" Arga melirik ke arah Alena, yang masih membatu di sebelah sofa tempat Arga duduk.
Xan berkali-kali menggertak gigi nya, menatap lekat ke arah perempuan yang berdiri di sebelah sofa Arga.
"Tidak, Xan tidak akan menikahi Alena Pah" tegas Xan, yang kini berdiri dari tempat duduk nya, pandangan Xan semakin lama semakin tajam melihat ke arah Alena.
"Xan..!" teriak Arga, saat pria itu ingin pergi dari ruang tamu. "Aagrh!, Xan..." lirih nya lagi tapi kali ini menahan rasa sakit, dan memegang dada nya yang sakit.
"Papa" teriak Leo, Al dan El.
"Paman!" Alena juga ikut andil, dalam membantu Arga yang sedang mengalami kesakitan pada dada nya, terlihat Arga yang kesulitan untuk bernafas, mengetahui hal itu, Xan pun berbalik dan kembali ke ruang tamu.
__ADS_1
Dugh!
Xan, mendorong Alena, dan mengambil alih Arga, memangku sang Ayah, Alena terkejut dengan perlakuan Xan yang begitu kejam kepada diri nya.
"Papa, maafin aku pa, ayo kita ke rumah sakit pa. Al ambil mobil, El bantu aku"
"Iya Kak"
"Kak Aku ikut " teriak Leo, yang tertinggal di ruang tamu, Alena segera membantu Leo dan menuntun nya hingga ke teras.
Namun, Xan malah meninggalkan Leo dan Alena di depan rumah, tidak membiarkan mereka untuk naik.
"Kita pergi menggunakan mobil ku" ujar Leo, Alena mengangguk.
"Tapi bagaimana dengan Kaki mu?"
"Tidak apa-apa!"
"Apa kamu baik baik saja?" tanya Leo, Alena menoleh ke arah pria itu, lalu tersenyum.
"Alena boleh kah aku bertanya?"
"Eemmm, iya"
"Apa kamu tidak ingin menikah dengan Kak Xan? setidak nya dia layak untuk mu, dia sudah mampan, aku yakin kak Xan dan Kamu akan bahagia selama nya, jika kalian menikah!" Leo, mencoba menyakinkan Alena, agar mau menerima pinangan yang di ajukan Arga kepada Alena.
Wanita ini terdiam, dan tidak langsung menjawab nya.
"Apa kamu begitu yakin? tidak apa - apa jika takdir ku menikah dengan orang yang tidak mencintai ku. Tapi, Leo aku tidak akan sanggup jika harus tinggal bersama dengan nya, kamu sendiri dapat melihat nya Tuan Xan, tidak pernah menyukai ku selama aku tinggal di rumah kalian" ungkap Alena, raut wajah nya terlihat sendu. Dan Alena hanya mampu menundukkan wajah nya sepanjang perjalanan menuju rumah sakit.
__ADS_1
"Aku mengerti dengan perasaan mu, maafkan Papa yang sudah memaksa mu Alena"
"Paman tidak bersalah, aku sudah menganggap Paman seperti orang tua ku. Jika bukan karena paman, mungkin kuliah ku akan terganggu dan bisa jadi aku tidak dapat menyelesaikan nya tepat waktu, Paman sangat berjasa dalam hal itu, aku berhutang banyak pada Paman Arga!" Alena tersenyum melirik ke arah Leo, Pria itu tersenyum.
'Aku baru melihat sisi lembut nya, ternyata Alena yang begitu kuat dari luar, namun sangat rapuh dari dalam' Leo, kembali fokus pada jalan, dan kedua nya mulai diam suasana langsung terlihat begitu canggung.
Tiba di rumah sakit, Alena membantu Leo, turun dari mobil. Dan Alena juga membantu memapah tubuh Leo, mereka berdua berjalan ke arah ruangan dimana Arga sedang di periksa.
"Kak, bagaimana keadaan Papa?" tanya Leo, begitu tiba di depan ruangan pemeriksaan, disana juga ada Al dan El, yang menunggu sang dokter keluar. Xan, tidak menjawab, namun dia terus saja menatap Alena dengan tajam, kini kebencian Xan semakin bertambah, Xan berpikir jika ini adalah rencana Alena sejak awal saat dia datang ke rumah mereka.
Merasa pertanyaan nya di abaikan, lalu Leo, berjalan ke arah tempat duduk Al.
"Bagaimana kondisi Papa?"
"Dokter belum keluar, jadi kita belum tahu" jawab Al, yang kini masih cemas menunggu dokter Fino keluar dari ruangan tersebut.
Ceklek !
Begitu pintu ruangan tersebut terbuka, Al dan El serta Xan, langsung menghampiri dokter Fino, begitu juga dengan Leo. Hanya Alena yang mematung di tempat dia berdiri saat tiba sejak tadi.
"Alena, Tuan Arga ingin bertemu dengan kamu" tukas dokter Fino, semua orang menoleh ke Arah Alena, dengan pandangan yang sulit di artikan, terlebih lagi pandangan Xan yang begitu menusuk ke relung hati Alena.
"Masuk lah", lanjut dokter Fino, akhirnya Alena memberanikan diri untuk masuk. Setelah Alena masuk, Fino langsung berbicara dengan mereka mengenai kondisi Arga.
"Tuan Arga, beberapa Minggu yang lalu sangat lelah, kondisi tubuh nya sedang tidak begitu sehat, oleh karena itu tolong dari kalian jangan pernah membuat nya stres dalam beberapa hari ini, karena akibat nya akan lebih parah dari kondisi saat ini" ungkap dokter Fino.
"Tapi, Papa baik - baik saja sekarang 'kan?" tanya Xan,
"Sekarang sudah membaik, namun belum bisa di bawa pulang dengan kondisi nya yang begitu lemah. Tuan Xan, anda juga harus masuk, Tuan Arga membutuhkan Anda. Untuk yang lain, kalian harus menunggu di luar, sampai mereka keluar, tidak boleh banyak yang masuk, kondisi pasien belum membaik!"
__ADS_1
"Eemm, aku akan masuk" Xan langsung masuk, dan meninggalkan ketiga adik nya di luar, setelah Xan masuk, dokter Fino pun berlalu dari hadapan mereka semua.