
Tiba di lantai dua, dimana ruang Divisi milik Alena berada, disana sudah ada Yuni, manusia yang paling julid dan selalu menindas Alena.
Namun, ternyata Sarah, juga sudah tiba di kantor, Sarah langsung menyambut hangat kedatangan Alena.
"Alena" panggil Sarah, Alena menoleh, Sarah langsung memeluk Alena, membuat Alena terkejut, begitu Sarah memeluk Alena, Sarah juga terkejut, seperti ia menekan sesuatu.
"Alena," seru Sarah, melepas pelukan nya, lalu memegang ke dua lengan Alena, dan menatap intens ke arah Alena.
Alena, yang merasa di lihat begitu pun sedikit merasa risih, entah kenapa ia takut kalau Sarah tahu, bahwa diri nya tengah mengandung. Padahal, Alena punya suami entah kenapa ia merasa takut saja karena pasal nya mereka tahu Alena, anak magang yang baru lulus kuliah.
"Ada apa kak? apa ada sesuatu?" tanya Alena, Sarah langsung tersenyum dan mengubah ekspresi nya.
"Aku kangen kamu, sudah lama kita tidak bertemu," ujar Sarah, lalu mengajak Alena untuk pergi ke ruang Divisi.
Xan, tidak lagi merasa khawatir meninggalkan Alena di XAEL. Seluruh tempat sudah di penuhi dengan cctv. Apapun yang terjadi di Xael, Xan akan lebih dulu tahu, karena CCTV di Xael terhubung dengan iPad Xan.
Tiba di ruang Divisi, semua karyawan melihat ke arah Alena. Terlebih lagi, Yuni menatap Alena tak suka. Namun, kali ini Yuni belum berniat untuk mengusik ketenangan Alena, karena Yuni tahu, sejak dari tadi Andra memantau ruangan nya.
__ADS_1
'Aku harus bersikap baik di depan Pak Andra, biar nanti dia membantu aku untuk dekat dengan Pak Xan,' batin Yuni yang sedang berkhayal.
Alena langsung duduk di meja nya, begitu juga dengan Sarah. Bima, yang baru datang menyapa Alena, karena sudah dua bulan Bima tidak melihat Alena. Namun, semua orang tahu Alena sakit, saat melihat surat izin yang di kirim Xan, untuk Maya atas nama Alena.
Andra sudah dua kali ke ruangan Divisi milik Alena, untuk melihat keadaan Alena, atas perintah Xan.
Alena yang merasa diri nya di awasi oleh Andra pun duduk dengan tidak nyaman. Alena berusaha untuk mengindari agar tidak bertemu dengan Andra.
Namun, gelagat Alena di perhatikan oleh Yuni, sejak tadi. Dan membuat Wanita ini penasaran, dan langsung mendekat ke arah meja Alena.
"Kak, boleh enggak minta nya sama OB saja, hari ini Alena banyak sekali kerjaan nya," tukas Alena, sembari memperlihatkan layar komputer nya kepada Yuni.
"Kau berani membantah?" Yuni tidak suka perintah nya di bantah oleh Alena, dan langsung memarahi Alena.
"Ada apa ini?" suara Andra mengejutkan Alena dan juga Yuni, wanita ini langsung mundur dan berjalan ke arah meja nya.
"Pak Andra, tumben disini, apa juga Pak Xan ada disini?" tanya Yuni, Andra tidak menggubris nya, tetapi Andra malah bertanya kepada Alena.
__ADS_1
"Alena apa kamu baik-baik saja?"
"Ah, iya. Saya baik-baik saja Pak, " jawab Alena sembari tersenyum ke arah Andra, pria ini mengangguk mengerti.
Sebelum Andra memutuskan untuk pergi meninggalkan ruangan Divisi milik Alena. Andra terlebih dulu memberi peringatan kepada Yuni, agar tidak menganggu Alena. Tanpa memberitahu bahwa di dalam ruangan tersebut terdapat cctv.
Baru saja pergi dari ruangan Alena, ponsel milik Andra berdering dan panggilan itu berasal dari Xan.
"Iya, Pak."
[Andra, siapkan semua dokumen proyek Xael, dan kirim ke Fernandez aku akan memeriksa nya di sini, saat ini aku tidak bisa kesana!]
"Baik, Pak. Segera saya laksanakan"
Xan, memutuskan panggilan sepihak, Andra segera pergi menuju ruangan CEO yang ada di lantai yang berbeda dengan ruangan Divisi.
Tiba di ruangan CEO. Andra langsung mengambil beberapa dokumen yang di minta oleh Xan, dan segera pergi meninggalkan kantor XAEL, menuju Fernandez.
__ADS_1