
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Yuni langsung mengguyur satu gelas minuman orange jus ke arah Alena, membuat karyawan lain, menoleh ke arah Alena dan Yuni.
Bima dan Sarah, ikut terkejut. " Yuni, apa yang kamu lakukan, kamu sudah keterlaluan!" bela Bima, Sarah ikut membantu Alena.
Karena merasa ditindas, Alena pun berdiri dan ingin melawan semua ucapan Yuni.
"Aah!" teriak Yuni, disaat Alena membalas mengguyur Yuni dengan segelas minuman mocca latte milik Bima.
"Apa-apaan kamu ini, kamu sengaja, Haah?"
"Kakak yang lebih dulu menyiram aku dengan segelas jus, " ketus Alena, yang sudah hilang rasa sabar nya.
"Apa - apaan ini?"
Semua orang menoleh, melihat ke arah sumber suara, termasuk Sarah dan Bima juga ikut melihat ke arah sumber suara tersebut.
__ADS_1
Ternyata, Maya yang datang menghampiri mereka semua, Sarah dan Bima langsung berdiri dari tempat duduk, disaat Maya sudah tiba di meja makan.
"Bu, liat lah. Anak magang ini kurang ajar sekali," ketus Yuni, dan menatap geram ke arah Alena, yang sudah menyiram wajah nya dengan minuman mocca.
"Bu, bukan salah Alena, tetapi...."
"Yang junior harus lebih menghormati senior. " tegas Maya, Alena langsung tak terima dengan ucapan Maya, karena biar pun dia junior, kalau yang salah senior, tetap juga harus meminta maaf duluan.
"Tapi Bu, disini yang salah lebih dulu, Kak Yuni. Karena, dia yang menyiram saya lebih dulu," Alena membela diri.
"Benar," timpal Sarah dan Bima.
"Alena, kamu ikut ke ruangan saya, Kita perlu bicara!" tegas Maya, Alena pun pergi mengikuti Maya menuju ruangan nya sendiri.
Yuni yang merasa menang pun, tersenyum smirk ke arah Alena yang mengikuti Maya ke ruangan nya.
__ADS_1
"Yuni, kau enggak ada kapok-kapok nya ngerjain anak magang, kenak batu baru tahu, kau." cibir Sarah,
"Bukan urusan mu, urus saja pacar mu itu," sembari melihat ke arah Bima, dan berlalu pergi.
"Kau menceritakan nya kepada dia?" bisik Sarah, Bima langsung menggelengkan kepala nya, yang memang tidak mengatakan apapun kepada Yuni, tentang hubungan mereka berdua.
Di tempat lain, Alena kini tiba di ruangan Maya. Maya langsung duduk di kursi milik nya, dan begitu juga Alena, yang duduk di depan Maya.
"Alena, disini aku tidak ingin membela siapapun, aku percaya kamu tidak akan mungkin menjahati orang lain. Namun, ada satu hal yang ingin aku tanyakan, apa benar kamu menggoda Tuan, Xan?"
Alena terkejut, mendengar pertanyaan itu, bagaimana mungkin Alena menggoda suami nya sendiri. Yang ada memang Xan, yang selalu menggoda nya.
"Alena, Alena!" panggil Maya, yang di abaikan oleh Alena.
"Ti-tidak Bu, saya tidak menggoda siapapun disini, lagian saya udah menikah Bu, dan saat ini saya tengah hamil, ini hanya ibu yang tahu, tolong jangan sampai orang lain tahu, " tukas Alena, Maya terdiam mendengar pernyataan Alena.
__ADS_1
"Oh, selamat. Semoga lancar sampai lahiran, tapi Alena, kamu sudah menikah? kenapa si surat lamaran status kamu masih belum menikah?" tanya Maya yang penasaran.
Memang benar, Alena dan Xan belum mendaftarkan pernikahan mereka di kantor sipil. Mereka hanya memiliki surat nikah sah saja, tapi tidak dengan buku nikah, hal itu membuat Alena bingung.