Pengasuh Keempat Tuan Muda Somplak

Pengasuh Keempat Tuan Muda Somplak
Kantor


__ADS_3

Setelah makanan sampai, Alena memberitahu Yuni, wanita itu segera pergi ke lobi untuk mengambil makanan yang di pesan Alena.


Dengan perasaan yang senang Yuni berjalan ke arah ruangan CEO, dimana Xan, dan yang lain sedang berbincang membahas pekerjaan mereka.


Tok ! Tok ! Tok !


"Masuk!" sahut Andra dari dalam.


Ceklek !


"Permisi Pak, saya bawakan makan siang untuk semua nya"


"Letakkan saja di atas meja, dan silahkan pergi!" titah Xan, dingin Yuni pun berbalik dan pergi meninggalkan ruangan tersebut, saat melihat raut wajah Xan yang begitu dingin.


Andra segera memberikan makan siang untuk semua orang yang ada di dalam ruangan tersebut. Di luar ruangan Yuni terlihat sangat kesal, lalu melihat Alena yang sedang berjalan ke arah ruangan Direktur, untuk memberikan berkas yang di titip Bu Maya.


"Alena!" panggil Yuni, wanita ini menoleh.


"Ada apa Kak?"


"Bos manggil kamu, berkas itu untuk Pak Andra bukan? kalau ia pak Andra ada di dalam ruangan Bos. Kamu bisa langsung ke sana, tidak perlu mengetuk pintu, karena akan menganggu mereka saat makan siang, kamu langsung masuk saja"


"Baik, terimakasih Kak" Alena pun bergegas pergi menuju ruang CEO. Yuni yang melihat itu, malah tersenyum bahagia yang berhasil menjebak Alena.


"Dengan sifat Bos yang seperti itu. Bos pasti akan memecat langsung Alena, apalagi menganggu Bos saat makan siang" Yuni tertawa dalam hati nya, lalu saat ingin masuk lift Yuni bertemu dengan Sarah.


"Sedang apa kamu disini?" tanya Sarah, yang curiga dengan mimik wajah Yuni.


"Bukan urusan mu!" ketus Yuni, langsung masuk ke dalam lift.


"Aneh" gumam Sarah, yang juga langsung meninggalkan tempat tersebut, lalu kembali ke lantai dua.


Alena yang membawa berkas di tangan nya, langsung berjalan ke arah ruangan CEO. Seperti yang di katakan Yuni, Alena memegang handle pintu tanpa mengetuk. Namun, sebelum Alena berhasil membuka pintu ruangan tersebut, seseorang melarang nya.


"Sedang apa kamu disini? Bos sedang makan siang, jangan ganggu jam makan siang Bos, kalau enggak dia akan marah" ujar Bima, Alena langsung melepaskan gagang pintu tersebut.


"Oh, tadi kata Kak Yuni, Bos memanggil saya"


"Dia menipu mu, berikan berkas ini kepada ku, aku akan meletakkan nya di ruangan Pak Andra, Kamu bisa kembali bekerja" tukas Bima.


"Makasih Kak Bima"

__ADS_1


"Eeemmm" pria ini tersenyum, lalu mengambil alih, berkas di tangan Alena.


Alena yang sudah tiba di ruangan nya, merasa kesal dengan perbuatan Yuni, bagaimana pun Alena sudah berusaha untuk sabar selama ini. Namun, Yuni terlihat begitu menyebalkan, dan tidak membiarkan Alena bekerja dengan tenang.


"Kak Yuni, sengaja ya menjebak aku, agar Bos memarahi ku?" tanya Alena, Yuni langsung menatap Alena dengan marah.


"Apa maksud kamu? datang - datang marah sama orang, kalau enggak senang pulang saja sana, enggak usah kerja" tegas Yuni, Sarah langsung menghampiri mereka berdua.


"Apa yang terjadi?" tanya Sarah, tapi wanita ini langsung bisa menebak nya.


"Kamu ngerjain Alena lagi Yun?" tebak Sarah, Wanita itu langsung duduk kembali, dan menghadap ke arah komputer nya.


"Kamu enggak ada kapok - kapok nya ya ngerjain orang, kamu..."


"Kak udah, enggak enak sama yang lain, kita menganggu orang lain bekerja" Alena memegang lengan Sarah, wanita ini pun menghentikan ucapan nya, dan kembali bekerja, begitu juga dengan Alena.


Disaat Alena mau fokus pada berkas yang ada di depan nya, perasaan nya sedikit aneh, dan dia merasa mual, Alena langsung berdiri dari tempat duduk nya, dan berlari keluar dari ruangan tersebut.


Dugh!


"Aaah!" Alena kehilangan keseimbangan saat menabrak seseorang untung saja dia cepat memegang meja yang ada di dekat ruangan lain.


"Jalan enggak pakek mata ya!" teriak Xan, sehingga semua penghuni yang ada di dua ruangan keluar untuk melihat keributan yang terjadi di luar.


"Alena, cepat minta maaf" titah Andra, saat melihat raut wajah Xan.


"Ma-Maaf Pak!" Alena sedikit menunduk di depan Xan, dan tentu saja Alena memiliki pertanyaan lain untuk Xan.


"Say...."


"Pak maaf, saya terburu- buru" Alena berbalik dan berlari ke arah kamar mandi, meninggalkan Xan di tempat kejadian.


"Apa yang kalian liat, cepat kembali bekerja!" titah Andra, semua orang kembali masuk ke dalam ruangan.


"Pak dia hanya karyawan magang, dan belum mengenali Bapak, jangan sampai memecat nya" tukas Andra,


' Belum mengenali ku? dia istri ku!' batin Xan, yang masih terpaku.


"Andra, saya menunda untuk kembali ke perusahaan Fernandez, tolong panggil karyawan magang itu ke ruangan saya!"


"Baik Pak."

__ADS_1


Xan, pun kembali ke ruangan nya lagi, dan Andra menunggu Alena di dalam ruangan Divisi nya.


"Oh, Pak Andra disini?" tanya Maya.


"Saya menunggu anak magang itu, Bos memanggil nya ke ruangan "


"Apa yang terjadi? apa anak magang itu membuat kekacauan?" tanya atasan Alena, yang memang tidak mengetahui apa yang telah terjadi.


"Tadi Alena, menabrak Bos, dan terlihat Bos sangat marah"


"Pak Andra, bisa kah, anda membujuk Bos, Alena hanya karyawan magang, dan dia belum mengerti dengan sikap Bos kita, nanti aku mengajari nya lebih baik lagi" pungkas Bu Maya.


"Aku akan mencoba menjelaskan pada Bos, agar Alena tidak di pecat!"


Di saat mereka sedang berbincang, Alena kembali dari kamar mandi, dengan memegang perut, yang merasa cukup nyeri.


"Alena!" panggil Andra.


"Iya Pak?"


"Bos, memanggil kamu ke ruangan nya" ujar Andra.


'Apa yang mau di lakukan Kak Xan!' batin Alena.


"Eemmm, baiklah."


Alena berbalik dan pergi untuk menemui Xan. Tiba di lantai di mana ruangan Xan, berada. Alena bergegas berjalan ke arah ruangan tersebut, namun sekali lagi seseorang menghalangi jalan nya. Kali ini adalah pria yang dulu pernah bertemu dengan Alena, waktu hari pertama bekerja.


"Apa yang terjadi? kenapa Kamu menghalangi jalan saya?" tanya Alena.


"Kamu karyawan magang ya?" tanya Pria itu,


"Iya," singkat Alena, yang ingin pergi, tapi pria itu memegang tangan nya.


"Lepas!" pinta Alena, pria itu nyengir, dan langsung melepaskan tangan Alena.


"Kamu yang sering di kerjain sama Yuni ya, kalau kamu mau bekerjasama dengan ku, aku bisa menolong kamu dari wanita itu!"


"Apa maksud kamu?" tanya Alena, lalu pria itu, langsung berbisik di dekat telinga Alena.


Plak !

__ADS_1


Satu tamparan melayang di pipi pria tersebut, dan Alena menatap tajam ke arah nya.


"Kau anak magang berani menampar ku!" teriak pria itu, yang ingin menampar Alena, namun tangan nya di halangi oleh seseorang, sehingga membuat Alena dan pria tersebut, terkejut secara bersamaan.


__ADS_2