
Di lobi hotel, terlihat ada beberapa pengawal yang di kirim Xan, untuk melindungi Albarak dan Aisyah. Bagaimana pun, keselamatan mereka di Indonesia adalah tanggung jawab Xan.
"Apa kamu yakin, ingin menyerang perusaan nya?" tanya El.
"Tentu, jika kita bisa menyerang perusahaan nya, tentu saja Darmon Big, tidak memiliki waktu untuk menyerang kita di lain waktu, karena dia akan sibuk mengurus masalah nya sendiri. Dalam arti kita membuat dia sibuk, dan melupakan masalah nya dengan kita" ungkap Alvarendra.
"Yang Kak Al maksud ada benar nya. Tapi, yang kita hadapi ini bukan lawan bisnis, melainkan kita melawan iblis, ini ketua mafia yang kita lawan, kita ini hanya manusia biasa yang hanya berbekal ilmu bela diri saja kak, sedang 'kan strategi untuk melawan mafia, kita belum menguasai nya" El berpikir begitu dalam, karena bagaimana pun nyawa adalah taruhan nya.
"Serahkan itu semua pada Kak Xan, mungkin dia sudah memiliki rencana lain untuk melawan musuh!" Al dan El pun pergi meninggalkan hotel tesebut.
Di Tempat lain....
Xan, masih dengan setia menunggu Alena yang siuman. Dia tidak bergerak sama sekali di samping ranjang Alena. Dan sangat berharap kalau Istri nya akan segera siuman.
__ADS_1
"Sayang" lirih Xan, dengan lembut masih memegang tangan Alena dengan lembut, sesekali mengecup nya. Xan, sudah menunggu begitu lama, namun belum ada tanda - tanda kalau Alena akan siuman dalam beberapa menit kemudian.
Ceklek !
Pintu kamar terbuka, Xan menoleh bahwa yang datang adalah Al dan El.
"Kalian sudah kembali? bagaimana masalah Tuan Albarak?" tanya Xan, begitu Al dan El tiba di depan nya.
"Masalah Tuan Albarak sudah ku selesaikan Kak, Aku bahkan menekan perusahaan Fairus, agar dia tidak memiliki kekuasaan apapun untuk menekan kasus ini. Dan satu lagi, semua barang bukti sudah di serahkan pada pihak yang berwajib, dan dalam kasus ini, Tuan Albarak bebas dari tuduhan apapun kedepan nya" jelas El, dan Xan menerima beberapa email yang di kirim oleh Albarak kepada nya.
"Seperti yang kalian lihat, belum ada perubahan apapun, dan Alena belum membuka mata nya, dia masih menutup nya, aku sudah menunggu begitu lama" ungkap Xan, dengan raut wajah yang sedih dan kecewa.
"Kakak jangan bersedih, Kak ipar akan segera siuman, kita berdoa aja. Istri dan calon anak kak baik - baik saja. Kita sama-sama menunggu Kaka Xan!" Al menguatkan Xan, yang terlihat begitu cemas, akan kesehatan Alena yang belum terlihat tanda-tanda akan membaik.
__ADS_1
"Kak, kami akan pulang dulu, kalau ada apa - apa dengan kak ipar, jangan lupa ngabarin Kami berdua kak!"
"Emmm..." singkat Xan, pandangan nya yang tak berpaling dari menatap Alena.
Al dan El pun pergi meninggalkan Xan di dalam ruangan Alena. Tak berapa lama kepergian Al dan El, Leo pun masuk untuk memeriksa Alena.
"Leo, kamu belum pulang?"
"Aku ada shift malam Kak. Aku ijin memeriksa Kak ipar dulu, semoga semua nya baik - baik saja kak" ujar Leo, lalu berjalan ke arah ranjang Alena.
Leo pun mulai memeriksa kondisi Alena yang masih berbaring lemah di atas ranjang pasien.
"Semua nya terlihat sudah membaik, hanya saja kita harus menunggu sampai besok pagi, semoga besok Kak ipar sudah siuman"
__ADS_1
"Iya " singkat Xan, yang memang berharap semua yang terbaik untuk istri dan calon anak nya.