
Sekitar jam 05:00 pagi. Xan, sedang berada di ruang makan, bersama dengan Al dan El. Tengah membahas tentang proyek baru mereka.
"Jadi Kak, gimana magang Alena di XAEL?"
"Sementara biar dia di rumah dulu" jawab Xan, seraya menyeruput kopi yang ada di cangkir.
Di sela-sela perbincangan mereka bertiga terdengar suara langkah kaki orang yang berlari menuju ruangan dapur.
Tap... Tap... Tap... Tap...
"Kak Xan...!" teriak Alena, tentu saja membuat Xan dan yang lain kaget.
"Alena, kenapa harus berlari-lari!" ketus Xan yang bangkit dari tempat duduk nya.
"Mana es krim yang Kak Xan, janji semalam?" tanya Alena, begitu tiba di depan meja makan.
"Enggak ada, enggak boleh makan es krim. Kamu lagi enggak sehat" ujar Xan, mendekati Alena, dan membantu nya untuk duduk di meja makan.
"Kak Xan...." lirih Alena, dengan raut wajah yang begitu sedih. Xan, juga melihat nya tak tega.
__ADS_1
"Kak ipar, kalau kamu memaksa makan es krim, kesehatan mu akan memburuk dan itu juga membahayakan kandungan mu" tukas Al, yang ikut nimbrung saat melihat raut wajah Xan, yang ragu untuk menolak permintaan Alena.
"Baiklah, Bi Yem. Alena mau makan bubur ketan" seru Alena, setengah berteriak.
"Sayang, di rumah tidak ada bubur ketan, kalau kamu mau makan aku bisa membeli nya" ujar Xan.
"Benar Nyonya muda. Bibi belum membeli nya, karena tidak tahu jika Nyonya akan meminta itu" ungkap Bi Yem, sembari menunduk.
"Eemmm, kalau begitu Kak pergi lah membeli nya, aku akan menunggu" pinta Alena, melirik ke arah Xan, yang berdiri di samping nya.
"Baiklah, aku akan pergi membeli nya, Kamu tunggu disini" Xan berpamitan, seraya mencium kening Alena singkat, dan berlalu pergi.
Al baru saja bangkit dari duduk nya, namun Alena sudah memanggil nya.
"Ada apa Kak ipar?" tanya Al, dengan sopan sembari tersenyum.
"Kenapa rambut Kak Al jelek kali, nanti di pangkas ya, Alena mau melihat rambut Kak Al seperti para tentara !" tegas Alena, Al membulatkan mata nya. El yang mendengarkan itu juga ikut terkejut.
"Kak ipar, kenapa harus rambut aku, kenapa enggak rambut Kak Xan aja?"
__ADS_1
"Benar, Kak ipar minta saja Kak Xan, untuk memangkas nya" sambung El, yang ikut membenarkan ucapan Al.
El kini berdiri di samping Al.
"Emmm, Kak El juga harus pangkas, tidak boleh begitu rambut nya, jelek!"
"Enggak, kami enggak bisa. Kami pergi dulu Kak"
Al dan El pun buru-buru pergi meninggalkan ruang makan. Meninggalkan Alena sendiri di ruang makan.
Di luar rumah, terlihat Al dan El yang sedang menunggu Xan.
"Ada apa dengan kalian?" tanya Xan, saat melihat Al dan El yang begitu cemas.
"Istri mu itu, nyuruh kami berdua untuk pangkas rambut seperti tentara, ogah kami enggak mau. Jatuh harga diri ku dengan gaya rambut yang botak!" ketus Al, El ikut mengangguk nya.
"Ada apa dengan Kak ipar, baru balik dari rumah sakit bukan sehat, malah aneh" cetus El.
"Eh, jaga ucapan mu ya!" Xan, memperingati adik-adik nya, lalu melangkah masuk dan pergi menemui istri nya yang di ruang makan.
__ADS_1
"Ada apa dengan permintaan Alena kepada Al dan El?" gumam Xan, sembari melangkah masuk ke dalam ruang makan, dan terkejut melihat Alena yang duduk di kursi makan, dengan mangkuk isi beras mentah di dalam nya.
"Alena!" panggil Xan, saat melihat sang istri yang sedang asyik memakan beras mentah.