
Al dan El pun buru-buru pergi meninggalkan ruang makan. Meninggalkan Alena sendiri di ruang makan.
Karena Al dan El, tidak ingin menjadi korban Alena, yang konyol itu. Terlebih lagi, ngidam Alena terlalu aneh untuk di turuti.
Di luar rumah, terlihat Al dan El yang sedang menunggu Xan.
"Ada apa dengan kalian?" tanya Xan, saat melihat Al dan El yang begitu cemas. dan sedikit kesal.
"Istri mu itu, nyuruh kami berdua untuk pangkas rambut seperti tentara, ogah kami enggak mau. Jatuh harga diri ku dengan gaya rambut yang botak!" ketus Al, El ikut mengangguk nya.
"Ada apa dengan Kak ipar, baru balik dari rumah sakit bukan sehat, malah aneh" cetus El.
"Eh, jaga ucapan mu ya!" Xan, memperingati adik-adik nya, lalu melangkah masuk dan pergi menemui istri nya yang di ruang makan.
"Ada apa dengan permintaan Alena kepada Al dan El?" gumam Xan, sembari melangkah masuk ke dalam ruang makan, dan terkejut melihat Alena yang duduk di kursi makan, dengan mangkuk isi beras mentah di dalam nya.
"Alena!" panggil Xan, saat melihat sang istri yang sedang sibuk memakan beras mentah.
"Kenapa kamu memakan ini"
__ADS_1
Xan, menarik mangkuk berisi beras mentah yang ada di depan Alena. Membuat Alena mengerucutkan bibirnya.
"Berikan, aku mau itu!" Alena berdiri dari tempat duduk nya, namun Xan, tidak mau memberikan apa yang di minta Alena.
"Tidak, kamu harus makan ini, selagi masih hangat!" titah Xan, meletakkan mangkuk bubur di depan Alena. Dengan raut wajah yang penuh harap, dan melirik ke arah mangkuk yang berisi beras, namun tatapan Xan membuat Alena langsung membuang pandangan nya ke arah mangkuk bubur ketan.
"Enak?" Xan, duduk di samping Alena, sembari mengusap sayang rambut Alena yang sedang menikmati bubur nya.
Di bengkel las milik Al dan El, namun kali ini hanya Al yang fokus mengurus bengkel, sedangkan El, sedang menunggu gedung proyek nya yang belum selesai di bangun.
"Ria, berikan dokumen keuangan bulan ini,"
Setelah memberikan dokumen tersebut kepada Al, Ria pun berpamitan kepada Al untuk makan siang.
"Tunggu, Ria."
"Iya pak,"
Ria pun menghentikan langkah nya, dan menoleh ke arah Al.
__ADS_1
"Apa malam ini kamu senggang?" tanya Al,
"Malam ini saya kosong Pak, kebetulan tidak ada pekerjaan lain,"
"Temani saya makan malam, karena malam ini saya ingin bertemu dengan klien"
"Baik Pak, saya permisi dulu, "
"Eeemmm" singkat Al, Ria pun berlalu dari ruangan Al, menuju ruangan sendiri.
Tak lama, Ria keluar lagi dari ruangan nya, untuk makan siang, bersama dengan karyawan yang lain .
Hari ini, bengkel terlihat lebih rame, dari biasa nya. Bahkan, Ria sudah terbiasa bekerja di bengkel Al, dan membuat dia akhir nya betah.
Sudah seminggu Ria, tidak menghubungi Alena, dan membuat ia merindukan sahabat nya itu.
"Aku harus menghubungi Alena, apa kabar dia sekarang, apa dia masih magang?" gumam Ria, lalu mengambil ponsel nya yang ada di dalam tas nya, dan segera menekan nomer Alena.
Belum sempat Ria, menelpon Alena, Al memanggil Ria ke ruangan nya, sehingga membuat Ria, mengurungkan niat nya.
__ADS_1