
Cuaca sedikit berbeda, terlihat awan hitam yang mulai mengitari langit, sehingga membuat langit pagi hari ini sedikit mendung.
Seorang wanita yang duduk cemas di sofa, di dalam ruangan inap Arga. Dia adalah Alena, pengantin wanita hari ini, yang di jodohkan dengan anak asuh nya sendiri oleh Arga.
Di dalam ruangan itu, sudah ada dokter Fino, Arga, dan juga bapak penghulu. Namun, tidak terlihat keempat Tuan muda disana, entah dimana keberadaan mereka saat ini. Alena takut, jika Xan, membatalkan pernikahan mereka secara tiba - tiba, karena Xan bersikeras menolak pernikahan itu sebelumnya.
"Apa sudah bisa kita mulai?" tanya Pak penghulu, langsung raut wajah Alena berubah menjadi cemas, karena sudah sejak tadi saat Alena berada di tempat itu, Alena tidak melihat ke empat anak Arga.
Ceklek !
"Maaf, kami terlambat" seru seseorang yang baru saja datang, itu adalah Al, dan di belakang Al ada ke tiga saudara kandung nya yang lain.
"Tidak apa - apa, yang penting kalian hadir tepat waktu. Silahkan di mulai Pak, Alena sini nak" panggil Arga, Alena langsung mendekat.
Sebelum nya mereka berempat tidak menyadari kehadiran Alena, namun disaat Arga memanggil nya baru lah mereka menoleh ke arah sofa.
Semua mata tertuju ke arah Alena, dan tentu saja riasan di wajah Alena membuat mereka semua terpesona oleh kecantikan Alena.
Xan, tidak memindahkan pandangan nya, ia terus menatap calon istri yang akan di nikahi nya. Tanpa sadar, Xan tersenyum tipis ke arah Alena, melihat Alena yang begitu cantik. Merasa di pandangi oleh semua orang justru itu membuat Alena sedikit gugup dan gemetar.
Xan di tuntun oleh Al dan El untuk duduk di samping ranjang Arga, di sana sudah ada dua kursi di sisi kanan, dan satu kursi di sisi kiri Agra, untuk bapak penghulu.
Fino, menuntun Alena untuk tiba di samping ranjang, dan menarik kursi untuk Alena duduk. Alena merasa cukup gugup disaat mereka akan melangsungkan ijab qabul.
Tangan Alena, dingin wajah nya sedikit pucat, rasa cemas dan rasa takut mulai menyelimuti Alena.
"Santai saja" bisik Xan, mendengar suara Xan, Alena menjadi tenang. Pria yang menolak mati - matian perjodohan itu, namun hari ini malah berbicara begitu lembut, apa Xan, lupa akan jati diri nya yang menolak Alena mentah - mentah dua hari yang lalu ?
Ijab qabul langsung di mulai, ke dua membelai sudah bersiap - siap, begitu juga dengan para saksi dan Bapak penghulu.
"Sah ..!"
"Sah"
"Sah!"
Teriak ke tiga adik Xan, yang begitu bersemangat, Arga menyimpulkan senyum bahagia, akhirnya dia dapat melihat anak nya menikah, meskipun ada tiga orang lain yang akan menyusul Xan. Namun, Arga belum menemukan perempuan yang cocok untuk anak nya.
Alena meraih tangan Xan, dan mencium punggung tangan suami nya dengan lembut. Begitu juga dengan Xan, yang mengucapkan beberapa doa untuk keselamatan dan kesejahteraan istri nya.
"Kalian berdua sudah sah, menjadi suami istri" ucap Bapak penghulu, Alena tidak berani tersenyum, dia segan dengan Xan, karena takut membuat Xan marah.
__ADS_1
"Semoga rumah tangga kalian, sakinah, mawadah dan warahmah!" ucap Arga memegang tangan Xan dan Alena.
"Amiin" jawab Fino,
"Amiin"
"Amiin " jawab Al dan El secara bersamaan.
"Selamat ya Alena, sekarang kamu menjadi Kakak ipar Kami" ujar Leo, yang begitu bersemangat.
"Berhubung, Alena belum wisuda, tidak apa - apa, untuk sementara pernikahan ini di rahasiakan saja dulu" saran Arga, Alena menerima nya, begitu juga dengan Xan.
"Kami setuju" jawab Alena dan Xan bersama, membuat ketiga Tuan muda yang lain tersenyum dan menggoda mereka berdua.
"Ciee... Sehati!" teriak Leo,
"Ehem... Ehemm"
"Jadi, mau merayakan nya dimana ini?" tanya El, pria ini paling senang kalau dengar yang nama nya pesta perayaan apapun itu, asal bisa membuat dia senang.
"Eemmm" Xan, melirik ke arah Arga, karena Xan tidak berani mengambil keputusan tanpa persetujuan sang Papa.
"Kamu mau ikut ?" tanya Arga kepada Alena.
"Tidak Paman, Alena menunggu di rumah saja" tukas Alena.
"Emmm, kalian pulang lah ke rumah, dan Papa sudah minta Bi Yem untuk mempersiapkan kamar pengantin untuk Xan, dan Alena" ujar Arga, yang masih tersenyum.
"Papa apa-apaan sih" cetus Xan, yang malu. Begitu juga dengan Alena yang diam-diam tersipu malu.
Setelah mereka berlima berpamitan kepada Arga dan Fino, mereka berlima langsung keluar dari ruangan Arga.
"Jadi Kak Xan, mau langsung ikut kami pergi, atau pulang ke rumah lebih dulu?" tanya Al,
"Eeemmm, ke rumah saja dulu antar Alena, setelah itu kita bisa pergi kemana pun kita mau" ungkap Xan, Mereka pun setuju saran Xan, dan segera pergi ke tempat parkir rumah sakit.
Begitu tiba di tempat parkir, Alena malah bingung, ikut mobil Al atau Xan, tapi Leo malah menyuruh Alena untuk satu mobil dengan Xan.
"Kak ipar, ikut kak Xan. Kami akan pulang bertiga, nanti sampai rumah, kak Xan, bisa langsung simpan mobil nya" ujar Leo,
"Benar kata Leo " Al dan El segera masuk ke dalam mobil dengan di susul oleh Leo.
__ADS_1
Sementara, mobil mereka sudah meninggalkan tempat parkiran, Xan dan Alena malah bengong di tempat parkiran melihat ke arah mobil.
"Kalau hanya di lihat, kita tidak akan tiba di rumah" gumam Alena, Xan pun berjalan ke arah pintu kemudi.
"Ayo masuk" ajak Xan, Alena segera membuka pintu mobil, dan duduk di samping kemudi.
Sepanjang perjalanan, ke dua nya hanya diam saja tidak ada yang berani mengeluarkan suara. Masih sangat canggung, karena Alena dan Xan sebelum nya tidak pernah dekat, apalagi berada dalam satu mobil.
"Eemm, kamu bisa panggil aku Kak Xan, seperti mereka" ujar Xan, tanpa melihat ke arah Alena, wanita ini hanya mengangguk saja.
"Kapan wisuda kalian?"
"Dua hari lagi" singkat Alena,
"Eeemm, apa yang kamu butuhkan ?"
Alena tidak terbiasa dengan kebaikan Xan, jadi dia tidak langsung menjawab nya.
"Maksud ku, kalau ada dana kamu yang kurang, kamu bisa beritahu aku" tukas Xan,
"Terimakasih, tapi semua nya sudah aku selesaikan"
Xan, langsung membelokkan mobil nya ke arah lorong rumah nya, di depan rumah sudah ada mobil Al yang terparkir disana.
Ceklek !
Alena segera turun, dan Leo menyambut kedatangan Alena dengan begitu ramah.
"Selamat datang Kakak ipar" ucap Leo, mempersilahkan Alena untuk masuk.
"Heeh, bukan kah aku memang tinggal di sini?" ujar Alena, Leo langsung menggaruk kepala nya yang tidak gatal. Al dan El tertawa melihat tingkah konyol Leo. Sangat berbeda dengan Xan, yang memilih lebih banyak diam.
"Kalau begitu aku masuk dulu, tidak akan menghambat perjalanan kalian. Tapi, ingat aku tetap pengasuh kalian, pulang sebelum jam 12 malam, berani pulang telat, kalian akan tidur di rumah " tegas Alena, sembari berkacak pinggang di depan mereka berempat.
"Siap Bos!" jawab Al dan El, serta Leo.
"Kami pergi dulu" Al dan El segera berjalan ke arah mobil, Leo juga menyusul sang Kakak, dengan kaki nya yang masih sakit.
"Kami pergi dulu, kamu bisa langsung tidur, tidak perlu menunggu kami pulang, aku punya kunci cadangan"
"Eemm" singkat Alena. Xan, langsung masuk ke dalam mobil, begitu juga dengan Alena, segera masuk dan meninggalkan tempat tersebut.
__ADS_1