
Seperti biasa masih banyak typo....Harap maklum 🙏
Setelah menggerutu, dan marah sendiri. Akhirnya Xan, terdiam saat melihat Alena, yang keluar dari lift. Di sana hanya ada mobil Xan, Alena langsung menghampiri mobil sang suami.
Ceklek !
"Kenapa begitu lama?" tanya Xan, Alena tidak menjawab nya.
Blam!
Alena membanting pintu mobil karena capek, tapi datang - datang malah melihat raut wajah Xan, yang kesal membuat mood Alena seketika berubah.
"Ada apa?" ulang Xan,
"Tidak apa - apa!" ketus Alena, yang duduk dengan raut wajah yang begitu masam, membuat Xan, tidak ingin menyalakan mobil nya.
"Kenapa belum jalan?" tanya Alena, Xan langsung membantu Alena memasang sabuk pengaman dengan benar.
"Jangan ngambek, nanti cepat tua" ledek Xan, yang mengelus kepala Alena, dan memberi sedikit kecupan di kening, membuat mood Alena kembali lagi.
"Ayo pulang, aku capek, mau cepat - cepat tidur sampai rumah!" tukas Alena,
"Apa tidak mau makan dulu?"
"Boleh, aku mau bakso, mie ayam, dan aku mau bakso acid serta mau bakso...."
"Stop! kenapa semua bakso? nasi enggak mau di makan?" tanya Xan bingung, tangan sudah berada di setir mobil.
"Sayang....." rengek Alena dengan manja, wajah Xan langsung berubah menjadi begitu manis, dan dia malah tersenyum melihat tingkah Alena yang menggemaskan.
"Eemmm" singkat Xan, dan melajukan mobil ke arah jalan pulang.
Mobil Xan, keluar dari parkiran, dan seseorang melihat nya.
"Itu mobil Bos? kenapa baru pulang? bukan kah, bos sudah pulang waktu makan siang? dan siapa wanita yang ku lihat? dia anak baru. Heeemm, di goda marah - marah, ternyata simpanan bos!" gumam Anto, pria yang menggoda Alena, sebelum bertemu dengan Xan di ruangan nya.
Sepanjang jalan Alena hanya memikirkan makanan saja, sehingga tanpa sengaja membuat ia tersenyum sendiri.
"Ada apa? kamu terlihat bahagia?"
__ADS_1
"Kak Xan, aku mau makan nasi goreng pinggir jalan !"
"Haah?" Xan, terkejut. Tadi, Alena berniat makan bakso, tapi secepat itu selera nya berubah.
"Tadi, Kak Xan bilang, harus makan nasi, ya udah makan nasi goreng ya" ujar Alena, sembari wajah di imut - imut 'kan.
"Oke, baik Tuan putri!" jawab Xan, sekali lagi tangan nya menyentuh kepala Alena.
Xan, langsung mencari tukang nasi goreng pinggiran,namun tak satupun yang membuat Xan tertarik, saat melihat nya.
"Kita sudah sejam disini, hanya mutar-mutar saja, membuat kepala ku pusing!" keluh Alena, kemudian yang jenuh melihat Xan, belum juga memilih tukang nasi goreng yang mau di singgah..
"Sabar sayang, aku mencari tempat yang enak!"
"Memang nya Kak Xan, tau? udah berhenti saja di depan sana, di dekat itu ada nasi goreng enak!"
"Oh, oke!" Xan langsung menuruti keinginan sang istri, sebelum Alena berubah pikiran lagi.
Setelah mobil di parkir, Alena membuka pintu mobil, namun terkejut, mendapati selokan di samping nya.
Blam!
Pintu kembali di tutup, dan membuat Xan terkejut.
"Kak Xan, mau membunuh aku ya?" tanya Alena, dengan tatapan yang sulit di artikan, Xan langsung bingung dan kembali duduk dengan tenang, sembari menutup kembali pintu mobil yang sempat di buka nya.
"Kenapa parkir mobil disini? ini kalau aku turun langsung aku masuk selokan, mana besar selokan lagi, dari aku!" gerutu Alena, bukan nya marah Xan malah tersenyum melihat tingkah Alena yang begitu menggemaskan.
"Ha ha ha. Maaf sayang, sini aku bantu, turun lewat sini saja. Tadi, kamu yang milih tempat parkir nya, sekarang malah marah -marah" Xan, membantu Alena, untuk turun.
"Oh, jadi ini salah ku gitu?" Alena melipatkan ke dua tangan nya setelah berhasil turun dari mobil,
"Tidak sayang, kamu tidak salah, Aku yang salah!" jawab Xan, yang mengunci pintu mobil.
Tit..Tit...
"Alena apa kamu lagi PMS, hari ini mood kamu kayak wahana permainan, naik turun " tukas Xan, yang berjalan lebih dulu.
'Oh, iya. Aku belum datang bulan dalam bulan ini' seketika Alena bengong, dan tidak mengikuti Xan dari belakang. Xan, yang melihat itu pun langsung kembali lagi.
__ADS_1
"Ada apa? ayo pergi!" ajak Xan, merangkul pinggang sang istri. Alena pun hanya bisa menuruti, tapi dia belum berani mengatakan apapun pada Xan, karena dia belum yakin.
Xan, memilih tempat duduk yang sedikit bersih, dan langsung duduk berdua dengan Alena di tempat itu, terlihat semua mata tertuju ke arah mereka, dan dari mereka rata-rata adalah wanita yang mengagumi Xan, selain tampan pria ini juga tinggi, idaman semua wanita.
Xan, langsung memesan makanan. Alena sejak tadi hanya diam saja dan hanya berbicara sedikit saja, membuat Xan bingung.
'Kalau aku hamil bagaimana? kami sudah melakukan itu beberapa kali. Aku ingat beberapa hari sebelum akad, aku baru saja selesai mentruasi, harus nya ini sudah jadwal nya lagi, tapi aku belum menstruasi sampai hari ini'
Xan memperhatikan Alena yang sedang gemelut dengan hati nya. Alena terlihat begitu cemas.
"Ada apa?" Xan, memegang tangan Alena.
"Kak Xan, kalau seandainya...."
"Hallo, permisi. Apa ini adik mu?" tanya seorang wanita yang menghampiri meja Xan dan Alena. Wanita itu, melihat Alena yang lebih kecil dari Xan, sehingga berpikir Xan dan Alena hanya adik Kakak.
"Bukan, dia suami ku!" ketus Alena dengan kesal, sehingga membuat Xan, menahan senyum nya.
"Oh, maaf!" wanita itu langsung berbalik dan pergi.
Kenapa? kenapa Kak Xan, tersenyum? senang di goda oleh wanita itu? sana duduk sama mereka saja!"
"Bukan begitu sayang, aku senang mendapat pengakuan dari kamu" ujar Xan, yang mencoba membujuk Alena.
Akhirnya pesanan mereka pun tiba, dan Alena segera memakan nya dengan lahap.
"Pelan-pelan, nanti kamu tersedak!" Xan, mencoba untuk membersihkan mulut sang istri.
"Kak Xan, enggak makan? ini enak Lo?" Alena melihat ke arah Xan, yang belum menyentuh sedikit pun nasi yang ada di piring nya.
"Eeemmm, apa benar, seenak itu?"
"Iya!" singkat Alena, yang langsung melanjutkan makan nya. Xan pun mencoba mencicipinya.
"Bagaimana ? enak tidak?".
"Iya, benar enak!"
Mereka berdua akhirnya menikmati nasi goreng pinggiran, dan Alena sangat bahagia, mau bagaimana pun sikap Xan, sudah mulai lunak kepada nya.
__ADS_1
Xan, bukan tidak suka, hanya saja dia jarang makan nasi goreng di malam hari, Xan terlalu ketat menjaga pola makan nya, bisa di hitung ini pertama kali makan nasi goreng di malam hari.
Melihat senyuman di wajah Alena, membuat Xan cukup bahagia, tidak apa - apa menghabiskan nasi goreng di piring, karena resiko nya sudah di gantikan dengan senyuman Alena yang begitu bahagia, saat melahap nasi goreng tersebut.