Pengasuh Keempat Tuan Muda Somplak

Pengasuh Keempat Tuan Muda Somplak
Masalah baru saja di mulai


__ADS_3

Xan, baru saja tiba kembali di kantor nya, setelah mengambil file penting di rumah.


"Tuan Xan, semua nya sudah di bersihkan, sesuai yang anda perintah. Dan ini, saya menemukan ponsel milik istri anda di ruang foto copy!" beberapa bawahan Xan, memberikan ponsel milik Alena kepada nya.


"Ingat, jangan ada yang membahas masalah ini besok. Pak, saya harap anda dapat menjaga rahasia nya?" tegas Xan, kepada satpam yang berjaga di pintu masuk kantor XAEL.


"Sia Tuan Xan, semua rahasia dapat saya simpan!" sahut pria tua yang sudah lama berkerja di tempat tersebut.


Setelah membereskan semua masalah, Xan bertemu kembali dengan Andra di luar kantor, tepat nya di depan sebuah di depan sebuah gedung tua yang sudah lama tak berpenghuni.


"Pak!" sapa Andra, begitu bertemu dengan Xan, di depan mobil nya yang sedang menghisap rokok.


Xan, lalu membuang dan menginjak rokok tersebut, disaat Andra datang menghampiri nya.


"Bagaimana?" tanya Xan, dengan raut wajah datar nya.


"Sudah kami bereskan, dan saat ini pelaku sudah di alam yang berbeda, saya juga sudah perintah 'kan bawahan Bapak untuk membawa pria itu kepada Phiton"


"Bagus, hapus semua jejak digital tentang pria itu, dan semua data nya, agar tidak satu pun dapat melacak keberadaan nya, hilang 'kan semua data nya di dunia ini" titah Xan,


"Baik Pak. Ada lagi yang bisa saya bantu pak?"


"Periksa semua karyawan yang ada di Xael, yang satu ruangan dengan Alena, saya ingin tahu, siapa yang mengerjai Alena selama di Xael, selama dua hari dia bekerja, dia selalu pulang terlambat, sehingga hal ini terjadi. Tidak mungkin tidak ada orang yang bertanggung jawab atas peristiwa ini"


"Baik Pak, beri saya waktu sampai besok, saya akan mengurus semua nya"


"Bagus!"


Blam!


Xan, menutup rapat pintu mobil, setelah berbicara dengan Andra, dan Xan meninggalkan pria itu di tempat tersebut.


Tiba di rumah sakit, selain Al dan El yang menunggu Xan. Ada dokter Fino yang juga saat ini sedang menunggu Xan, dengan cemas.

__ADS_1


"Tuan Xan" sapa dokter Fino, sedikit menunduk dan memberi hormat kepada Xan.


"Ada apa? kenapa kalian terlihat begitu cemas. Apa sesuatu terjadi kepada Alena?" tanya Xan, dengan raut wajah yang khawatir.


"Tidak, ini bukan soal Kak ipar, tapi ..." Al memotong ucapan nya, lalu melirik ke arah dokter Fino.


"Begini Tuan Xan, lebih baik anda lihat sendiri" ujar dokter Fino, lalu memperlihatkan layar iPad yang ada di tangan nya kepada Xan.


Di saat pria itu melihat layar iPad yang ada di tangan dokter Fino, Xan membulatkan mata nya, betapa terkejut nya dia. Kejadian tadi siang sudah di siar 'kan di televisi. Ternyata Fairuz menaikan berita kejadian Haris Hutama yang meninggal menjadi berita trending, selain Albarak, Xan juga terlibat, di ketahui telah membela pelaku.


"Bagaimana ini bisa terjadi, bukan kah pengacara kita sudah membereskan ini semua?" Xan, melihat ke arah dokter Fino.


"Benar, tapi pria itu, memiliki rekaman yang bisa menyudutkan anda Tuan, Anda di tuduh telah membela pelaku, dan tidak memberikan keadilan kepada Haris Hutama" jelas dokter Fino,


"Keadilan apa yang dia minta? bukan kah, semua ini sudah selesai, kasus itu hanya lah sebuah kecelakaan yang tak di sengaja, dan semua rekaman cctv telah membuktikan kalau Tuan Albarak tidak bersalah!" tegas Xan. Namun, apa yang di katakan Xan, saat ini berbanding terbalik dengan apa yang di lakukan Fairuz. Pria itu tetap menutup keadilan kepada Albarak, yang di yakini telah menewaskan Haris Hutama.


"Selesaikan masalah ini, sebelum pria ini bisa menekan kasus ini lebih dalam lagi, bila perlu tekan perusahaan nya, ku yakin dia akan menyerah!" tegas Xan, dan Fino mengiyakan nya.


"Saya mengerti Tuan, secepat nya akan saya urus!" Fino pun berlalu dari hadapan Xan.


"Tidak perlu, untuk saat ini, kalian hanya perlu mengurus masalah Anto saja, jangan sampai ada orang yang tahu kehilangan Anton ada kaitan nya dengan masuk nya Alena kerumah sakit"


"Baik Kak, Kami mengerti. Dan kami permisi dulu, karena kakak sudah disini, besok kami akan kesini lagi untuk menjenguk Kak ipar!"


"Eeemmm"


Sementara Al dan El pergi dari tempat tersebut, Xan langsung masuk ke dalam ruangan Alena. Disana masih ada Leo yang menunggu Alena siuman.


"Belum ada perkembangan?" tanya Xan, Leo menoleh, dan segera berdiri dari tempat duduk nya, begitu tahu Xan sudah tiba.


"Eemm, seperti yang Kak Xan, liat. Kak ipar, tidur begitu nyenyak, jika menurut yang aku tahu, seharusnya dia sudah bangun, mungkin saat ini Kak ipar sedang tidur" ujar Leo, yang menatap ke arah Alena, yang tengah berbaring di ranjang pasien.


"Bagaimana kandungan nya?"

__ADS_1


"Sudah membaik kak, janin nya sangat sehat, dan Kak ipar beruntung kali ini, Kak tiba tepat waktu"


"Jika aku terlambat...." Xan tidak meneruskan ucapan nya, namun penglihatan nya fokus melihat ke arah sang istri yang sedang berbaring di atas ranjang pasien.


"Kak Xan, sudah makan? jika belum aku akan memesan makanan saat ini" tukas Leo, menepuk bahu Xan.


"Aku akan makan, saat Alena siuman" ujar Xan, dan duduk di samping ranjang Alena.


"Kak, kita enggak tahu kapan Kak ipar akan siuman, bisa jadi Kak ipar akan bangun besok pagi, untuk saat ini Kakak harus makan, jangan sampai Kakak sakit"


"Aku tidak selemah itu Leo, khawatir saja diri kamu sendiri, aku yakin kamu belum makan apapun sampai saat ini"


"He He He... " Leo hanya bisa nyengir dengar ucapan Xan "Kalau begitu, Leo mau cari makan dulu Kak, jika Kak ipar siuman, kabarin aku Kak"


"Tentu"


Leo pun berpamitan sama Xan, dan meninggalkan pria itu di dalam kamar.


Langkah kaki Xan terasa berat, saat dia harus mendekat ke arah ranjang Alena.


"Sayang, apa kabar kamu, aku harap kamu dan calon baby kita baik-baik saja, kamu harus segera bangun sayang, kalau enggak aku tidak akan bisa memaafkan diri ku sendiri, karena telah gagal menjaga mu" lirih Xan, yang kini membaringkan kepala nya di samping Alena.


Drrt...Drrt...Drrt...


Baru saja, Xan lelap di samping Alena, sebuah panggilan membangun 'kan nya.


"Tuan Albarak?" panggil Xan, disaat panggilan sudah terhubung.


[Tuan Xan, apa anda bisa ke hotel dimana kami menginap, karena banyak sekali wartwan disini, Aisyah merasa sangat tertekan kalau begini situasi nya ]


"Baik, aku akan mengirim beberapa pengawal ke tempat anda!"


[Terimakasih ]

__ADS_1


Panggilan terputus, Xan segera menghubungi Al dan El, untuk membantu Albarak.


__ADS_2