Pengasuh Keempat Tuan Muda Somplak

Pengasuh Keempat Tuan Muda Somplak
Part 55


__ADS_3

Di sepanjang perjalanan, Alena hanya bercerita tentang pekerjaan di Xael. Padahal, Xan sudah mengetahui semua apa yang terjadi disana. Namun, Alena masih saja menyembunyikan perihal yang terjadi antara dia dan Yuni, bahkan kalo ini Maya juga terlibat.


Alena meminta Xan, untuk mengantar nya ke sebuah restoran yang dekat dengan bengkel milik Al, karena Ria meminta bertemu disana.


"Tidak aku masuk?"


"Enggak usah, Kak Xan tunggu disini saja," ujar Alena, yang sedang mengambil tas nya, Xan menyodorkan beberapa lembar uang untuk Alena, ia tahu enggak mungkin restoran kecil itu Alena harus menggunakan debit.


"Terlalu banyak," ucap Alena, tapi semua nya di ambil tidak tersisa di tangan Xan, membuat sang suami hanya bisa terkekeh. "Sayang kalau di tolak rejeki, " lanjut Alena lagi, yang membuat Xan, mengacak rambut Alena, membuat sang istri memanyunkan bibir nya.


"Sayang, aku akan ke bengkel Al, seperti nya ini tidak jauh, nanti kalau kamu sudah selsai bertemu dengan Ria, segera hubungi aku"


"Oke."


Setelah berpamitan dengan sang suami, Alena pun segera turun dari mobil, dan berjalan masuk ke dalam restoran tersebut.


Baru saja Alena menginjakkan satu kaki nya, Alena sudah mendengar suara teriakan Ria, dari arah pojok restoran, membuat semua pengunjung menoleh ke arah mereka.


"Dasar" gumam Alena yang sedikit malu, dah mempercepat langkah kaki nya menuju meja Ria.


Ria tidak membiarkan Alena duduk, Ria malah langsung memeluk Alena, karena begitu merindukan teman nya ini. Namun, Ria di kejutkan dengan sesuatu yang ada di tengah - tengah mereka saat Ria memeluk Alena.


"Alena...." panggil Ria, yang sedikit berima, sembari netra nya berjalan ke arah bawah, dan berhenti tepat di perut Alena, yang memakai baju sedikit kebersaran.


"Kamu hamil?"


Ria langsung to the poin sehingga membuat Alena hampir mati karena terkejut. Alena memegang tangan Ria, dan membawa teman nya untuk duduk.


"Alena, " panggil Ria, Alena hanya menghela nafas nya, lalu memanggil pelayan untuk memesan makanan.


"Kita pesan makanan dulu ya, nanti sembari menunggu makanan tiba, baru aku ceritakan semua nya pada mu"


"Janji Lo ya, " ancam Ria, dengan mata yang sedikit melotot.

__ADS_1


"Iya, ya. Gue janji." sembari membentuk dua jari membuat janji di dalam wajah Ria, mereka segera memesan makanan.


Setelah menunggu makanan hampir tiga puluh menit lama nya, Alena pun sudah selesai menceritakan kepada Ria, awal bertemu dia dengan suami nya, sampai Alena dan Xan di paksa nikah oleh orang tua Xan.


Alena tidak memberitahu kepada Ria nama lengkap Xan, dan siapa pria yang ia nikahi, karena Alena tidak ingin teman nya ini banyak tanya, apalagi tahu, kalau adik ipar Alena itu Leo, teman kuliah mereka dulu.


"Nah, gitu lah cerita nya. Maaf, bukan Gue enggak ngudang Lo, tapi Lo tahu, Gue nikah dadakan, dan harus Lo tahu, wali nya hanya ada ayah mertua Gue, orang tua Gue sudah meninggal sejak dulu," tukas Alena, dengan raut wajah nya yang sedih.


"Maaf, Gue ngaku salah, Gue udah buat Lo sedih, dan mengingat orang tua Lo, maaf ya." Ria menggenggam tangan Alena yang ada di atas meja.


Gimana enggak sedih, sejak kecil Alena sudah hidup sendiri, dan beranjak dewasa ia sudah keluar dari panti asuhan, meskipun harus berbohong kepada Ria dan mengatakan kalau orang tua nya sudah meninggal sejak dulu, itu mah sah-sah saja, karena Alena, tidak pernah bertemu dengan orang tua nya sejak dulu.


"Ria, aku ke toilet dulu ya, seperti nya makanan akan datang sedikit lama," ujar Alena yang segera berdiri dari tempat duduk nya.


"Mau aku temani? kamu membawa ponakan ku disini," Ria menunjuk perut Alena,


"Enggak usah, aku bisa sendiri"


Alena pun segera pergi, meninggalkan Ria di meja makan, baru saja Alena pergi ke toilet, makanan yang mereka pesan sudah tiba, dan di hidangkan di atas meja mereka.


"Kak Xan, tumben kemari?" Al, duduk di depan Xan, di lobi bengkel.


"Aku menunggu Alena, yang sedang bertemu dengan sahabat nya di restoran seberang" ujar Xan,


"Emmm, mau minum? "


"Enggak." singkat Xan, selain di kantor sendiri, Xan jarang minum.


Al pun menceritakan perihal pembangunan proyek milik El yang di tangani oleh Xael, dan itu belum berdiri dengan sempurna masih kurang sekitar dua puluh persen lagi, padahal waktu yang di berikan El kepada Xael, cukup lama.


"Apa yang terjadi? aku sudah lama menunggu nya, harus nya kita sudah bisa melihat bangunan baru itu," tukas Al,


"Aku juga tidak mengerti, tapi aku sudah meminta Andra untuk mengurus semua nya" Xan, membuka minuman botol yang di berikan Al kepada nya.

__ADS_1


"Ada informasi tambahan dari dokter Fino, katanya Darmon big sudah berada di negara ini" pungkas Xan,


"Aku sudah enggak sabar ingin melihat pria itu secara langsung, " ujar Al,


"Mau apa kamu?"


"Mau kenalan, ya kali mau kenalan, ya mau membunuh nya lah, sebelum dia bunuh kita," tegas Al, yang duduk, sembari menyilang kaki nya ke atas kaki yang lain.


"Enggak usah ngaco, dia bukan lawan kita!"


Setelah mengatakan itu Xan, bangkit dari tempat duduk nya, saat melihat jam yang sudah berlalu lebih dari satu jam, Xan berniat untuk menjemput dan istri.


Alena dan Ria juga baru saja ingin pergi meninggalkan restoran tersebut.


"Alena, aku duluan enggak apa-apa? aku harus kembali ke tempat kerja, berkas milik ku ketinggalan,"


"Enggak apa-apa, kau pergi lah, aku bisa sendiri"


Ria dan Alena berpelukan untuk pelukan perpisahan, entah kapan mereka berdua bisa bertemu lagi.


Alena melambaikan tangan nya ke arah Ria yang sudah masuk ke dalam mobil nya. Melihat cuaca yang sedikit mendung, Alena langsung mencari tempat duduk yang tak jauh dari restoran.


Dugh!


Tanpa sengaja Alena menabrak seseorang, membuat pria itu terjatuh, karena terlihat pria tersebut berjalan menggunakan tongkat nya.


"Tuan," beberapa pengawal pria itu, berjalan ke arah Alena, dan pria tua yang di tabrak Alena memberi sinyal tangan agar tidak menyakiti Alena.


"Pak, maaf saya tidak sengaja, apa anda baik- baik saja? mari saya bantu," tanpa bergeming, pria itu menatap Alena dengan seksama, ia melihat wajah Alena yang cantik dan teduh, bayangan masa lalu mulai berputar di ingatan pria itu.


Pria itu mengingat seorang wanita yang dulu selalu memberi ia pandangan teduh, dan wanita itu adalah istri nya.


"Pak, Pak!" panggil Alena, pria itu melamun sehingga Alena mengguncangkan sedikit tubuh Pria tua itu.

__ADS_1


"Pak!" teriak Alena sedikit keras, sehingga mengejutkan nya yang sedang melamun.


__ADS_2