Pengasuh Keempat Tuan Muda Somplak

Pengasuh Keempat Tuan Muda Somplak
Part 54


__ADS_3

Di tempat lain, Alena kini tiba di ruangan Maya. Maya langsung duduk di kursi milik nya, dan begitu juga Alena, yang duduk di depan Maya.


"Alena, disini aku tidak ingin membela siapapun, aku percaya kamu tidak akan mungkin menjahati orang lain. Namun, ada satu hal yang ingin aku tanyakan, apa benar kamu menggoda Tuan, Xan?"


Alena terkejut, mendengar pertanyaan itu, bagaimana mungkin Alena menggoda suami nya sendiri. Yang ada memang Xan, yang selalu menggoda nya.


"Alena, Alena!" panggil Maya, yang di abaikan oleh Alena.


"Ti-tidak Bu, saya tidak menggoda siapapun disini, lagian saya udah menikah Bu, dan saat ini saya tengah hamil, ini hanya ibu yang tahu, tolong jangan sampai orang lain tahu, " tukas Alena, Maya terdiam mendengar pernyataan Alena.


"Oh, selamat. Semoga lancar sampai lahiran, tapi Alena, kamu sudah menikah? kenapa isi surat lamaran status kamu masih belum menikah?" tanya Maya yang penasaran.


Memang benar, Alena dan Xan belum mendaftarkan pernikahan mereka di kantor sipil. Mereka hanya memiliki surat nikah sah saja, tapi tidak dengan buku nikah, hal itu membuat Alena bingung.


Tok ! Tok ! Tok!


Mendengar suara ketukan dari luar, Alena menarik nafas lega, dan itu sedikit menarik perhatian Maya, hanya saja beberapa saat kemudian perhatian Maya teralih kembali dengan suara ketukan pintu yang ke dua.


"Masuk!" sahut Maya, yang masih dengan posisi semula.


Andra, masuk ke dalam ruangan Maya, membuat Maya segera bangkit dari tempat duduk nya.


"Pak, Andra apa ada sesuatu yang ingin anda bicarakan? kalau ada saya akan menyuruh Alena untuk keluar terlebih dulu," tukas Maya, Alena ikut berdiri dari tempat duduk nya.


"Boleh, Alena apa urusan mu sudah selesai?" kini Andra bertanya kepada Alena, hanya di balas anggukan. Setelah itu, Andra menyuruh Alena untuk pergi meninggalkan ruangan Maya.


"Bu Maya, kita disini punya tugas masing-masing, dan urusan karyawan yang menikah itu bukan urusan kita, tugas kita hanya memimpin bawahan kita, jika anda terus sibuk mengurus masalah pribadi orang lain, pekerjaan di kantor ini tidak akan kelar. Kalau Anda sudah bosan dengan posisi Anda disini, Anda boleh langsung ke ruangan HRD!" Maya membulatkan mata nya, menatap nyalang ke arah Andra.


"Apa yang Pak Andra, maksud?"


"Apa ucapan saya barusan belum jelas? kalau belum biar Pak Xan, yang datang sendiri untuk memberitahu Anda!" tukas Andra, dan berbalik ingin pergi.

__ADS_1


"Tunggu, " Maya pun mengejar pak Andra yang sudah berada di dekat pintu ruangan Maya.


"Maaf, jika saya membuat kesalahan, saya tidak akan melakukan nya lagi,"


"Baik."


Hanya jawaban singkat yang keluar dari mulut Andra, pria itu pun berlalu pergi meninggalkan ruangan Maya.


Maya yang merasa posisi nya terancam ia pun tidak terima, apa yang terjadi tidak ada yang tahu apa yang Maya bicara 'kan dengan Alena. Tetapi, kenapa Pak Andra bisa tahu dan langsung menegur Maya.


Saat ini Andra berjalan ke arah ruangan nya, dan langsung mendapatkan panggilan dari Bos nya itu.


"Iya, Pak."


[Awasi mereka semua, jangan ada yang berbuat curang, satu lagi tetap awasi Yuni, jangan biarkan Alena tahu, jika aku memantau nya dari jauh,]


"Baik, Pak. Ada lagi yang Anda butuhkan Pak?"


[Ada, tolong....]


Panggilan pun terputus, Andra langsung pergi meninggalkan perusakan Xael, sesuai dengan permintaan Xan, untuk mencari beberapa buah dan makanan yang untuk Alena.


Semenjak kejadian, dua bulan yang lalu. Xan, memutuskan untuk memasang CCTV di seluruh tempat yang ada di kantor cabang milik nya. Karena Xan, tidak ingin sesuatu terjadi dengan istri nya. Hanya saja, banyak orang yang tidak sadar akan keberadaan CCTV, dengan ukuran yang begitu kecil.


Di dalam ruangan Alena, yang baru saja menyelesaikan pekerjaan nya, mulai merenggangkan otot-otot nya, lalu menatap ponsel sekilas melihat jam sudah menunjukkan pukul tiga, sementara Alena belum makan dengan benar saat jam makan siang tadi, saat ini Alena merasa sangat ingin makan sesuatu.


"Alena," panggil seseorang, bukan hanya Alena, semua orang yang berada di dalam ruangan itu pun menoleh ke arah nya, karena yang memanggil Alena, adalah Andra.


"Bapak, manggil saya?" sembari menunjuk diri sendiri.


"Ini ada kiriman dari suami mu, tapi dia tidak bisa masuk kesini, katanya ada tugas yang sangat penting!" pungkas Andra, sembari menyerahkan paperbag kepada Alena, semua orang terkejut. Alena, sudah menikah? itu yang saat ini yang mereka pikirkan.

__ADS_1


"Terimakasih banyak pak, sudah merepotkan Anda."


"Tidak masalah, kembali bekerja"


Setelah mengatakan itu, Andra pun berlalu dari ruangan tersebut. Kini giliran Yuni yang mulai penasaran dengan apa yang di dapatkan Alena barusan.


"Paling juga lontong sayur yang ada di pinggir jalan itu," cibir Yuni, Alena menghela nafas nya yang tidak menggubris ucapan Yuni. Tapi, ada seseorang yang geram yang saat ini terus menatap layar iPad nya.


"Mana mampu suami nya beli makanan yang mahal, apa jangan - jangan suami mu, OB di kantor ini? karena kamu malu, jadi meminta dia untuk tidak menemui mu?" lanjut Yuni, yang menghina Alena, sembari tangan bergerak menutup mulut nya, semua karyawan yang ada di dalam Divisi tersebut hanya bisa menggelengkan kepala mereka saat mendengar ucapan pedas yang keluar dari mulut Yuni.


"Masih mending Alena masih muda udah menikah, dari pada kamu? ku rasa kamu akan jadi perawan tua!" cibir Sarah, langsung membuat Yuni geram, dan kembali ke tempat duduk nya.


Alena tidak menghiraukan perdebatan mereka, dia lebih fokus mengucapkan kata - kata terimakasih untuk suami nya. Apalagi saat melihat isi paperbag itu, membuat Alena tidak sabar untuk mencicipi makanan nya.


Alena juga membagikan sebagian makanan nya untuk yang lain, karena Alena merasa kalau itu, terlalu banyak jika di habiskan sendiri.


Satu jam telah berlalu, Alena segera menyimpan semua berkas yang ia periksa, dan membereskan semua barang barang milik nya.


Alena selalu memilih untuk pulang terlambat, karena ia akan di jemput oleh Xan.


"Alena, duluan ya"


"Iya, Kak."


Sarah dan Bima, meninggalkan ruangan Divisi, kini Yuni juga pergi meninggalkan ruangan itu. Dan di susul oleh dua karyawan lain nya.


Melihat karyawan sudah pergi semua nya, barulah Alena ikut pergi meninggalkan ruangan Divisi. Alena tidak ingin seseorang melihat ia yang menaiki lift menuju lantai tiga dimana tempat parkiran milik CEO berada.


Setelah tiba di ruangan tersebut, Alena segera keluar menuju tempat parkir, benar saja mobil Xan kini sudah terparkir disana, kali ini Xan, menjemput nya sendiri.


Xan, langsung turun dari mobil untuk menyambut istri kecil nya itu.

__ADS_1


"Sayang," Xan, mengecup sayang kening Alena, dan memeluk nya sekilas sebelum Alena masuk ke dalam mobil.


"Ternyata dugaan ku, salah. Wanita ini memang menggoda Bos, mungkin saja menjadi simpanan Bos." gumam seseorang yang diam-diam mengikuti Alena, sampai ke tempat parkiran CEO. Setelah mobil Xan, meninggalkan tempat parkir, barulah pernah tersebut keluar dari tempat persembunyian nya.


__ADS_2