
Setelah satu bulan berlalu, tidak ada perkembangan dari perusahaan yang di kirim email oleh Alena. Padahal, dia sudah merahasiakan semua nya dari suami dan adik ipar nya, agar tidak gagal lagi seperti yang lalu. Namun, hal itu malah membuat Alena tidak mendapat balasan sama sekali.
"Sabar Alena, sabar" gumam Alena sendiri yang sedang membuat teh hangat untuk diri sendiri, tumben banget Alena pagi-pagi sudah di dapur, biasa Bi Yem yang akan menyiapkan itu semua.
"Alena sedang apa kamu disini?" tanya El yang ingin mengambil botol minuman di kulkas.
"Eh, Kak El. Aku sedang membuat 'kan teh" jawab Alena sembari melirik ke arah El yang sedang membuka kulkas.
"Sayang...!" teriak Xan, yang saat ini sedang berada di anak tangga rumah nya. Semenjak hubungan ke dua nya membaik, Xan sering memanggil Alena dengan sebutan sayang. Padahal, Alena sendiri sering malu mendengar panggilan itu.
"Sayang...!" teriak Xan, lagi yang tak sabaran.
Di dapur Alena mendengar nya, namun malas untuk menjawab, karena Xan pasti tidak akan mendengar jarak dapur dengan tangga cukup jauh. Alena malas untuk berteriak.
"Eemm, Alena tuh anak mu sudah bangun, lagi cari ibu nya untuk mimik cucu" goda El, karena semakin hari sikap Xan semakin berubah, bahkan ia terlihat begitu manja kepada Alena. Namun, begitu tiba di kantor, sikap Xander sama seperti dulu, dingin dan irit bicara.
"Say..." Xan, menghentikan panggilan nya, saat melihat Alena yang sudah berdiri di bawah tangga.
"Sayang, kenapa kau tidak menjawab, aku sudah memanggil mu sejak tadi seperti orang gila"
"Iya memang Kak Xan, sudah gila" jawab Alena, dan berlalu ke ruang makan.
"Sayang.."
Tap..Tap..Tap..
Xander menuruni satu persatu anak tangga nya, lalu menyusul sang istri yang sudah pergi ke ruang makan.
Xander yang masih memakai piyama pun ikut ke ruang makan.
"Kenapa belum mandi?" tanya Alena, saat melihat Xan, yang masih memakai piyama nya.
"Sayang, apa yang salah dengan mu. Hanya karena email mu belum mendapat balasan kamu malah marah dengan ku? apa salah ku, aku sudah meminta mu untuk bekerja di perusahaan ku, namun kau menolak" tukas Xander, El yang juga berada di meja makan hanya bisa menikmati pertunjukan suami istri ini setiap pagi.
"Pagi Kak, Kak ipar" sapa Leo, yang baru turun untuk makan.
"Pagi ..." sapa Al, yang juga sudah rapi dengan pakaian nya.
"Cepat lah kembali ke kamar dan mandi, Aku akan menunggu Kak Xan, untuk makan bersama"
"Tapi say...."
Xan, menghentikan ucapan nya, saat melihat tatapan Alena yang begitu tajam, tanpa membantah Xander pun kembali ke kamar nya.
"Kak Alvarendra, apa pekerjaan mu, akhir - akhir ini lancar?" tanya Alena, yang membuka pembicaraan antara mereka semua.
"Tentu dong, kami juga satu bulan yang lalu mendapatkan karyawan baru, dan sedikit membantu" pungkas Al.
"Bagaimana dengan Kak Elvino. Apa Kakak sudah mendapatkan lahan baru untuk proyek Kakak, katanya Kakak mau bangun code shop ?" tanya Alena,
"Eemmm, proyek kakak di pimpin perusahaan XAEL, jadi sedikit terlambat, karena akhir - akhir ini perusahaan itu, sedang banyak kerjasama dengan orang luar, jadi tidak bergerak cepat" jawab El.
"Tapi perusahaan itu masih aktif 'kan Kak"
"Ha Ha Ha, masih lah. Kenapa kau bertanya?" semua orang yang ada di meja makan melihat ke arah Alena.
"Tidak, aku hanya takut, proyek Kakak terhambat, doa terbaik buat Kakak"
"Terimakasih Alena"
Alena hanya tersenyum, menanggapi ucapan El.
"Bagaimana dengan lamaran mu? apa sudah di terima?" tanya Leo, yang kini sudah bekerja bersama dengan dokter Fino, dan Leo menjadi asisten dokter Fino.
"Belum " jawab Alena yang sedikit cemberut, wajah nya terlihat begitu kecewa.
"Kenapa enggak minta Kak Xan?" tanya Al,
" Tidak, aku mau berusaha sendiri, kalau minta bantuan Kak Xan, sama aja aku telah menyia-nyiakan kerja kerasa ku selama ini" tukas Alena.
Cup!
Xan, memberi kecupan selamat pagi di pipi Alena, membuat Alena terkejut.
"Dia memang istri ku, yang pekerja keras, tidak mau aku terlibat, aku bangga pada mu sayang" Xan, mengusap kepala Alena. Semua orang yang melihat mereka berdua tersenyum senang.
"Kak Xan duduk lah, dan segera sarapan" titah Alena, Xan segera duduk di samping Alena, dan Alena mengambil roti untuk suami nya.
"Berhenti memanggil ku Kak Xan, bagaimana kalau kamu panggil aku Daddy!" bisik Xan, yang menggoda Alena.
Duk!
"Aagrah" teriak Xan, saat Alena menginjak kaki Xan.
__ADS_1
"Diam, dan sarapan dengan benar" ketus Alena, Xan pun nurut tanpa menbantah.
"Seperti nya Kak Xan, sudah berubah" bisik Al,
"Iya berubah semenjak menikah, lihat lah. Dulu dia begitu dingin dan sangar, sekarang dia di seperti orang yang bodoh, suami takut istri" cibir El, tapi masih bisa di dengar oleh Xan.
"Kalian mau mobil Kalian ku sita?" ancam Xan,
"Yeee... Kakak mah gitu, itu 'kan mobil pemberian papa" ketus El.
"Iya, tapi yang bekerja saat ini di Fernandez aku, jadi aku punya hak dong" bangga Xan,
"Sudah diam, makan saja dulu yang benar" tukas Alena, Xan pun kembali diam. Al dan El kembali mengejek Xan.
"Kak aku berangkat dulu" Leo, begitu selesai sarapan segera bangkit dari tempat duduk nya dan berlalu pergi setelah berpamitan dengan semua orang.
"Kami juga pergi dulu kak" Al dan El ikut berdiri.
"Kalian semua hati-hati"
"Iya" sahut Al dan El yang hampir sampai di rumah tamu.
Xan sudah selesai sarapan. Alena memberikan segelas kopi pagi untuk Xan.
"Jangan di pikirkan, aku yakin email mu akan segera mendapat jawaban " ujar Xan, yang ingin menyemangati Alena.
"Iya Kak Xan" sahut Alena.
"Mana jatah selamat lagi ku" tagih Xan, sembari mendekatkan wajah nya dengan Alena. Alena langsung mengecup nya.
"Hati - hati bekerja, jaga mata jaga hati" Alena sedang menasehati suaminya. Yang di nasehati cuma bisa senyam senyum sendiri melihat wajah Alena yang begitu dekat.
"Iya sayang, iya. Aku pergi dulu"
"Iya"
Alena tidak mengantar Xan ke depan, karena dia sendiri masih sedang sarapan. Setelah semua orang pergi, rumah kembali terlihat sepi. Saat ini di ruang makan, hanya ada Alena yang sedang menikmati roti panggang yang ada di atas piring nya.
Siang hari...
Di bengkel milik Al, Ria saat ini sedang bekerja disana, sebagai asisten Al. Karena, El memutuskan untuk membuat cafe shop nya, sehingga semua pekerjaan Al yang menghandle, oleh sebab itu dia mencari asisten baru.
"Pak, ini catatan pelanggan hari ini" Ria membawakan catatan pelanggan yang di berikan Marina untuk dirinya.
"Letakkan disini, aku akan memeriksa nya nanti"
"Haah...Hah..." seorang karyawan, yang baru saja tiba tepat di hadapan Ria dan Marina dalam keadaan ngos - ngosan.
"Ada apa? kenapa kamu lari?" tanya Ria.
"Ada seorang pelanggan yang menolak untuk membayar, kata nya kami tidak memperbaiki mobil nya. padahal, kami sudah memperbaiki nya dengan baik, mobil nya rusak begitu parah" pungkas Karyawan itu, mengadu pada Marina dan Ria.
"Ayo kita lihat Ria" ajak Marina.
Ria dan Marina pun, bergegas pergi menuju ruang perbaikan mobil.
"Aku tidak mau membayar nya, mobil ku tidak mungkin separah itu rusak nya, kalian pasti memeras aku 'kan?" teriak seorang pria yang ada di tempat itu, dan dialah pelanggan yang tadi di ceritakan oleh karyawan.
"Maaf Pak, tidak ada yang mau memeras bapak disini" sahut Ria, yang baru saja tiba di ruangan tersebut.
"Kau panggil aku apa? bapak? kau pikir aku bapak mu, Haah?" teriak pria itu melihat ke arah Ria.
Marina yang melihat teriakan nya pun menjadi geram sendiri.
"Sudah - sudah, katakan kenapa kau tidak mau membayar nya, kau tahu, mobil mu itu rusak parah, dan mereka sudah memperbaiki nya"
"Kalian pikir aku tidak tahu, kalian menipu ku, dan ingin memeras ku, mobil ini tidak rusak, kenapa aku harus membayar nya?" pria itu kini berdiri di depan Marina.
"Jika tidak rusak kenapa kau membawa nya kemari? dan dalam keadaan mati, disini kami punya cctv. Dan seluruh tempat ini di lengkapi dengan cctv, dan kami bisa melapor mu pada polisi atas penipuan!" ancam Ria, pria bertubuh besar dan tinggi, kini menatap lekat ke arah Ria.
"Benar, kami punya bukti yang bisa memberatkan mu!" sambung Marina. Akhirnya mau tidak mau pria itu mengeluarkan uang dari dompet nya dan membayar semua uang perbaikan mobil.
Setelah urusan dengan pria itu beres, Ria atau pun Marina kembali ke dalam ruangan. Tiba di sana, Ria dan Marina melihat Alvarendra, yang sudah menunggu mereka.
"Dari mana kalian? ini bukan jam istirahat, kenapa kalian keluar di jam kerja?" tanya Al, sembari berkacak pinggang.
"Maaf Pak, tadi Kami mengurus pelanggan yang tidak mau membayar perbaikan mobil nya. Tapi, semua nya sudah beres" ungkap Marina.
"Kembali bekerja kalau urusan di luar sudah beres, dan Kamu Ria, ikut saya ke ruangan"
"Baik Pak"
Ria mengikuti Al dari belakang menuju ruangan nya.
__ADS_1
Di rumah Fernandez....
Alena yang baru saja mendapat balasan dari email nya sangat senang, akhirnya dia dapat bekerja, dan tidak tinggal di rumah sendiri.
"Terimakasih ya Allah, akhirnya doa ku terkabul" ucap Alena dengan senang, ke dua tangan nya ikut terangkat ke atas sembari mengucap syukur, akhirnya surat lamaran nya di terima.
"Ada apa Nyonya muda, anda terlihat begitu senang?" tanya Bi Yem, saat melihat Alena yang tersenyum sendiri di ruang tamu.
"Iya Bi, akhirnya aku di terima kerja, dan besok aku akan mulai berkerja" ujar Alena, sembari masih fokus pada layar iPad nya.
"Selamat ya Nyonya" ucap Bi Yem.
"Iya Bi, terimakasih" Alena tersenyum, dan di balas anggukan oleh BI Yem. Alena kembali melihat persyaratan yang harus di bawa nya besok, dan Alena segera interview, Via online agar besok bisa segera masuk kerja.
Malam pun tiba....
Semua orang kompak pulang terlambat, padahal Alena sudah menunggu mereka di rumah dengan cemas.
Alena mondar mandir di ruang tamu, bahkan tadi dia membantu Bi Yem memasak, untuk menyiapkan menu makan malam.
Ceklek !
Pintu terbuka, mereka semua baru pulang.
"Kalian baru pulang?" tanya Alena, terlihat wajah kusut dan lelah dari wajah semua orang.
"Ayo makan dulu, aku sudah menyiapkan banyak makanan" ajak Alena.
Al dan El serta Xan berjalan ke arah meja makan. Leo, pergi ke dapur lebih dulu untuk mencuci tangan nya, lalu baru kembali ke meja makan.
"Apa kamu baik - baik saja?" tanya Alena, saat melihat wajah Leo yang pucat.
"Eeemmm, tapi seperti nya kau tidak nafsu makan, hari ini baru menemani dokter Fino melakukan operasi" ujar Leo, karena selama sebulan ini baru hari ini dia menemani dokter Fino masuk ke ruang operasi.
"Tidak apa-apa, biar aku yang menyuapi mu" tukas Alena, semua orang melihat ke arah Alena.
"Tidak boleh, aku akan cemburu" ketus Xan,
"Kak Xan, diam lah. Kak Xan, enggak lihat wajah Leo begitu pucat"
Alena segera menyuapi Leo, dan benar saja, Leo menikmati makan malam nya, dan ia terlihat makan begitu lahap saat Alena menyuapi nya.
Begitu semua orang selesai makan, Alena pun membereskan meja makan, setelah itu Alena berniat untuk memberitahu semua orang tentang pekerjaan baru nya.
"Jadi, semua nya dengar 'kan aku!" ucap Alena yang berdiri dari tempat duduk nya.
"Aku sudah di terima bekerja di sebuah perusahaan yang tergolong masih lumanyan baru sih. Namun, aku minta sama kalian semua, tidak boleh ikut campur dalam pekerjaan ku, terlebih lagi aku ingin mandiri, dan kamu Kak Xan, kamu tidak boleh mencari tahu di mana aku bekerja, aku tidak ingin kamu campur tangan dalam pekerjaan ku!" pungkas Alena.
"Iya, tapi kamu bekerja di perusahaan mana?" tanya Xan,
"Barusan 'kan aku udah bilang, Kak Xan tidak boleh tahu dimana aku bekerja, dan ingat kalau sampai Kak Xan, cari tahu aku bekerja dimana, Kakak akan tahu akibat nya" ancam Alena.
"Iya-ya" jawab Xan, malas.
"Pergi sama aku saja tiap hari Alena" saran Leo,
"No, No..." jawab Alena, sembari menggerakkan jari nya.
"Aku akan pergi naik taxi, aku tidak mau kalian semua tahu, dimana aku bekerja, dan aku bisa membuktikan kalau aku bisa mandiri tanpa bantuan kalian" tukas Alena dengan bangga.
"Iya-ya. Kakak ipar kami yang terbaik"jawab Al dan El serta Leo serentak, membuat Alena malu.
Setelah mendapat kabar baik itu, Xan sedikit cemas kalau sampai Alena, salah pilih perusahaan, karena saat ini musuh mereka belum menampakkan diri di depan mereka.
"Sayang, dimana kamu bekerja?" tanya Xan, lagi.
"Kak Xan, berhenti bertanya, atau aku akan marah" ujar Alena, yang mengerucutkan bibir nya.
"Beri aku jatah, maka aku akan diam" goda Xan, Alena langsung menatap nya dengan tatapan tajam, membuat Xan tertawa kecil.
"Mata nya itu loh..." bisik Xan,
Duk!
"Aaww"
Alena memukul perut Xan, dan membuat pria itu memekik kesakitan. Xan, memegang perut nya yang sakit.
"Aku mau tidur, besok hari pertama ku kerja"
"Eeem, tidur lah sayang, selamat malam. Mimpi indah sayang" Xan, mengecup kening Alena yang berbaring di sebelah nya.
"Sayang, tapi benaran kamu tidak ingin memberitahu ku dimana kamu akan bekerja, siapa tahu aku bisa membantu mu mencari tahu soal pemilik perusahaan itu?" tanya Xan lagi, langsung mendapat tatapan tak suka dari Alena.
__ADS_1
"Oke - oke, aku tidak akan bertanya lagi, kamu tidur lah"
"Eeemm" singkat Alena, yang memejamkan mata nya, Alena memeluk nya dengan erat, dan berusaha berpikir dimana Alena menyimpan iPad nya. Xan, ingin mencari tahu pekerjaan baru Alena. Namun, sia - sia saja, kali ini Alena menyimpan iPad nya di tempat yang tidak di ketahui Xan.