Pengasuh Keempat Tuan Muda Somplak

Pengasuh Keempat Tuan Muda Somplak
masalah


__ADS_3

Plak !


Satu tamparan melayang di pipi pria tersebut, dan Alena menatap tajam ke arah nya.


"Kau anak magang berani menampar ku!" teriak pria itu, yang ingin menampar Alena, namun tangan nya di halangi oleh seseorang, sehingga membuat Alena dan pria tersebut, terkejut secara bersamaan.


"Kak Bima..!" lirih Alena, Bima langsung menghempas tangan pria yang ingin menampar Alena barusan.


"Jangan menyakiti dia, jika kamu tidak ingin berakhir lebih menyedihkan!" tegas Bima, Alena tercengang melihat perhatian pria itu, tapi dia sadar, saat ini Bima adalah senior nya.


"Terimakasih kak" ucap Alena, sedikit menunduk. Bima tersenyum.


"Kamu mau kemana?"


"Aku mau bertemu Bos, katanya Bos memanggil ku" ujar Alena,


"Baik lah, mau aku temani? Bos sedikit galak, aku takut nya kamu tidak terbiasa" tukas Bima.


"Aku sudah terbiasa" gumam Alena, tapi masih bisa di dengar oleh Bima.


"Kamu bilang apa?"


"Eng-enggak Kak, kalau begitu Aku pergi dulu kak"


"Iya"


Alena pun segera pergi menuju ruangan Ceo, dimana Xan sudah lama menunggu nya. Sebelum masuk, Alena lebih dulu menghela nafas nya, dan mempersiapkan diri nya.


Ceklek !


"Kak Xan!" pekik Alena, karena begitu pintu terbuka, Xan langsung menarik tangan Alena, dan memeluk nya.


"Kenapa begitu lama? aku sudah menunggu sejak tadi?"


"Lepas!" pintu Alena, yang sedikit memberontak.


Ceklek !


"Pak ini...."


Alena dan Xan, sama - sama menoleh ke arah Andra yang baru saja masuk ke dalam ruangan tersebut.


"Bisa enggak, kamu masuk ketuk pintu dulu!" Xan, menatap nyalang ke arah Andra,

__ADS_1


"Maaf Pak!"


"Pak Andra, tunggu!" panggil Alena, disaat pria itu ingin berbalik dan keluar dari tempat tersebut.


"Maaf, saya benar-benar tidak tahu, jika Bos sedang ada tamu, sekali lagi, maafkan kelancangan saya," Andra sedikit menunduk, Alena langsung melihat ke arah Xan, untuk menyuruh sang suami membereskan kesalahpahaman ini.


"Andra, ini Alena istri saya," belum selesai Xan, berbicara, Andra terkejut, dan langsung mendongakkan kepala nya sekilas, dan beberapa detik kembali menunduk, saat melihat tatapan Xan, yang begitu dingin.


"Pak, Andra. Untuk masalah ini tidak apa-apa, anda sendiri tidak tahu. Tapi, tolong rahasiakan status saya di kantor ini, saya ingin berdiri tanpa bantuan siapapun, saya ingin di kenal oleh orang karena kinerja kerja saya sendiri yang memang benar bisa di andalkan, bukan kerena saya ini istri Bos. Untuk sementara, bantu saya untuk merahasiakan ini semua," pungkas Alena,


"Tapi sayang, bukan kah itu sama saya mempersulit 'kan kamu disini?" tanya Xan, yang memegang tangan Alena.


"Tidak Kak Xan, aku terbiasa, dan aku ingin bekerja dengan tenang tanpa ada karyawan lain, yang mencoba segan dengan ku, hanya karena aku ini istri Bos mereka"


"Andra, kamu bisa pergi. Ingat, jangan biarkan siapapun boleh masuk, sebelum Alena keluar!" tegas Xan,


"Baik Pak. Saya permisi!" Andra, meninggalkan ruangan Xan.


Setelah Andra keluar, Alena dan Xan, berjalan ke arah sofa, yang ada didalam ruangan itu.


"Apa yang terjadi ? kamu terlihat cukup pucat? apa mereka memberikan banyak pekerjaan untuk mu?" tanya Xan, khawatir dan menyentuh pipi Alena.


"Tidak, hanya saja aku heran dengan orang orang di ruangan ku, ada satu orang yang tidak suka dengan ku, entah apa salah ku, dia selalu menindas ku!" adu Alena kepada Xan.


"Jangan Kak Xan. Aku tidak ingin dia kehilangan pekerjaan, biarkan saja, selama aku masih bisa bertahan. Aku akan bertahan, dan membuktikan kepada mereka kalau aku pantas bekerja disini, dan layak bersanding dengan kak Xan" Alena tersenyum, Xan sendiri bahagia mendengar ucapan Alena, yang akhirnya Alena bisa menerima Xan.


"Kamu sudah makan siang, apa perlu aku pesan makanan?"


"Tidak usah, aku akan kembali bekerja, jika aku berlama disini, orang - orang akan curiga" Alena bangkit dari tempat duduk nya. Xan, kembali menarik lengan Alena, sehingga membuat Alena, kembali terduduk di atas pangkuan Xan.


"Kak Xan, apa yang kamu lakukan," Alena mencoba berdiri, namun Xan menahan nya.


"Panggil aku sayang, maka aku akan melepaskan mu," goda Xan, langsung saja di tatap sangar oleh Alena.


"Yasudah, enggak akan ku lepaskan! " Xan, masih kekeh pada pendirian nya.


Akhirnya Alena memilih memanggil nya, "Sayang, lepas. Aku akan kembali bekerja," rengek Alena dengan raut wajah yang menahan malu.


Xan, kembali mencuri satu ciuman di pipi Alena, sehingga membuat Alena memelototi nya.


"Kita pulang bersama, aku menunggu mu di tempat parkiran khusus CEO, ada di pintu masuk lift lantai bawah tanah" ujar Xan, Alena hanya membalas nya dengan anggukan.


Alena kembali ke ruangan Divisi, semua orang sedang menunggu Alena, dan ingin bertanya tentang apa yang membuat Bos memanggil nya ke ruangan.

__ADS_1


"Alena, apa kau melakukan kesalahan sehingga Kau di panggil oleh Bos?" tanya Yuni dengan ketus.


"Eemmm, enggak Kak" Alena kembali duduk di kursi nya.


"Apa yang terjadi Alena? " tanya Sarah, yang juga ikut penasaran.


"Aku tidak apa-apa, semua baik-baik saja. Bos hanya memanggil ku, karena aku anak magang yang belum di kenal oleh Bos" jawab Alena, mencari alasan.


"Haah?" Sarah ikut terkejut, sama seperti Yuni.


"Kau bercanda, sejak kapan Bos peduli akan hal itu. Ha Ha Ha " tawa Yuni mengejek Alena.


"Iya Alena, bos selama ini tidak peduli akan hal itu, bahkan kami yang sudah lama bekerja disini saja, mungkin Bos tidak kenal sama kami" ujar Sarah, yang memang sedikit heran dengan apa yang di katakan Alena.


"Sudah lah, jangan di pikirin lagi, kembali bekerja" tukas Alena, secepat nya ingin menghindar dari pertanyaan lain, yang akan di tanya oleh senior nya.


Beberapa jam telah berlalu, dan saat nya para karyawan akan pulang ke rumah.


"Alena, sebelum kamu pulang, kamu harus menyelesaikan laporan ini ya, ini akan di butuhkan besok pagi, tolong kamu siapkan malam ini" titah Yuni, memberikan laporan kepada Alena.


"Apa aku harus lembur?" tanya Alena,


"Iya, kamu harus lembur, bersama dengan mereka" Yuni menunjuk ke arah Bima dan juga Sarah.


"Yasudah Kak"


Yuni mengambil tas, setelah meninggalkan pekerjaan nya kepada Alena dan membiarkan Alena yang mengerjakan tugas itu sendiri.


Satu jam berlalu....


Sarah dan Bima, akhirnya selesai membereskan pekerjaan nya.


"Alena, Kenapa kamu belum pulang?" tanya Sarah,


"Kak Yuni, memberikan laporan ini kepada ku, dan harus selesai hari ini juga" jawab Alena yang masih sibuk dengan berkas di atas meja nya.


"Tapi, itu tugas Yuni, aturan nya kamu jangan mau di suruh seperti itu"


"Tidak apa- apa kak, ini juga sudah selesai, Kak" jawab Alena, dengan senyuman.


"Kalau begitu, kami duluan ya" Sarah dan Bima pun keluar dari ruangan Divisi, meninggalkan Alena sendiri.


Di tempat lain, ada Xan, yang menunggu Alena untuk pulang bersama, Xan tahu saat ini sudah jam pulang, tapi Alena belum juga terlibat batang hidung nya. Sehingga membuat Xan, sedikit cemas.

__ADS_1


__ADS_2