Pengasuh Keempat Tuan Muda Somplak

Pengasuh Keempat Tuan Muda Somplak
Pagi Pertama


__ADS_3

Suara azan membangun 'kan Alena dari tidur nyenyak nya. Lalu ia berusaha membuka mata dan mencoba mengucek ke dua mata nya. Namun, Alena terkejut, saat mendapati pemandangan di depan nya.


Dan baru lah Alena sadar, kalau dia dan Xan sudah melakukan hubungan suami istri. Alena panik, dan teringat jika semalam Xan membuang nya di dalam, Alena takut hamil.


"Kak Xan, bangun!" seru Alena, mencoba membangunkan suami nya. Namun, Xan yang masih di bawah pengaruh alkohol sangat sulit untuk di bangun 'kan.


"Kak Xan bangun!" Alena masih berusaha untuk membangunkan Xan, namun usaha nya hanya sia - sia saja. Tanpa menunggu Xan, lagi Alena berusaha untuk duduk di atas kasur, hanya saja ke dua kaki nya masih terasa keram.


"Ugh!" Alena menahan rasa perih akibat sobekan di bawah sana, dan sampai sekarang masih terasa begitu ngilu.


Setelah mencoba menurunkan satu kaki nya, kaki yang lain ikut turun, Alena mencoba meraih baju mandi yang ada di sebelah ranjang. Mau berdiri saja kaki nya masih terasa begitu gemetar, Alena rasa mau mati saja, tidak sanggup berjalan ke arah kamar mandi.


"Biar ku bantu?" ujar seseorang yang duduk di belakang Alena, wanita ini terkejut. Xan, langsung turun dari ranjang, dan meraih handuk setelah handuk di lilit 'kan di pinggang, baru lah dia berjalan mendekati Alena.


"Apa aku membuat mu sakit?" tanya Xan, yang berjongkok di depan Alena.


Alena hanya menggelengkan kepala nya, wajah nya memerah, mendengar pertanyaan itu.


"Ayo, aku bantu!" Alena berusaha meraih tangan Xan, tapi pria ini malah langsung menggendong Alena, sehingga membuat Alena terkejut.


"Maaf 'kan aku yang membuat kamu begitu sakit, dan maaf semalam aku tidak dapat menahan hasrat ku, Alena aku meminta maaf kepada mu, atas perbuatan ku semalam" ucap Xan, sembari melangkah masuk ke dalam kamar mandi.


"Turun 'kan aku, aku mau mandi"


"Biar ku bantu?"


"Tidak usah, aku bisa sendiri"


"Apa kamu yakin?"


"Iya!" ketus Alena yang kesal, dan akhirnya mendorong Xan, keluar dari kamar mandi.


Duk ! Duk!


"Alena, kalau butuh bantuan panggil saja aku!" teriak Xan, dari luar kamar mandi, yang sedang mecoba menggoda Alena.


"Aagrh!" teriak Alena dari dalam kamar mandi, yang tanpa sengaja menyentuh bagian sensitif nya, itu masih sangat perih.


"Alena, apa kamu baik - baik saja?" tanya Xan, yang mendekatkan kuping nya di daun pintu.


"Iya!" sahut Alena dari dalam kamar mandi.


Xan, duduk di tepi ranjang, menunggu Alena selesai mandi. Disaat pintu kamar mandi terbuka, Xan, langsung berdiri, ingin membantu Alena, yang berjalan dengan tertatih.


"Biar ku bantu!"


"Tidak perlu, aku bisa sendiri. Kak Xan, mandi lah dulu"


Melihat Alena yang terus menolak untuk di bantu, akhir nya Xan pun pergi mandi dan membiarkan Alena mengurus diri nya sendiri.


Tepat jam 08:20.


Alena masih duduk di sofa, dengan raut wajah yang cemberut. Xan, sedang membenarkan jas nya, karena Xan harus pergi ke kantor.


"Kamu enggak turun untuk sarapan?" tanya Xan, saat melihat Alena yang masih duduk di sofa.


"Bagaimana aku bisa turun, Kak Xan enggak lihat? ulah Kak Xan, leher ku malah banyak noda nya !" ketua Alena yang menahan amarah nya.


Xan, belum sadar, ia pun mendekat ke arah Alena, dan melihat dengan sangat teliti ke arah leher Alena.


"Heeem, kamu bisa memakai baju dengan kerah yang sedikit lebar" saran Xan,


"Kak Xan, tahu. Aku tidak memiliki baju dengan kerah lebar, pokoknya aku enggak mau turun, kalau aku turun Leo, akan meledek aku!" ketus Alena dengan mengerucutkan bibir nya. Melihat Alena yang sedang kesal, Xan malah tidak bisa menahan diri untuk tertawa.


Entah sejak kapan mereka berdua terlihat akrab, padahal Xan sangat menentang pernikahan itu.


"Alena" panggil Xan, Alena mendongakkan kepala nya, menatap pria tinggi yang ada di depan nya. Xan, sedikit membungkuk, dan mendekatkan bibir nya di telinga Alena.


"Tapi tadi malam kamu sangat mengairahkan, bisa kah kita mengulangi nya lagi?" bisik Xan, yang sengaja ingin menggoda Alena.


"Gila!" teriak Alena, Xan langsung berdiri dengan tegak dan menertawakan Alena.


"Kamu benaran tidak mau turun?"


"Enggak!" final Alena, yang duduk sembari ke dua tangan di lipat 'kan di dada.


"Baiklah, aku akan pergi kerja, nanti aku meminta Bi Yem untuk mengantar makanan ke kamar"


"Terimakasih" ucap Alena, Xan si kutub utara hanya tersenyum, dan berlalu keluar dari kamar tersebut.


Alena menghela nafas nya berkali-kali, masih terasa begitu perih, di antara ke dua paha nya.

__ADS_1


"Entah tenaga apa yang di gunakan kulkas dua pintu itu, dia hampir membunuh ku semalam" gumam Alena, yang masih menahan rasa sakit.


Di meja makan sudah ada Al dan El, serta Leo. Tidak seperti biasa nya, pagi ini raut wajah Xan, terlihat lebih ceria dan dia sudah tersenyum sejak turun dari tangga.


"Eeheem" El berdehem, Al langsung menyenggol kaki El, karena tidak ingin Xan, bertanya perkara semalam.


"Jangan kalian pikir aku tidak tahu ya, kalian yang menaruh obat di minuman aku semalam?" tukas Xan, El hanya bisa nyengir, Leo langsung menggelengkan kepala nya, merasa tidak melakukan itu.


"Sudah ku ingatkan El, tapi dia tidak mau mendengar nya" ujar Al,


"Tidak heran, kalau soal begitu dia yang paling tahu" Xan, membenarkan Al.


Mereka melanjutkan sarapan pagi, sampai mereka baru sadar kalau Alena tidak turun.


"Oh ya, mana Kakak ipar ku, kenapa dia belum turun untuk sarapan. Biasa nya kalau pagi dia akan duduk di sini, sambil memelototi kita, ada saja kelakuan kita yang di kritik oleh dia" pungkas Leo,


"Alena demam" jawab Xan.


"Demam?" teriak mereka bertiga, spontan membuat Xan terkejut.


"Kenapa kalian berteriak?" tanya Xan, kembali saat melihat raut wajah Mereka yang bingung.


"Kenapa bisa demam, Kak Xan apakan Alena ?" tanya Leo, yang begitu penasaran.


"Emang apa yang bisa ku perbuat sama dia, Alena bukan wanita lemah yang bisa kita goda, dia itu macan betina" cibir Xan, yang sengaja menyembunyikan kebenaran itu dari adik - adik nya.


"Apa obat ku semalam tidak bekerja? " bisik El,


"Eemmm" Xan berbohong, El malah terlihat bingung.


"Aku duluan, hari ini akan ada meeting. Bi Yem, tolong antar 'kan sarapan ini ke kamar ku ya"


"Baik Tuan "


Setelah menyuruh Bi yem untuk membawa sarapan buat Alena. Xan, segera pergi meninggalkan meja makan, dan di susulin oleh Al dan El yang ingin berangkat kerja juga.


Kini hanya tinggal Leo sendiri di meja makan, kaki nya sudah sembuh, meskipun harus sangat berhati-hati agar tidak cedera lagi.


"Bi, biar aku saja" pinta Leo, saat melihat Bi Yem akan ke kamar Alena. Bi Yem pun memberikan nampan berisi sarapan untuk Leo.


Begitu selesai sarapan, Leo membawakan nampan berisi sarapan untuk Alena.


Tok ! Tok !


"Masuk!" jawab Alena dari dalam.


Ceklek !


Pintu kamar terbuka, namun Alena malah terkejut, melihat Leo yang membawa 'kan sarapan untuk nya.


"Alena, kata Kak Xan kamu demam, jadi aku membawakan mu sarapan! "


"Makasih ya, tapi aku baik-baik saja kok"


Alena masih duduk di sofa yang ada di dalam kamar tersebut, mata Leo, tertuju pada leher Alena, membuat Alena canggung, dan berusaha untuk menutupi nya. Leo, tersenyum jahil saat melihat Alena yang malu.


"Kak ipar, kau di rumah saja, untuk baju wisuda biar aku saja yang mengurus nya"


"Kalau Ria mencari ku bagaimana?"


"Kalau Ria bertanya, aku akan mengatakan kalau Kamu sedang tidak sehat. Tapi, aku dan Ria jarang berbicara" Leo, sudah selesai menata hidangan yang ia bawa barusan. Lalu, menyuruh Alena untuk sarapan lebih dulu.


Melihat Alena yang sedikit canggung, Leo pun keluar dari kamar Xan dan pergi meninggalkan Alena sendiri. Leo, juga berpamitan sama Alena untuk mengambil perlengkapan wisuda di kampus, tentu saja Leo akan di antar sopir. Kalau pergi sendiri, Leo bisa ke sasar.


Di kantor Fernandez....


Berhubung Fino sibuk di rumah sakit, Fino mencari Xander asisten baru, seorang pria yang memiliki cukup pengalaman sebelumnya.


Tok ! Tok !


"Masuk "


"Permisi pak, Saya Andra, saya adalah asisten baru anda yang di utuskan oleh Pak Fino" ujar Andra.


"Baik, kamu sudah bisa mulai bekerja. Andra tolong kamu periksa semua dokumen ini, dan satu lagi tolong kamu siapkan beberapa berkas yang akan ku tanda tangan. Berkas tersebut ada di ruang manager umum"


"Baik Pak, saya permisi dulu"


"Eemmm"


Andra segera berlalu dari ruangan Xan, entah apa yang sedang di pikirkan Xan, pria ini malah tersenyum sendiri.

__ADS_1


"Aku tidak menyangka, yang dulu sangat membenci wanita itu, tapi malah menaruh kesan yang baik sekarang kepada nya, sungguh di luar logika" gumam Xan, yang sedang menatap layar laptop yang ada di depan nya.


...****...


Hampir seharian Alena tidak keluar kamar, Alena merasa sangat bosan, apalagi hari ini sang ayah mertua baru keluar dari rumah sakit membuat Alena merasa tidak enak bila tidak menyambut nya di depan pintu.


"Aku harus keluar" Alena melirik jam di dinding, sudah menunjukkan pukul 20:00. Namun, sang suami juga belum tiba di rumah. Xan, tidak mengabari Alena, padahal ke dua nya pernah menyimpan nomer satu sama lain.


"Oh, kenapa masih nyeri aja sih!" gumam Alena, yang berusaha berjalan ke arah pintu kamar, namun tiba - tiba pintu itu terbuka lebih dulu.


Ceklek !


"Kak Xan" seru Alena, yang melihat suami nya telah pulang. Xan, memperhatikan raut wajah Alena yang masih menahan rasa sakit.


"Apa itu, masih sakit?" tanya Xan, yang memperlihatkan rasa peduli nya terhadap Alena, wanita ini malah terlihat kesal, tidak ingin Xan bertanya seperti itu.


"Sudah tau, pakek nanya. Ini juga ulah Kak Xan" ketus Alena, yang memegang pintu kamar.


"Kamu mau keluar?" tanya Xan,


"Eeemmm, aku mau melihat Paman " ujar Alena, menoleh ke arah Xan.


"Dalam keadaan begitu?" Xan, memperhatikan Alena, yang berjalan sedikit pincang. Alena tidak menjawab.


"Istirahat saja malam ini di kamar, aku sudah bilang sama Papa kalau kamu demam. Besok kamu wisuda, kalau enggak istirahat apa besok mau jalan seperti itu ke kampus?"


'Ah, benar juga. Sial!' Alena berbalik lagi, setelah memikirkan ucapan Xan, ada benar nya.


Alena berbalik dan kembali ke tempat tidur. Alena duduk di tepi ranjang, Xan melonggarkan dasi nya, serta membuka kancing kemeja, tanpa memperdulikan Alena yang masih ada di dalam kamar.


'Kenapa pria ini, semakin tidak punya rasa malu' Alena memalingkan wajahnya.


"Kamu malu? bukan kah, semalam kamu sudah melihat semua nya?"


Bugh!


Alena melempar bantal ke arah Xan.


"Diam, aku tidak ingin berdebat"


"Iya, ya. Alena apa kamu masih membenci ku?"


Tanya Xan tiba - tiba, yang mengejutkan Alena, wanita ini melirik melihat ke arah Xan, yang sedang berjalan ke arah ranjang, dimana Alena tengah duduk.


"Apa kamu masih membenci ku?" tanya Xan lagi, yang kini sedikit membungkuk tubuh nya di depan Alena.


"Iya, aku membenci Kak Xan!" ketus Alena, raut wajah Xan, berubah seketika, tidak bisa berbohong, kalau Xan tidak senang dengan jawaban Alena.


Xan kembali berdiri, lalu meraih baju mandi nya dan berlalu ke kamar mandi. Alena memperhatikan punggung Xan, yang sedang berjalan ke arah kamar mandi.


"Ada apa dengan nya? tidak puas dengan jawaban ku? siapa suruh bertanya!" gumam Alena, yang membenarkan tempat tidur.


Meskipun Alena mengatakan dia membenci Xan, namun dia tetap peduli pada pria yang menjadi suami nya baru dua hari.


Alena mengambil baju ganti untuk Xan, dan untuk mengambil bahan dalam untuk Xan, yang membuat Alena, tiba - tiba tersipu malu.


Ceklek !


Pintu kamar terbuka, dan itu mengejutkan Alena, kenapa Xan, secepat itu selesai mandi.


Alena menoleh saat Xan keluar dari kamar mandi, dan Xan melihat Alena yang sedang memegang pakaian dalam nya.


"Apa kau sedang mencari ukuran milik ku?" goda Xan, saat melihat pakaian dalam nya di tangan Alena.


"Tidak!" bantah Alena yang langsung menyimpan kembali benda yang ada di tangan nya.


Xan, berjalan ke arah lemari, dan mengambil botol sabun yang tersimpan disana.


"Semua perlengkapan mandi ada disini, kenapa kau tidak menggantikan dengan yang baru"


"Aku lupa"


"Eemmm"


Xan, kembali ke kamar mandi, setelah mengambil perlengkapan mandi yang baru, semua yang ada di dalam kamar mandi sudah habis.


"Menyebalkan!" gumam Alena, setelah Xan kembali ke kamar mandi. Lalu, Alena kembali mengambil pakaian dalam Xan, dan meletakkan nya bersama dengan baju ganti, setelah semua selesai, Alena kembali naik ke atas ranjang, dan berselancar disana, sembari memainkan ponsel nya.


Alena membuka beberapa aplikasi sosial media nya, dan melihat beberapa postingan baru milik teman nya disana, mereka terlihat begitu bahagia hari ini saat menghadiri acara di kampus. Besok adalah acara wisuda Alena, dan setelah itu dia akan mencari pekerjaan, bisa di bilang ini magang pertama Alena.


Alena memilih wisuda dulu, baru magang. Karena dulu, dia tidak sempat magang sebelum wisuda di sibuk 'kan dengan bekerja paruh waktu.

__ADS_1


__ADS_2