Pengasuh Keempat Tuan Muda Somplak

Pengasuh Keempat Tuan Muda Somplak
Dua bulan kemudian


__ADS_3

Setelah kondisi Alena membaik, bahkan Alena meminta untuk kembali bekerja, meskipun Xan, terlihat enggan memberi izin, Alena dapat meyakinkan suami nya kalau Alena akan baik-baik saja.


Dengan keadaan perut yang sudah mulai membuncit, Xan takut kalau itu akan membuat Alena dalam masalah, jika tiba - tiba datang kembali dalam keadaan hamil.


"Sayang, perut mu sudah mulai membentuk, bagiamana kalau magang mu udahan saja, nanti aku bantu kirim nilai yang bagus ke kampus kamu," saran Xan. Namun, Alena tetap menolak bantuan itu.


"Kak, kalau aku menerima bantuan Kakak, sia-sia dong aku kuliah begitu lama, tapi tidak bisa menyelesaikan magang" jawab Alena, Xan pun menyerah untuk berdebat dengan istri nya.


Mereka berdua turun ke ruang makan, disana sudah ada Alvarendra dan Elvino, belum terlihat Leo, seperti nya masih di kamar.


"Selamat pagi," sapa Leo, yang baru saja turun, Xan dan Alena menoleh, melihat Leo, seperti orang yang kekurangan tidur.


"Pagi, "jawab mereka serentak. Acara serapan pagi pun berjalan dengan lancar. Seperti biasa, tidak ada yang bersuara, namun Xan terlihat cerewet seperti biasanya.


"Sayang, makan yang banyak buah, dan ini juga" Xan, meletakkan beberapa potongan buah ke atas piring Alena, membuat Alena kesal.


"Kak, Xan. Cukup, jangan tambah lagi, nanti bagaimana aku makan nya" gerutu Alena, yang lain hanya terkekeh melihat Alena yang kesal.

__ADS_1


Begitu semua selesai sarapan, Xan pun meminta Alena untuk pergi bersama ke Xael, meskipun Alena menolak, Xan berulang kali membujuk istri nya, dan akhirnya bujukan Xan berhasil juga, Alena segera masuk ke dalam mobil.


Al dan El berangkat bersama, karena hari ini El akan ikut Al ke bengkel las, sementara Leo, dia membawa mobil sendiri.


Sepanjang perjalanan, Alena hanya duduk diam, sembari memandangi ponsel yang ada di tangan nya.


"Kenapa kamu terus menatap ponsel, aku ada di sebelah mu,"


Alena langsung menoleh, dan memasang wajah cemberut nya.


"Aku merindukan Ria, sudah lama aku tidak melihat nya, entah bagaimana kabar Ria,"


"Benar kak?"


"Iya,"


"Terimakasih kak," Alena langsung memeluk suami nya dari samping, Xan hanya tersenyum melihat Alena yang begitu bahagia, saat Xan menyetujui nya untuk dia bertemu dengan Ria.

__ADS_1


Tak terasa, sopir berhenti tepat di depan perusahaan XAEL, membuat Alena tidak berani untuk turun.


"Kenapa malah bengong?"


"Kenapa berhenti nya disini, pak bisa masuk ke tempat parkiran saja enggak, saya akan turun disana!"


"Pak, parkiran CEO saja," sambung Xan,


"Baik, Tuan"


Barulah Alena merasa aman, setelah Xan meminta sopir untuk berhenti di parkiran. Tiba di tempat parkir, Alena segera turun dari mobil, setelah berpamitan dengan sang suami. Hari ini, Xan ada meeting di Fernandez, sehingga dia tidak singgah terlebih dulu di Xael.


Setelah Alena masuk ke dalam lift, Xan menghubungi Andra, supaya Andra bisa memantau keadaan Alena di kantor, dan mengabari Xan, setiap saat.


Tiba di lantai dua, dimana ruang Divisi milik Alena berada, disana sudah ada Yuni, manusia yang paling julid dan selalu menindas Alena.


Namun, ternyata Sarah, juga sudah tiba di kantor, Sarah langsung menyambut hangat kedatangan Alena.

__ADS_1


"Alena" panggil Sarah, Alena menoleh, Sarah langsung memeluk Alena, membuat Alena terkejut, begitu Sarah memeluk Alena, Sarah juga terkejut, seperti ia menekan sesuatu.


"Alena," seru Sarah, melepas pelukan nya, lalu memegang ke dua lengan Alena, dan menatap intens ke arah Alena.


__ADS_2