Pengasuh Keempat Tuan Muda Somplak

Pengasuh Keempat Tuan Muda Somplak
Part 56


__ADS_3

Alena melambaikan tangan nya ke arah Ria yang sudah masuk ke dalam mobil nya. Melihat cuaca yang sedikit mendung, Alena langsung mencari tempat duduk yang tak jauh dari restoran.


Dugh!


Tanpa sengaja Alena menabrak seseorang, membuat pria itu terjatuh, karena terlihat pria tersebut berjalan menggunakan tongkat nya.


"Tuan," beberapa pengawal pria itu, berjalan ke arah Alena, dan pria tua yang di tabrak Alena memberi sinyal tangan agar tidak menyakiti Alena.


"Pak, maaf saya tidak sengaja, apa anda baik- baik saja? mari saya bantu," tanpa bergeming, pria itu menatap Alena dengan seksama, ia melihat wajah Alena yang cantik dan teduh, bayangan masa lalu mulai berputar di ingatan pria itu.


Pria itu mengingat seorang wanita yang dulu selalu memberi ia pandangan teduh, dan wanita itu adalah istri nya.


"Pak, Pak!" panggil Alena, pria itu melamun sehingga Alena mengguncangkan sedikit tubuh Pria tua itu.


"Pak!" teriak Alena sedikit keras, sehingga mengejutkan nya yang sedang melamun.


"Ah, iya maaf." Pria tua itu menatap Alena, dan membuat Alena tidak nyaman.


"Siapa nama mu?" tanya Pria itu,


"Sa- saya?" Alena menunjukkan diri nya sendiri, pria tua itu tersenyum, dan menyuruh pengawal nya untuk menjauh dari Alena dan pria itu.


"Saya Alena. Bapak boleh manggil saya Alen, tapi sayang juga satu huruf nya tertinggal, lebih baik panggil saya Alena." ujar Alena, pria itu tersenyum tipis meskipun setipis tisu, senyuman itu justru membuat bawahan nya terkejut. Lantaran, bos mereka jarang tersenyum.

__ADS_1


"Dimana mobil bapak, biar saya antar ke mobil, mari saya bantu," Alena, langsung mengambil tongkat milik pria itu, dan membantu nya berjalan ke arah mobil.


"Saya tidak apa-apa, ini hanya luka kecil mungkin dua hari lagi akan sembuh,"


"Luka kecil, kalau di bawa jalan-jalan terus juga akan meradang, lama-lama jadi besar." ketus Alena, dan sedikit memarahi pria tua itu. Bukan nya marah, pria tua itu malah tersenyum, sudah lama sejak terakhir istri nya memberi perhatian kepada nya, pria itu tidak pernah lagi mendapatkan perhatian yang begitu tulus seperti saat dia dapatkan dari istri nya dulu.


Tiba di mobil mewah, seorang sopir langsung membuka pintu untuk bos nya. Disaat Alena ingin mengambil pulpen nya yang terjatuh, tanpa sengaja pria tua itu melihat tanda lahir yang ada di belakang leher Alena, meskipun hanya tanda hitam kecil, pria itu sangat jelas melihat nya.


Tit! Tit!


Terdengar suara klakson mobil Xan, dari jauh. Alena langsung menoleh dan melihat mobil Xan yang berada tak jauh dari restoran.


"Pak, maaf. Suami saya sudah menjemput nya" Alena pun segera berlari, tapi pria itu ingin bertanya sesuatu kepada Alena. Hanya saja Alena sudah lari lebih dulu, untuk menghampiri suami nya.


"Kenapa harus lari-lari? apa kamu lupa saat ini kamu tengah hamil?" tanya Xan, saat Alena sudah berada di dalam mobil.


"Maaf, sayang. " hanya itu yang Alena ucap, untuk menghilangkan amarah Xan, dan benar saja Xan berhenti marah, dan mengusap sayang pucuk kepala Alena.


Di sisi lain, ada pria tua tadi yang melihat Alena, masuk ke dalam mobil Xan, tapi pria itu tidak pernah tahu siapa suami Alena, karena kaca mobil tidak terlihat begitu jelas.


Disaat mobil Xan, sudah pergi meninggalkan tempat tersebut, beberapa pengawal pria itu pun mendekat.


"Tuan, mau berangkat sekarang?"

__ADS_1


"Eemmm, iya. Cari tahu, dimana mereka tinggal, dan siapa orang tua gadis itu?"


"Baik, akan saya hubungi Racko untuk mencari tahu semua informasi gadis itu,"


"Eemm" singkat Pria tua tersebut, pintu mobil tertutup setelah beberapa saat para pengawal masuk ke dalam mobil lain.


Tak berapa lama, mobil pria tua yang belum di ketahui identitas itu melesat pergi meninggalkan parkiran restoran.


Mobil Xan, memasuki halaman rumah Fernandez, terlihat Xan yang turun lebih dulu, dan baru membuka pintu mobil untuk istri nya itu.


Ternyata di teras sudah ada dokter Fino, yang sejak tadi menunggu mereka tiba. Xan, dan juga Alena yang langsung menghampiri dokter Fino, dan menyapa pria itu.


"Dok, udah lama?" tanya Alena.


"Baru saja," jawab dokter Fino, sembari tersenyum ke arah Alena. Xan, menyuruh Alena untuk masuk lebih dulu. Sementara Xan, ingin berbicara dengan dokter Fino.


Menunggu Alena masuk ke dalam rumah, baru lah Xan berbicara dengan dokter Fino, tentang Darmon Big.


"Aku dengar Darmon big, sudah tiba di Indonesia? "


"Benar, aku juga mengetahui hal itu dari Al. Dan aku sudah meminta El, untuk mencari keberadaan Darmon Big, karena mau bagaimana pun kita harus siap selalu disaat Darmon big yang datang tiba-tiba akan menyerang kita" tukas Xan, dokter Fino mengangguk dengan arti membenarkan ucapan Xan.


Hanya berbicara sekitar setengah jam, dan merasa sudah berada begitu lama di tempat itu dokter Fino pun berpamitan dengan Xan, dan segera berlalu dari rumah Fernandez.

__ADS_1


__ADS_2