
Jam makan siang telah tiba, Alena berserta karyawan lain pergi meninggalkan ruangan Divisi. Alena yang baru saja keluar dari ruangan Divisi di panggil oleh atasan nya yaitu Maya.
Alena, langsung menoleh dan melihat wanita itu menghampiri nya.
"Ini surat magang kamu, dan disini sudah ada nilai nya, kamu tinggal minta tanda tangan pak Xan saja," ujar Maya. Alena mengambil kertas yang ada di tangan Maya.
Sebelum Alena menyimpan nya, ia lebih dulu melihat nilai yang di berikan Maya, kenapa nya terlalu rendah.
"Bu, apa ini enggak terlalu rendah untuk magang saya?" tanya Alena dengan sopan.
"Kalau kamu tidak suka, sobek aja kertas nya!" ketus Maya, entah kenapa wanita ini menjadi tak suka terhadap Alena, padahal Alena tidak berbuat salah terhadap Maya.
"Bukan begitu Bu, seandainya nilai saya masih berkurang, tidak apa-apa, kalau saya harus menambah satu bulan lagi masa magang saya, Bu."
"Udah lah, terima saja, saya lagi sibuk." tukas Maya, dan berlalu pergi, Alena melihat kertas yang ada di tangan nya dengan raut wajah nya yang sedih. Apalagi dengan keadaan yang tengah hamil, Alena sangat sensitif.
__ADS_1
Tidak membiarkan air mata lolos begitu saja, Alena langsung menyimpan kertas tersebut, dan menyusul yang lain, yang sudah lebih dulu ke kantin.
Setelah melewati beberapa ruangan Divisi lain nya, Alena tiba di kantin, banyak karyawan yang sedang menikmati makan siang mereka.
"Alena, tolong ambilkan minum untuk saya!" titah Yuni, saat melihat Alena yang baru saja tiba di kantin. Merasa harus menghormati senior, Alena pun segera mengambil minuman untuk Yuni, dan meletakkan nya di depan Yuni.
Alena ingin duduk, tetapi semua tetap duduk terlihat penuh, tidak ada kursi yang kosong lagi.
"Alena kesini, kamu bisa duduk di samping disini!" Bima, memanggil Alena, dan berbagi tempat duduk untuk Alena.
"Terimakasih." ucap Alena, setelah ia menempati tempat duduk di sebelah Bima. Disana juga ada Sarah, yang saat ini sedang makan siang di kantin.
"Anak magang, aku menunggu kamar di ruangan!" tegas Yuni, dan hendak berlalu.
"Tapi, Kak. Aku belum selesai makan, biar aku habiskan mak...."
__ADS_1
"Disini kamu yang senior, atau aku?" ucap Yuni, sembari menunjuk ke arah diri nya sendiri, Alena menghela nafas nya, mau ngelawan tapi Alena sadar dia hanya karyawan magang.
"Tentu saja Kak Yuni. Tapi, setidaknya kakak biarkan aku makan terlebih dulu, aku juga merasa sangat lapar," ujar Alena, yang melanjutkan makan nya.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Yuni langsung mengguyur satu gelas minuman orange jus ke arah Alena, membuat karyawan lain, menoleh ke arah Alena dan Yuni.
Bima dan Sarah, ikut terkejut. " Yuni, apa yang kamu lakukan, kamu sudah keterlaluan!" bela Bima, Sarah ikut membantu Alena.
Karena merasa ditindas, Alena pun berdiri dan ingin melawan semua ucapan Yuni.
"Aah!" teriak Yuni, disaat Alena membalas mengguyur Yuni dengan segelas minuman mocca latte milik Bima.
"Apa-apaan kamu ini, kamu sengaja, Haah?"
"Kakak yang lebih dulu menyiram aku dengan segelas jus, " ketus Alena, yang sudah hilang rasa sabar nya.
__ADS_1
"Apa -apaan ini?"
Semua orang menoleh, melihat ke arah sumber suara, termasuk Sarah dan Bima juga ikut melihat ke arah sumber suara tersebut.