Pengasuh Keempat Tuan Muda Somplak

Pengasuh Keempat Tuan Muda Somplak
Rumah sakit


__ADS_3

Albarak, Aisyah, dan juga Xan, baru saja tiba di rumah sakit, kebetulan yang menangani pasien adalah Leo.


Leo, keluar dari ruang operasi. Dan melihat Xan ada disana, Leo menghampiri nya.


"Kak, kenapa kau disini? apa sesuatu terjadi?" tanya Leo,


"Apa kau yang menangani pasien kecelakaan yang baru saja masuk satu jam yang lalu?" tanya Xan, Leo mengangguk nya, terlihat raut wajah Leo yang begitu lesu.


"Apa yang terjadi? apa mereka baik-baik saja?" tanya Xan.


"Iya, istri nya baik-baik saja, hanya luka ringan di bagian kepala dan wajah, tapi suami nya meninggal karena benturan sangat keras pada organ vital" ujar Leo, Aisyah syok mendengar itu.


"Mas...!" lirih Aisyah, bagaimana pun Aisyah takut disalah 'kan oleh orang di sekitar, karena meninggal nya orang itu ada kaitan nya dengan Albarak.


Albarak, langsung memeluk Aisyah, mau bagaimana pun dia sadar akan kondisi Aisyah, saat ini.


"Apa yang terjadi ?" tanya Leo, yang belum mengerti dengan keadaan di depan.


Xan pun mulai menceritakan tentang kejadian yang sebenarnya, juga termasuk siapa Al dan Aisyah yang sebenar nya.


Leo, segera memberi salam untuk Al dan Aisyah, mau bagaimana pun Aisyah dan Al, seusia papa mereka.


Tap...Tap...Tap...Tap...


Suara langkah kaki seseorang yang berlari ke arah mereka, Xan dan yang lain menoleh bersama melihat ke arah pria berpakaian santai.


"Dok, dimana ruangan pasien yang baru saja masuk kesini, karena kecelakaan mobil?" tanya Pria itu, Leo langsung membawa nya masuk ke dalam ruangan tersebut.


"Mama..." pria itu, mendekat melihat luka di wajah ibunya dan juga di kepala.


"Ma, dimana Papa?" tanya Pria itu, Wanita yang di panggil Mama, malah diam. Dan, tak menjawab jawaban anak nya. Tapi, Leo tau apa yang sedang ingin pria itu ketahui.


"Saya rasa Papa anda ada di sebelah sana" ujar Leo,memperlihatkan sebuah tirai pembatas yang ada di dalam ruangan tersebut.


"Fairuz...!" panggil wanita tua tersebut, saat mengetahui sang anak akan pergi untuk melihat suami nya.


"Mama, apa yang ingin mama katakan?" Fairuz kembali, dan kini menggenggam tangan wanita tersebut.


"Apapun yang terjadi, ini sudah takdir" ucapan Wanita itu, Fairuz membulatkan mata nya lalu, melepaskan genggaman tangan sang ibu.


Dua orang perawat laki-laki masuk ke dalam ruangan tersebut, dan menarik ranjang pasien milik Haris Hutama, Sang Ayah Fairuz yang baru saja menghembuskan nafas terakhir nya.


"Mau di bawa kemana Papa saya" tanya Fairuz, menghentikan perawat tersebut.


"Akan akan mengantar jenazah ke rumah duka, sesuai yang di minta Nyonya Marlina"


"Aku akan membawa nya bersama, dok tolong siap 'kan kursi roda untuk Mama saya. Setelah ini saya akan mengurus biaya rumah sakit"


Tiba di luar ruangan, mereka bertemu lagi dengan Albarak dan Aisyah.


"Untuk biaya nya sudah di tanggung oleh Tuan Al dan Nyonya Aisyah" pungkas Leo, sembari membawa kertas yang ada di tangan nya.


Fairuz mengambil kertas di tangan Leo, dan berjalan ke arah Al dan Aisyah.


"Untuk apa ini? ini semua tidak akan mengembalikan papa saya, anda tidak perlu melakukan ini. Jika anda merasa bersalah, Anda hanya perlu mencekam di penjara, saya tidak butuh belas kasian anda!" tegas Fairuz, dan melemparkan kertas tersebut ke wajah Al.


"Kamu!" Xan, ingin maju. Namun, Al melarang nya.


Fairuz membawa Marlina keluar dari ruangan tersebut, dan melewati tempat dimana Al dan Aisyah berdiri.


"Bu...!" panggil Aisyah, Marlina menyuruh Fairuz untuk berhenti.


"Bu, maafkan saya dan suami saya, kami tidak melakukan nya dengan sengaja, dan ini hanya kecelakaan!" pungkas Aisyah, berjongkok di depan Marlina, wanita tua ini hanya diam, terlihat Marlina dan Aisyah seperti seumuran.


"Fairuz ayo kita pulang, Papa sudah menunggu kita" ucap Marlina, dengan meneteskan air mata nya.


Al membantu Aisyah untuk berdiri, dan menenangkan sang istri agar tidak memikirkan hal itu lagi.


Di lorong rumah sakit, Fairuz melihat Haris yang sudah di masukan ke dalam mobil ambulance.


"Kenapa mereka bisa lolos dari hukum Ma?" tanya Fairuz yang tidak dapat menahan diri lagi.


"Karena mereka lebih kaya dari kita, Kita hanya pengusaha biasa, apalagi saat ini Papa mu sudah tiada, apapun bisa terjadi ke depan nya" ujar Marlina.


"Ma, aku berjanji, aku akan berjuang lebih keras lagi, aku akan mengambil alih perusahaan Papa. Dan aku berjanji siapapun mereka aku akan membalas nya di lain kesempatan " Fairuz terlihat begitu menyimpan dendam.


"Kartika!" gumam Fairuz saat melihat wanita itu, berjalan ke arah Fairuz.


"Tante, Tika turut berduka cita, tapi Tika mau bilang, Tika tidak bisa melanjutkan pertunangan ini dengan Fairuz" wanita itu melepaskan cincin yang ada di jari nya, lalu memberikan itu kepada Marlina.


"Tika, apa maksud mu, kau tidak boleh melakukan itu" pintu Fairuz.


"Maaf, Fairuz!" tanpa menoleh ke belakang, wanita itu pergi meninggal Fairuz dalam keadaan duka.


Pria ini benar-benar menyimpan dendam yang begitu dalam. Dan hari ini adalah hari sial bagi nya.


Di tempat lain, Xan dan Al sedang mengurus semua biaya rumah sakit.


"Tidak masalah, kami akan membantu anda. Seperti nya anda perlu beristirahat, kita akan membahas hal penting ini besok pagi saja" saran Xan.


"Benar, kami butuh istirahat, seperti nya istri saya cukup syok. Dan maaf, bila merepotkan Anda semua "

__ADS_1


"Tidak masalah"


Albarak dan Aisyah, berpamitan kepada Xan. Setelah Al dan Aisyah pergi, Xan pun mengajak Fino untuk pergi ke perusahaan XAEL, dengan membawa semua perlengkapan medis nya.


"Di rumah lengkap alat medis, kenapa harus membawa ini bersama?" tanya Xan, begitu sampai di mobil.


"Ini milik saya sendiri Tuan, dan lebih mudah di gunakan !"


"Eeemmm.."


Fino dan Xan, masuk ke dalam mobil, dan Fino mengambil alih kemudi.


Di tempat lain, seperti biasa, Alena masih sibuk, mengerjakan perkejaan yang di berikan oleh Yuni kepada nya. Semenjak Alena bekerja di XAEL, Yuni malah bermalas-malasan.


"Alena, kami pamit pulang lebih dulu" Sarah, baru saja berdiri dari tempat duduk nya, dan begitu juga dengan Bima.


"Hati-hati Kak"


"Kamu juga, jika sudah selesai cepat lah kembali"


"Siap Kak"


Sarah dan Bima pun pergi meninggalkan ruangan tersebut, kini hanya tinggal Alena sendiri yang berada di dalam ruangan Divisi. Sementara, semua karyawan sudah pulang.


Selama Alena kerja di XAEL, hampir setiap malam dia lembur, bahkan pekerjaan Yuni juga Alena yang mengerjakan nya.


Satu jam berlalu....


Alena melihat jam di tangan nya, sudah menunjukkan pukul enam sore, dan Alena sedang membereskan barang - barang nya .


"Tinggal ini saja yang belum di copy" gumam Alena, mengambil berkas di atas meja, lalu bergegas pergi menuju lantai dimana ruang foto copy berada.


Dan benar saja, seluruh tempat tersebut terlihat sangat sepi, dan mungkin semua karywan sudah pulang, hanya tersisa Alena saja di dalam sini, sedangkan satpam berada di lobi.


Xan, mengirim pesan untuk Alena, dan memberitahu sang istri bahwa diri nya akan menjemput Alena saat dia pulang dari rumah sakit.


Tiba di depan ruangan foto copy, terlihat lampu nya masih menyala, berarti ada orang lain, di lantai tersebut selain Alena. Karena ingin segera pulang, Alena pun bergegas memfoto copy berkas yang ada di tangan nya.


Sembari menunggu, Alena membuka ponsel nya, dan melihat pesan dari Xan, Alena juga membalas, mengabari sang suami kalau dia sedang menyelesaikan pekerjaan terakhirnya di ruang foto copy.


"Sendiri saja sayang?" seru seseorang yang baru saja datang ke ruang foto copy, dan mengejutkan Alena, sehingga ponsel di tangan nya terjatuh.


Klatang..!


"Pak, An-to!" gumam Alena, saat melihat pria mesum yang kemarin sempat menganggu nya.


"Kenapa terkejut, aku bukan setan Lo. Tapi, ngomong - ngomong disini, hanya ada kita berdua, sungguh sangat romantis!" tukas pria itu, yang berjalan masuk ke dalam ruangan foto copy.


"Apa mau pak Anto?" Alena terlihat lebih tenang, agar tidak membuat pria itu senang.


Di saat Alena ingin mengambil ponsel nya, Anto malah menendang ponsel Alena, dan sedikit menjauh dari posisi Alena berdiri.


"Tolong jangan ganggu saya, saya sedang tidak ingin berdebat!" Alena langsung melewati Anto, namun pria itu nama menarik lengan Alena.


"Lepas!" titah Alena, dan sedikit merasa jijik saat melihat raut wajah Anto yang begitu mesum.


"Hanya satu jam, aku yakin aku tidak kalah hebat dari Bos, mumpung hari ini Bos tidak disini, bukan kah, ini kesempatan kita?"


Dugh!


"Aaaggrh!" pria itu, mengerang kesakitan saat Alena menendang junior nya. Karena merasa diri nya dalam bahaya Alena pun bergegas pergi meninggalkan tempat itu, dan bahkan ia meninggalkan ponsel nya yang terjatuh.


"Sialan! tunggu saja kalau aku bisa mendapatkan mu, aku tidak akan memberikan ampun untuk Mu" teriak pria itu, yang berusaha mengejar Alena.


Alena sudah berusaha untuk lari sekuat tenaga nya, namun ia merasa jika bagian perut bawah nya tiba-tiba sakit. Dan membuat Alena berhenti sebentar.


"******! tunggu kau disana, aku akan mendapati mu!" teriak pria itu, melihat Anto yang berlari ke arah nya, Alena seger la pergi dan mencari lift.


Namun, sial nya lift sudah mati, tidak dapat di gunakan, satpam telah mematikan nya, karena berpikir semua karyawan sudah pulang.


"Ha Ha Ha, kau tidak akan bisa kabur lagi"


Mau tidak mau, Alena harus mencari tangga darurat, untuk pergi dari sana. Dengan tangan yang memegang perut nya yang sakit, Alena mencoba menuruni satu persatu anak tangga, Anto sudah tiba di tangga darurat, dan mulai mengejar Alena.


Ponsel Alena yang tertinggal di ruangan foto copy, terus menerus berdering, dan panggilan itu berasal dari Xan.


Alena baru saja turun dari lantai dua dengan menggunakan anak tangga, sakit di perut nya semakin membuat Alena tidak dapat menahan nya.


Karena tubuh nya sudah sangat lelah, sehingga Alena tidak dapat mengimbangi tubuh nya, sehingga dua anak tangga terlewati oleh Alena, membuat diri nya terjatuh.


"Aaaahh!" teriak Alena, dan tubuh nya melayang ke lantai.


"Dugh!"


Untung saja Alena menahan nya dengan lutut, tapi dia tidak bisa bangun, karena lutut nya terasa begitu sakit, dan bahkan kaki nya tidak dapat bergerak, seperti terkilir.


" Mau kemana kamu sayang" ucap Anto, yang hampir tiba di depan Alena.


Tap...


Tap...

__ADS_1


Tap...


Anto menuruni satu persatu anak tangga, mereka sudah tiba di koridor lantai satu, dan terlihat disana sedikit gelap, hampir seluruh lampu di mati 'kan hanya tersisa lampu kecil untuk cahaya di sekitar koridor


"Aagrrhh" teriak Alena, saat Anto menjambak rambut Alena.


"Kau berani menendang pusaka ku, apa kau ingin mati? tapi sebelum kau mati, aku ingin bersenang -senang dulu dengan mu" ujar Anto, tangan satu nya menarik rambut Alena, dan yang satu nya menyentuh wajah Alena.


"Cuih ! najis!" Alena meludahi wajah Anton.


"Lepaskan aku bajingan!" teriak Alena, kaki nya begitu sakit, sehingga ia tidak dapat berdiri, tenaga Anto lebih kuat dari Alena, sehingga membuat Alena tidak salah menghindar.


Plak!


"Kau berani meludahi wajah tampan ku, Haah?" Anton menampar Alena, tapi tidak membuat Alena meringis memohon karena sakit, dia menatap Pria itu dengan nyalang, dan ingin sekali membunuh nya.


"Lepas!" titah Alena, Anton tidak melepaskan tangan nya di rambut Alena, sehingga membuat kulit kepala Alena sakit.


Namun, tiba-tiba Alena merasakan sakit yang luar biasa di perut nya. Anton menyeret Alena, menuju ruangan tunggu yang ada di lobi, Alena masih memberontak agar tangan Anton terlepas di rambut nya.


Di saat Alena melihat sapu yang tergeletak di sana dia secepat kilat meraih sapu itu, disaat diri nya sedang diseret oleh Anton.


Dug...Dug...


"Aah!"


Alena memukul Anton dua kali, sehingga tangan pria itu terlepas di kepala Alena. Disaat Anton merasakan sakit di bagian kaki nya, Alena berusaha untuk kabur dari tempat itu, namun sekuat apapun Alena berusaha, dia tetap tidak bisa lari jauh. Karena, kaki nya terkilir.


"Kau mau lari kemana, aku tidak akan melepaskan mu!" tegas Anton, yang berjalan sembari berkacak pinggang ke arah Alena yang mengesot.


Alena baru sadar, ada darah yang membasahi paha nya, darah itu berasal dari daerah kewanitaan nya. Dan dia merasakan nyeri yang luar biasa dari perut nya.


"Aaaggrrhhhh!" teriak Alena sekuat nya, saat merasakan perut nya begitu sakit.


"Darah? " gumam Anton, yang melihat darah di lantai.


"Heeh, Kau ******, sudah tidur dengan Bos? sampai kau hamil? tidak masalah, jika kau akan menemani ku malam ini" terlihat Anton yang tidak ingin melepaskan Alena, meskipun wanita itu, dalam keadaan yang begitu menderita.


Anton mengulurkan tangan nya untuk meraih lengan Alena, dan pria ini sedikit berjongkok.


Duuaaakkkkhhh!


Xan dari jauh berlari dan menendang Anton hingga terjatuh.


Dugh!


Anton terhempas jauh dari tempat semula dia berdiri, tenaga Xan saat menendang Anton cukup kuat, mantan militer tentu saja tenaga nya bukan tenaga biasa.


Klik!


Klik!


Seluruh lampu di dekat lobi menyala, dan yang menyala 'kan itu adalah Satpam. Disana juga ada Fino, yang ingin membantu Alena.


"Sialan, siapa yang menyuruh mu untuk menyentuh istri ku, Haah?" teriak Xan, mencengkram kuat kerah kemeja Anton.


"Is- istri?" gumam Anton sedikit gemetar.


"Yah, dia istri ku!" teriak Xan, dengan netra yang memerah, dan raut wajah yang begitu bringas, seakan-akan dia ingin menerkam Anton hidup-hidup.


Dugh!


Dugh!


Dugh!


Xan, menghajar habis-habisan Wajah Anton sekuat tenaga nya, tidak membiarkan pria itu bernafas walau hanya sebentar.


"Tuan Xan, biarkan satpam yang mengurus nya, kita perlu membawa Nyonya muda ke rumah sakit, dia mengalami pendaran!" teriak Fino, Xan menoleh ke arah Alena yang menahan rasa sakit.


Duaaakkhh!


Duaakkhh!


Sebelum pergi, Xan menendang Anton dua kali lagi, baru lah Xan menyerahkan Anton kepada satpam.


"Pak, serahkan dia kepada pengawal saya, sebentar lagi mereka akan tiba" tegas Xan, saat melihat Anton yang tergeletak di lantai, dengan wajah yang sudah babak belur.


"Baik Tuan"


Xan, langsung menghampiri Alena.


"Sayang, yang mana yang sakit?" Xan, membatu Alena, dan mengendong nya.


"Kak Xan, perut ku sakit" lirih Alena yang menahan rasa sakit.


"Kita akan ke rumah saki!" Xan langsung membawa Alena salam gendongan nya. Fino membantu membuka pintu mobil, saat mereka sudah keluar dari lobi, dan mengambil alih kemudi.


Sepanjang jalan Alena hanya mengeluh sakit, dan membuat Xan tidak berhenti berteriak di dalam mobi.


"Lebih cepat lagi, apa dokter tidak lihat, kalau istri ku kesakitan!" teriak Xan, Alena mencengkram kuat lengan Xan, saat rasa sakit semakin menyerang seluruh tubuh nya.

__ADS_1


Dokter Fino, menaikan kecepatan laju mobil, saat melihat kondisi Alena yang semakin memburuk.


Maaf kalau ada typo ✌️


__ADS_2