Pengasuh Keempat Tuan Muda Somplak

Pengasuh Keempat Tuan Muda Somplak
Kritis


__ADS_3

Xan menunggu dengan cemas di depan ruangan pemeriksaan. Dari jauh, terlihat Al dan El yang berlari ke arah Xan.


Tap... Tap... Tap... Tap...


"Apa yang terjadi, kenapa Alena bisa masuk rumah sakit?" tanya El, dengan nafas yang masih tidak beraturan.


"Bagaimana kondisi?" lanjut Al. Tapi, Xan masih malas untuk merespon pertanyaan dari dua adik nya.


Di dalam ruangan ada Fino dan Leo, yang sedang menanggapi Alena.


"Kak Xan, jangan diam. Katakan sesuatu!" bentak Al, yang tidak mendapat 'kan jawaban dari pertanyaan nya.


"Jika sesuatu terjadi dengan kandungan Alena, ku pastikan pria itu, tidak dapat melihat dunia lagi!" ucap Xan, Al dan El terkejut serentak.


"Apa? Alena hamil?" seru Al dan El bersama. Xan, kembali diam dan tidak menjawab.


Drrrt ...


Drrrt...


"Katakan!" Xan, meletakkan ponsel di telinga nya, Al dan El menatap secara bergantian.


"Patah 'kan tangan dan kaki nya. Serta benda paling berharga di tubuh nya" titah Xan, dengan ekspresi yang sangat sulit di artikan.


[Apa yang Bos maksud adalah benda ...]


"Ya, jadikan itu makanan phiton!" tegas Xan, Al dan El menaikan ke dua bahu mereka, dan menatap ngeri ke arah Xan, saat mendengar nama phiton.


Panggilan di putuskan sepihak oleh Xan, lalu Xan menatap Al dan El secara bersama.


"Kenapa aku tidak pernah menyadari ada sampah seperti itu di XAEL?" Xan menatap lekat ke arah El. El tahu, saat ini Xan benar-benar marah, apalagi saat mengetahui hal buruk terjadi kepada istri nya.


Mode prajurit militer yang ada dalam diri Xan, kembali bangkit.

__ADS_1


Ceklek !


Orang pertama yang menghampiri Fino adalah Xan, saat pintu ruangan tersebut terbuka, dan disusul oleh Al dan El.


Fino membuka masker nya, dan menatap lega ke arah Xan.


"Nyonya muda sudah melewati masa kritis, dan kita harus bersyukur, bayi nya masih selamat, usia kandungannya kini masuk di bulan ke dua" ujar Fino. Terlihat Xan, yang menengadah ke dua tangan nya sembari berucap syukur.


"Kapan aku bisa melihat nya?"


"Sekarang juga bisa, namun hanya di perbolehkan satu orang saja" jawab Fino, Al dan El mengerti maksud Fino. Mereka mengalah, karena saat ini yang di butuhkan Alena, suami nya.


Setelah memakai pakaian medis, baru lah Xan masuk ke dalam ruangan ICU. Terlihat Leo, menunggu di samping Alena. Pria ini memang yang paling dekat dengan Alena, begitu mengetahui terjadi sesuatu sama Alena, dia tidak bisa menghentikan diri nya yang mengkhawatirkan Alena.


"Bagaimana keadaan?" tanya Xan, Leo menoleh, melihat sang Kakak yang berjalan ke arah ranjang pasien.


"Seperti yang Kakak lihat, selain luka fisik, mungkin dia akan mengalami trauma kecil pada mental nya. Untuk sementara, disaat Kak ipar siuman, jangan pernah menanyakan apapun yang berhubungan dengan kejadian ini, aku takut, Kak ipar akan tertekan"


"Nih!" Leo, memberikan hasil USG milik Alena, Xan melihat nya, lalu mengambil benda itu di tangan Leo.


"Jaga baik - baik calon ponakan kami, jangan biar 'kan dia pergi sebelum lahir ke dunia, apapun yang terjadi hari ini mungkin teguran untuk Kakak agar lebih menjaga nya lagi. Jangan sampai kakak gagal ke dua kali!" pungkas Leo, lalu berpamitan keluar, karena Leo tahu, saat ini Al dan El pasti menunggu nya.


Xan, menatap foto yang ada di tangan nya, hasil USG milik Alena, meskipun bentuk belum begitu jelas, gambar tersebut mampu membuat Xan tersenyum beriringan dengan air mata yang menetes.


"Sayang, lihat lah. Ini calon baby kita, bangun lah. Kamu masih harus berjuang untuk mempertahan 'kan nya. Kita akan sama-sama merawat nya, aku berjanji jika kamu siuman dan kembali aku tidak akan membiarkan peristiwa ini terulang kembali" Xan menggenggam tangan Alena, yang masih betah berada di alam mimpi nya. Mungkin ini untuk pengaruh obat yang baru saja di suntik Fino, agar pasien dapat beristirahat.


Tak lama kemudian, Xan keluar dari ruangan tersebut. Dan mendapati Al dan El serta Leo masih menunggu nya di luar.


"Alena masih tidur, kalian berdua besok saja datang untuk melihat nya" ujar Xan.


"Hari ini siapa yang akan menunggu nya?" tanya Al.


"Aku yang akan menjaga nya, minta Andra untuk mengirim beberapa orang berjaga disini" titah Xan. Al bingung, kenapa harus berjaga, bukan kah ini terlalu berlebihan.

__ADS_1


"Kak!" panggil Al,


"Eeemmm" Xan berdehem sembari mengangguk, Al mengerti kode yang di berikan Xan, berarti musuh sudah mulai berkeliaran di sekitar mereka.


"Leo, perintahkan beberapa perawat untuk menjaga nya, Kakak harus pergi sebentar untuk mengurus masalah ini"


"Aku akan menjaga nya disini, dan meminta perawat wanita untuk menemani ku" tukas Leo, Xan menyetujui nya.


Begitu Leo pergi, Al pun kembali bertanya untuk membenarkan tebakan nya.


"Kapan Darmon mulai menyerang Kakak?" tanya Al,


"Pagi tadi, ku melihat bingkisan teh Jepang yang dia kirimkan ke Fernandez, aku tahu itu dari Darmon, dan saat ini dia pasti sudah mendapatakan beberapa informasi mengenai kita" ungkap Xan.


"Jangan cemas!"


Mereka menoleh, saat mendengar suara seseorang yang berbicara dengan mereka.


"Darmon, tidak akan berani menampakkan diri nya di depan kita, paling dia akan menyerang yang paling lemah di antara musuh nya. Yang harus kalian awasi selalu adalah Leo dan Alena. Jangan biarkan status Alena di ketahui karyawan XAEL, dan orang lain, itu akan membuat Alena dalam bahaya"


"Bagaimana dengan Leo dok?"


"Kalian tidak perlu khawatir, Tuan Arga sudah menghapus semua data pribadi kalian, tidak akan ada orang yang bisa mencari tahu tentang pewaris Fernandez selain Xan. Mereka hanya tahu Xan, karena saat ini Xan memimpin Fernandez. Satu lagi, jangan sampai Darmon mengecoh kalian dengan masalah kecil. Karena pria itu lebih senang mempermainkan musuh nya sebelum dia benar-benar menyerang kalian semua" tegas Fino, Al melihat dokter Fino dengan intens.


"Kenapa kau menatap ku Tuan muda?"


"Heeh, Aku sekarang mengerti, kenapa Papa selalu berpihak kepada dokter Fino, karena dokter Fino dapat di andal 'kan!" ujar Al, bangga kepada dokter pribadi mereka.


"Tuan Xan, minta Andra untuk menghapus semua cctv yang merekam kejadian Nyonya Muda, biar 'kan kita menyimpan nya di flashdisk, jangan biarkan orang lain tahu siapa Nyonya muda, karena saat ini kita belum bisa yakin jika kondisi nya akan baik-baik saja, jika kita umum 'kan status nya. Aku khawatir sesuatu akan terjadi " ungkap Fino.


"Aku sudah melakukan itu. Besok aku ada pertemuan dengan Tuan Albarak, hari ini membuat aku sangat lelah, aku harus kembali ke rumah untuk mengambil file penting" Xan, berlalu dari hadapan mereka semua.


Al dan El untuk sementara berjaga di depan ruangan Alena, sembari menunggu Xan datang kembali ke rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2